alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Nelayan di Kota Pasuruan Siasati Melaut saat Air Surut

PASURUAN, Radar Bromo – Air laut yang mengalami pasang beberapa kali mengakibatkan banjir rob di kawasan pesisir. Meski begitu, nelayan Kota Pasuruan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka hanya menyiasati ketika air laut tengah surut baru melaut.

Salah satu nelayan asal Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, M Tohir mengaku, dia dan nelayan lainnya tetap melaut. Hanya saja, dia harus jeli mengamati pasang surut air laut. “Tetap melaut, kalau surut dan aman baru berangkat. Cuma memang tiap Jumat memang tetap libur, tradisi sudah sejak lama,” kata Tohir.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pasuruan Ihsan mengatakan, para nelayan memang lebih jeli dalam melihat pasang surutnya air laut. Sebab mereka sudah terbiasa. Karena itu, nelayan tetap beraktivitas selama air laut tengah surut. Dengan begitu, kondisi lebih aman bagi mereka.

“Atau biasanya juga menyiasati berangkat melaut sebelum air laut pasang. Karena banjir rob itu bersamaan dengan air laut pasang. Ketika air laut itu surut maka banjir rob itu akan ikut surut,” kata Ihsan.

Dia menyebut banjir rob memang fenomena yang biasa terjadi. Menyusul dengan fase bulan purnama. Namun bagi nelayan, fenomena tersebut tidak begitu berpengaruh. Yang terpenting bagi mereka adalah angin dan ombak tidak besar. “Ketika angin dan ombak masih bisa bersahabat, nelayan aman melaut,” bebernya.

Beberapa waktu terakhir, banjir rob melanda kawasan permukiman di pesisir. Banjir rob terjadi lantaran memasuki fase bulan purnama yang bersamaan dengan perigee. Yakni posisi bulan yang berada pada jarak terdekat dengan bumi. Sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan ketinggian air laut pasang.

PASURUAN, Radar Bromo – Air laut yang mengalami pasang beberapa kali mengakibatkan banjir rob di kawasan pesisir. Meski begitu, nelayan Kota Pasuruan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka hanya menyiasati ketika air laut tengah surut baru melaut.

Salah satu nelayan asal Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, M Tohir mengaku, dia dan nelayan lainnya tetap melaut. Hanya saja, dia harus jeli mengamati pasang surut air laut. “Tetap melaut, kalau surut dan aman baru berangkat. Cuma memang tiap Jumat memang tetap libur, tradisi sudah sejak lama,” kata Tohir.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pasuruan Ihsan mengatakan, para nelayan memang lebih jeli dalam melihat pasang surutnya air laut. Sebab mereka sudah terbiasa. Karena itu, nelayan tetap beraktivitas selama air laut tengah surut. Dengan begitu, kondisi lebih aman bagi mereka.

“Atau biasanya juga menyiasati berangkat melaut sebelum air laut pasang. Karena banjir rob itu bersamaan dengan air laut pasang. Ketika air laut itu surut maka banjir rob itu akan ikut surut,” kata Ihsan.

Dia menyebut banjir rob memang fenomena yang biasa terjadi. Menyusul dengan fase bulan purnama. Namun bagi nelayan, fenomena tersebut tidak begitu berpengaruh. Yang terpenting bagi mereka adalah angin dan ombak tidak besar. “Ketika angin dan ombak masih bisa bersahabat, nelayan aman melaut,” bebernya.

Beberapa waktu terakhir, banjir rob melanda kawasan permukiman di pesisir. Banjir rob terjadi lantaran memasuki fase bulan purnama yang bersamaan dengan perigee. Yakni posisi bulan yang berada pada jarak terdekat dengan bumi. Sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan ketinggian air laut pasang.

MOST READ

BERITA TERBARU

/