alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Garis Batas Alun-alun Kota Pasuruan Dirusak

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Adanya larangan masuk ke areal alun-alun selama pandemi Covid-19, rupanya banyak dilanggar. Masih banyak warga yang nekat memasuki Alun-alun Kota Pasuruan dengan merusak garis pembatas yang dipasang mengelilinginya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (19/5), sejumlah garis batas di RTH milik pemkot yang terletak di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, ini rusak dan sebagian sudah hilang.

Seperti garis batas yang dipasang di sisi timur maupun di sisi barat, sudah tidak terpasang sebagaimana mestinya. Bahkan, banyak masyarakat yang nekat untuk duduk maupun berkeliling di dalam alun-alun.

Salah seorang petugas di alun-alun, Budi Suparto mengungkapkan, pengunjung sebenarnya masih tidak diperkenankan untuk memasuki alun-alun. Pihaknya sendiri selalu meminta pengunjung yang nekat untuk meninggalkan alun-alun. Saat itu pengunjung biasanya langsung mematuhinya.

Namun, saat ditinggal oleh petugas untuk menyisir lokasi lainnya, ada pengunjung lain yang melanggar. Kondisi ini membuat garis pembatas yang dipasang pun jadi rusak. Sebab, sering dilewati oleh pengunjung yang melanggar.

Pihaknya pun sudah melaporkan hal ini pada dinas terkait agar segera diganti dengan baru. “Kami di sini ada delapan orang. Masing-masing petugas jaga dan kebersihan ada empat orang. Garis pembatas ini penting karena kami sering kewalahan. Ini sudah rusak sejak dua pekan ini. Bahkan, kalau petugas kebersihan memberi peringatan, sering tidak didengar,” ungkapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Pasuruan Sugeng Winarto mengaku, areal RTH masih dilarang untuk dimasuki pengunjung. Ini untuk meminimalisasi penyebaran virus Covid-19 di areal fasilitas umum dan menghindari kerumunan orang.

Namun, teknis penjagaan diserahkan pada Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP). “Tidak boleh. Sejak 5 April lalu seluruh RTH di Kota Pasuruan memang ditutup dan tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Cuma untuk teknis di lapangan seperti apa, yang tahu ya DLHKP,” jelas Sugeng.

Jawa Pos Radar Bromo sudah menghubungi Kepala DLHKP Kota Pasuruan Rudiyanto terkait kondisi itu. Namun, sampai tadi malam, belum direspons. Pesan pendek melalui WhatsApp yang ditujukan pada yang bersangkutan juga tidak dijawab. (riz/mie)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Adanya larangan masuk ke areal alun-alun selama pandemi Covid-19, rupanya banyak dilanggar. Masih banyak warga yang nekat memasuki Alun-alun Kota Pasuruan dengan merusak garis pembatas yang dipasang mengelilinginya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (19/5), sejumlah garis batas di RTH milik pemkot yang terletak di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, ini rusak dan sebagian sudah hilang.

Seperti garis batas yang dipasang di sisi timur maupun di sisi barat, sudah tidak terpasang sebagaimana mestinya. Bahkan, banyak masyarakat yang nekat untuk duduk maupun berkeliling di dalam alun-alun.

Salah seorang petugas di alun-alun, Budi Suparto mengungkapkan, pengunjung sebenarnya masih tidak diperkenankan untuk memasuki alun-alun. Pihaknya sendiri selalu meminta pengunjung yang nekat untuk meninggalkan alun-alun. Saat itu pengunjung biasanya langsung mematuhinya.

Namun, saat ditinggal oleh petugas untuk menyisir lokasi lainnya, ada pengunjung lain yang melanggar. Kondisi ini membuat garis pembatas yang dipasang pun jadi rusak. Sebab, sering dilewati oleh pengunjung yang melanggar.

Pihaknya pun sudah melaporkan hal ini pada dinas terkait agar segera diganti dengan baru. “Kami di sini ada delapan orang. Masing-masing petugas jaga dan kebersihan ada empat orang. Garis pembatas ini penting karena kami sering kewalahan. Ini sudah rusak sejak dua pekan ini. Bahkan, kalau petugas kebersihan memberi peringatan, sering tidak didengar,” ungkapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Pasuruan Sugeng Winarto mengaku, areal RTH masih dilarang untuk dimasuki pengunjung. Ini untuk meminimalisasi penyebaran virus Covid-19 di areal fasilitas umum dan menghindari kerumunan orang.

Namun, teknis penjagaan diserahkan pada Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP). “Tidak boleh. Sejak 5 April lalu seluruh RTH di Kota Pasuruan memang ditutup dan tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Cuma untuk teknis di lapangan seperti apa, yang tahu ya DLHKP,” jelas Sugeng.

Jawa Pos Radar Bromo sudah menghubungi Kepala DLHKP Kota Pasuruan Rudiyanto terkait kondisi itu. Namun, sampai tadi malam, belum direspons. Pesan pendek melalui WhatsApp yang ditujukan pada yang bersangkutan juga tidak dijawab. (riz/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/