alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Tagihan Terlalu Tinggi, Pelanggan Gas Berencana Tidak Bayar

GADINGREJO, Radar Bromo ­- Batas waktu pembayaran pemakaian gas bulan ini berakhir pada 20 Mei. Namun, sejumlah pelanggan jaringan gas (jargas) di Kota Pasuruan memutuskan tidak melunasi tagihan tersebut. Mereka sambat. Tagihan terlalu tinggi. Sampai ratusan ribu rupiah.

Sri, warga Kelurahan/Kecamatan Gadingrejo, misalnya. Dia mengaku sampai kemarin (19/6) belum membayar tagihan pemakaian gas bulan Mei ini. Sebab, dia kena tagihan Rp 712 ribu. Naik lipat dua dibanding bulan-bulan biasanya.

Menurut Sri, selama ini, paling tinggi dirinya hanya dikenai biaya Rp 324 ribu. Karena itu, dia keberatan jika harus membayar Rp 712 ribu. Sri mengaku belum mendapatkan penjelasan terkait alasan naiknya tagihan tersebut dari Perusahaan Gas Negara (PGN).

”Belum saya bayar. Dari mana saya dapat uang sebesar itu,” ujarnya.

Selama ini, imbuh Sri, warung nasinya sering sepi. Kalau tagihan Rp 300 ribu seperti biasanya, dia masih mampu menutup. Tapi, jika naik sampai 100 persen seperti sekarang, beban itu sangat berat baginya. ”Mending tidak saya lanjutkan langganannya,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan oleh Poniji, warga lain di Gadingrejo. Dia kena tagihan pemakaian Rp 352 ribu. Padahal, jarang sekali memakai gas. Bulan sebelumnya, saat tidak rutin menggunakan gas, dia hanya harus membayar Rp 180 ribu. Apalagi Mei itu, dia juga tidak membuat masakan untuk berjualan.

Bulan-bulan sebelumnya, rumahnya memang pernah dikenakan tagihan Rp 200 ribuan. Tapi, saat itu saat itu Poniji membuat dan berjualan jemblem. ”Lha kemarin kan puasa. Jadi, saya libur tidak jualan. Tapi, malah naik. Saya tidak sanggup bayar. Diputus juga tidak masalah,” jelasnya.

Samaji, warga lain, mengaku sudah mau membayar tagihan pemakaian gas untuk Mei. Tagihan batal dibayar karena uang tidak cukup. Sebab, dia kena Rp 187 ribu. Padahal, sebelumnya cuma membayar kisaran Rp 50 ribu. Ternyata Samaji mengaku dikenakan jaminan pembayaran (JP) untuk tagihan Mei.

Warga Nilai Kurang Sosialisasi PGN Pakai Perkiraan untuk Biaya Jargas

Dia terus terang memang terlambat membayar bulan lalu. Tapi, itu pun cuma sehari dan sudah dibayar dendanya. ”Lha, ini kok ada JP. Untuk apa ini saya juga tidak paham. Mending tidak saya bayar sekalian. Tidak apa walau diputus langganan,” tegasnya.

Area Head PGN Wilayah Pasuruan-Banyuwangi M. Makki Nuruddin menjelaskan, sosialisasi soal pembayaran sudah dilakukan oleh PGN. Selain melalui SMS, PGN rutin memberikan sosialisasi terkait aturan pembayaran melalui pemda dan kecamatan setempat. Namun, jika masyarakat merasa belum paham, RT/RW bisa menyampaikannya melalui kelurahan agar diberi sosialisasi.

Makki menambahkan, pelanggan juga bisa turut mengawasi besaran pemakaian setiap harinya. Melalui meteran gas yang dipasang di rumah masing-masing. PGN sendiri mengenakan biaya tagihan berdasar hitungan meter kubik yang digunakan pelanggan. Namun, jika memang belum puas, masyarakat bisa langsung menghubungi PGN melalui kontak yang tertera di dekat meteran gas.

Dia memastikan, PGN tidak mungkin mengenakan biaya seenaknya. Warga juga bisa ikut mengawasi. Berapa meter kubik yang dipakai dikalikan Rp 4.250. Maka, akan ketemu berapa biaya pemakaian dan biayanya. Jadi, pemakaian itu bisa dilihat dan diatur. ”Kalau warga ingin berhenti berlangganan, ya itu hak mereka. Kami tidak bisa memaksa,” terang Makki. (riz/far)

GADINGREJO, Radar Bromo ­- Batas waktu pembayaran pemakaian gas bulan ini berakhir pada 20 Mei. Namun, sejumlah pelanggan jaringan gas (jargas) di Kota Pasuruan memutuskan tidak melunasi tagihan tersebut. Mereka sambat. Tagihan terlalu tinggi. Sampai ratusan ribu rupiah.

Sri, warga Kelurahan/Kecamatan Gadingrejo, misalnya. Dia mengaku sampai kemarin (19/6) belum membayar tagihan pemakaian gas bulan Mei ini. Sebab, dia kena tagihan Rp 712 ribu. Naik lipat dua dibanding bulan-bulan biasanya.

Menurut Sri, selama ini, paling tinggi dirinya hanya dikenai biaya Rp 324 ribu. Karena itu, dia keberatan jika harus membayar Rp 712 ribu. Sri mengaku belum mendapatkan penjelasan terkait alasan naiknya tagihan tersebut dari Perusahaan Gas Negara (PGN).

”Belum saya bayar. Dari mana saya dapat uang sebesar itu,” ujarnya.

Selama ini, imbuh Sri, warung nasinya sering sepi. Kalau tagihan Rp 300 ribu seperti biasanya, dia masih mampu menutup. Tapi, jika naik sampai 100 persen seperti sekarang, beban itu sangat berat baginya. ”Mending tidak saya lanjutkan langganannya,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan oleh Poniji, warga lain di Gadingrejo. Dia kena tagihan pemakaian Rp 352 ribu. Padahal, jarang sekali memakai gas. Bulan sebelumnya, saat tidak rutin menggunakan gas, dia hanya harus membayar Rp 180 ribu. Apalagi Mei itu, dia juga tidak membuat masakan untuk berjualan.

Bulan-bulan sebelumnya, rumahnya memang pernah dikenakan tagihan Rp 200 ribuan. Tapi, saat itu saat itu Poniji membuat dan berjualan jemblem. ”Lha kemarin kan puasa. Jadi, saya libur tidak jualan. Tapi, malah naik. Saya tidak sanggup bayar. Diputus juga tidak masalah,” jelasnya.

Samaji, warga lain, mengaku sudah mau membayar tagihan pemakaian gas untuk Mei. Tagihan batal dibayar karena uang tidak cukup. Sebab, dia kena Rp 187 ribu. Padahal, sebelumnya cuma membayar kisaran Rp 50 ribu. Ternyata Samaji mengaku dikenakan jaminan pembayaran (JP) untuk tagihan Mei.

Warga Nilai Kurang Sosialisasi PGN Pakai Perkiraan untuk Biaya Jargas

Dia terus terang memang terlambat membayar bulan lalu. Tapi, itu pun cuma sehari dan sudah dibayar dendanya. ”Lha, ini kok ada JP. Untuk apa ini saya juga tidak paham. Mending tidak saya bayar sekalian. Tidak apa walau diputus langganan,” tegasnya.

Area Head PGN Wilayah Pasuruan-Banyuwangi M. Makki Nuruddin menjelaskan, sosialisasi soal pembayaran sudah dilakukan oleh PGN. Selain melalui SMS, PGN rutin memberikan sosialisasi terkait aturan pembayaran melalui pemda dan kecamatan setempat. Namun, jika masyarakat merasa belum paham, RT/RW bisa menyampaikannya melalui kelurahan agar diberi sosialisasi.

Makki menambahkan, pelanggan juga bisa turut mengawasi besaran pemakaian setiap harinya. Melalui meteran gas yang dipasang di rumah masing-masing. PGN sendiri mengenakan biaya tagihan berdasar hitungan meter kubik yang digunakan pelanggan. Namun, jika memang belum puas, masyarakat bisa langsung menghubungi PGN melalui kontak yang tertera di dekat meteran gas.

Dia memastikan, PGN tidak mungkin mengenakan biaya seenaknya. Warga juga bisa ikut mengawasi. Berapa meter kubik yang dipakai dikalikan Rp 4.250. Maka, akan ketemu berapa biaya pemakaian dan biayanya. Jadi, pemakaian itu bisa dilihat dan diatur. ”Kalau warga ingin berhenti berlangganan, ya itu hak mereka. Kami tidak bisa memaksa,” terang Makki. (riz/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/