alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Sudah 179 Orang Terjaring, Dendanya Berkisar Rp 5.000-Rp 60.000

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Kepatuhan masyarakat terhadap protokoler kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 di Kota Pasuruan, perlu terus dipupuk. Sejauh ini masih banyak yang abai. Selama empat hari operasi yustisi, Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan, menjaring 179 orang. Rata-rata tidak memakai masker.

Kepala Satpol PP Kota Pasuruan Muhammad Nur Fadholi mengatakan, operasi yustisi dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 selama empat hari. Mulai Senin–Kamis (19–22/7). Hasilnya, ada 179 orang yang melanggar prokes. Mulai dari pemilik usaha hingga perorangan.

“Pelaksanaan operasi yustisi hanya dilakukan empat hari. Sebab, Wali Kota Gus Ipul inginnya penegakan prokes dilakukan secara humanis. Bukan sekadar denda atau penutupan tempat usaha, tapi bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat,” ungkapnya.

Fadholi menjelaskan, dari ratusan orang yang terjaring itu, delapan orang di antaranya merupakan pemilik tempat usaha makanan. Mereka kedapatan melayani makan dan minum di tempat. Aturannya, tempat hanya boleh melayani dengan cara dibungkus.

Sementara, sisanya atau 171 pelanggar adalah perorangan. Mereka terjaring karena tidak menggunakan masker. Mereka langsung dikenakan tindak pidana ringan (tipiring) dengan disidang di tempat.

Pelanggar dikenakan denda bervariasi. Antara Rp 5.000 sampai Rp 60.000. “Paling tinggi itu ada pemilik usaha. Dikenakan denda Rp 60.000, karena terbukti melayani makan dan minum di tempat. Serta membiarkan kerumunan dan ada yang tidak pakai masker,” jelasnya. (riz/rud)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Kepatuhan masyarakat terhadap protokoler kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 di Kota Pasuruan, perlu terus dipupuk. Sejauh ini masih banyak yang abai. Selama empat hari operasi yustisi, Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan, menjaring 179 orang. Rata-rata tidak memakai masker.

Kepala Satpol PP Kota Pasuruan Muhammad Nur Fadholi mengatakan, operasi yustisi dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 selama empat hari. Mulai Senin–Kamis (19–22/7). Hasilnya, ada 179 orang yang melanggar prokes. Mulai dari pemilik usaha hingga perorangan.

“Pelaksanaan operasi yustisi hanya dilakukan empat hari. Sebab, Wali Kota Gus Ipul inginnya penegakan prokes dilakukan secara humanis. Bukan sekadar denda atau penutupan tempat usaha, tapi bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat,” ungkapnya.

Fadholi menjelaskan, dari ratusan orang yang terjaring itu, delapan orang di antaranya merupakan pemilik tempat usaha makanan. Mereka kedapatan melayani makan dan minum di tempat. Aturannya, tempat hanya boleh melayani dengan cara dibungkus.

Sementara, sisanya atau 171 pelanggar adalah perorangan. Mereka terjaring karena tidak menggunakan masker. Mereka langsung dikenakan tindak pidana ringan (tipiring) dengan disidang di tempat.

Pelanggar dikenakan denda bervariasi. Antara Rp 5.000 sampai Rp 60.000. “Paling tinggi itu ada pemilik usaha. Dikenakan denda Rp 60.000, karena terbukti melayani makan dan minum di tempat. Serta membiarkan kerumunan dan ada yang tidak pakai masker,” jelasnya. (riz/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/