alexametrics
30.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Dari Ribuan Kurban, Dinas Temukan Cacing Hati dan Tak Layak Konsumsi

PASURUAN, Radar Bromo ­- Perlu ketelitian dan ketegasan. Petugas Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan terus mengawasi penyembelihan hewan kurban di berbagai lokasi. Beberapa sapi ditemukan terkena cacing hati. Tidak boleh dikonsumsi.

Hingga Rabu (21/7), dinas mencatat ada 2.417 ekor sapi, 6.493 ekor kambing, dan 1.784 ekor domba untuk kurban pada Idul Adha tahun ini. Sebagian besar disembelih pada hari H Idul Adha, yakni Selasa (20/7).

Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan Diana Lukita Rahayu mengatakan, pengecekan post mortem hewan kurban bertujuan memastikan daging hewan steril dan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Pengecekan post mortem ini merupakan lanjutan.

”Sebelumnya, kami melakukan pengecekan antimortem. Ada 132 titik penjualan hewan yang kami cek,” katanya. Tujuannya, memastikan hewan kurban sehat sebelum disembelih.

Saat pemotongan pun, petugas turun ke lokasi. Ada 1.469 titik pemotongan yang dipantau. Baik rumah potong hewan, pondok pesantren, masjid, dan sebagainya. Satu per satu hasil pemotongan diperiksa. Apakah mengandung penyakit atau tidak. Ada beberapa hati hewan kurban yang terserang penyakit.

”Hasilnya, ditemukan beberapa kasus cacing hati. Yang itu tidak untuk dikonsumsi,” tuturnya.

Selain cacing hati, ditemukan juga beberapa penyakit lain. Seperti pneumonia, scabies, dan sakit mata. Jerohan yang kena cacing hati dan pneumonia tidak boleh dikonsumsi. Harus dimusnahkan.

Petugas langsung menyampaikan ke pemilik hewan bila menemui kasus tersebut. Scabies merupakan penyakit kulit yang menyerang hewan. Namun, bagian kulit biasanya tidak dikonsumsi. ”Kalau untuk sakit mata sebelumnya dikasih obat mata. Biasanya itu karena faktor transportasi,” terangnya.

Dalam pengecekan penyembelihan hewan kurban ini, Dinas Peternakan menerjunkan 125 petugas. Mereka adalah dokter hewan, petugas teknis, petugas inseminiasi buatan, petugas RPH, petugas penyuluh lapangan.

”Kami juga mengawasi prokesnya. Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19,” tambah Diana. (sid/far)

PASURUAN, Radar Bromo ­- Perlu ketelitian dan ketegasan. Petugas Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan terus mengawasi penyembelihan hewan kurban di berbagai lokasi. Beberapa sapi ditemukan terkena cacing hati. Tidak boleh dikonsumsi.

Hingga Rabu (21/7), dinas mencatat ada 2.417 ekor sapi, 6.493 ekor kambing, dan 1.784 ekor domba untuk kurban pada Idul Adha tahun ini. Sebagian besar disembelih pada hari H Idul Adha, yakni Selasa (20/7).

Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan Diana Lukita Rahayu mengatakan, pengecekan post mortem hewan kurban bertujuan memastikan daging hewan steril dan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Pengecekan post mortem ini merupakan lanjutan.

”Sebelumnya, kami melakukan pengecekan antimortem. Ada 132 titik penjualan hewan yang kami cek,” katanya. Tujuannya, memastikan hewan kurban sehat sebelum disembelih.

Saat pemotongan pun, petugas turun ke lokasi. Ada 1.469 titik pemotongan yang dipantau. Baik rumah potong hewan, pondok pesantren, masjid, dan sebagainya. Satu per satu hasil pemotongan diperiksa. Apakah mengandung penyakit atau tidak. Ada beberapa hati hewan kurban yang terserang penyakit.

”Hasilnya, ditemukan beberapa kasus cacing hati. Yang itu tidak untuk dikonsumsi,” tuturnya.

Selain cacing hati, ditemukan juga beberapa penyakit lain. Seperti pneumonia, scabies, dan sakit mata. Jerohan yang kena cacing hati dan pneumonia tidak boleh dikonsumsi. Harus dimusnahkan.

Petugas langsung menyampaikan ke pemilik hewan bila menemui kasus tersebut. Scabies merupakan penyakit kulit yang menyerang hewan. Namun, bagian kulit biasanya tidak dikonsumsi. ”Kalau untuk sakit mata sebelumnya dikasih obat mata. Biasanya itu karena faktor transportasi,” terangnya.

Dalam pengecekan penyembelihan hewan kurban ini, Dinas Peternakan menerjunkan 125 petugas. Mereka adalah dokter hewan, petugas teknis, petugas inseminiasi buatan, petugas RPH, petugas penyuluh lapangan.

”Kami juga mengawasi prokesnya. Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19,” tambah Diana. (sid/far)

MOST READ

BERITA TERBARU