alexametrics
31.7 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Inilah Program Dorjiga Milik Puskesmas Sumberpitu untuk Semangati Warga Atensi Stunting

TUTUR, Radar Bromo – Sampai saat ini stunting masih menjadi tantangan di Indonesia. Tak terkecuali di Kabupaten Pasuruan yang di tahun 2020 ini menjadi kabupaten lokus stunting. Fokus kegiatan kesehatan ini yaitu untuk menanggulangi stunting melalui banyak kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di masyarakat.

Hal ini juga menjadi perhatian bagi puskesmas. Semua puskesmas membuat program yang bertujuan untuk mengurangi masalah kesehatan yang secara fisiknya dapat dilihat dari kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak), akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

“Dalam hal mengatasi stunting, perlu peran dari semua sektor dan tatanan masyarakat, pada 1000 hari pertama kehidupan harus dijaga baik nutrisi maupun faktor di luar itu yang mempengaruhi stunting,” kata Kepala Puskesmas Sumberpitu dr M. Shouni Sholahuddin.

Nah, di Puskesmas Sumberpitu, upaya untuk mengurangi stunting, diefektifkan pada kegiatan Posyandu. Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Dari kegiatan posyandu, balita bisa diketahui berat badan dan tinggi badan, apabila mengalami kenaikan maupun penurunan.

Bulan Februari merupakan bulan timbang, dimana dalam bulan ini di kegiatan posyandu, balita mendapatkan vitamin A, obat cacing dan dilakukan pengukuran tinggi badan. Untuk itu diharapkan masyarakat yang memiliki balita, supaya berbondong-bondong datang ke posyandu agar mendapatkan suplemen gizi.

“Puskesmas Sumberpitu berupaya membuat inovasi agar ibu balita mau datang ke posyandu yaitu dengan mengadakan Dorjiga (Doorprize Jimpitan Warga). Dorjiga merupakan kegiatan pemberian doorprize yang berisi bahan makanan pokok yang diberikan pada ibu balita. Yang beruntung yang diperoleh dari dana jimpitan warga. Melalui kegiatan ini diharapkan balita yang menuju ke kategori stunting bisa teratasi sejak dini karena dilakukan pengukuran SDIDTK oleh bidan desa maupun tenaga kesehatan lainnya,” imbuh Dyas Indraswari, Bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Sumberpitu.

Puskesmas Sumberpitu, kata Dyas, sebisa mungkin memberikan edukasi pada masyarakat. Khususnya posyandu melalui kegiatan kelas Ibu Pintar yaitu kegiatan edukasi atau penyuluhan, yang disertai dengan praktik membuat makanan pendamping ASI bagi ibu balita,” pungkas Dyas Indraswari. (zal/fun)

TUTUR, Radar Bromo – Sampai saat ini stunting masih menjadi tantangan di Indonesia. Tak terkecuali di Kabupaten Pasuruan yang di tahun 2020 ini menjadi kabupaten lokus stunting. Fokus kegiatan kesehatan ini yaitu untuk menanggulangi stunting melalui banyak kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di masyarakat.

Hal ini juga menjadi perhatian bagi puskesmas. Semua puskesmas membuat program yang bertujuan untuk mengurangi masalah kesehatan yang secara fisiknya dapat dilihat dari kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak), akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

“Dalam hal mengatasi stunting, perlu peran dari semua sektor dan tatanan masyarakat, pada 1000 hari pertama kehidupan harus dijaga baik nutrisi maupun faktor di luar itu yang mempengaruhi stunting,” kata Kepala Puskesmas Sumberpitu dr M. Shouni Sholahuddin.

Nah, di Puskesmas Sumberpitu, upaya untuk mengurangi stunting, diefektifkan pada kegiatan Posyandu. Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Dari kegiatan posyandu, balita bisa diketahui berat badan dan tinggi badan, apabila mengalami kenaikan maupun penurunan.

Bulan Februari merupakan bulan timbang, dimana dalam bulan ini di kegiatan posyandu, balita mendapatkan vitamin A, obat cacing dan dilakukan pengukuran tinggi badan. Untuk itu diharapkan masyarakat yang memiliki balita, supaya berbondong-bondong datang ke posyandu agar mendapatkan suplemen gizi.

“Puskesmas Sumberpitu berupaya membuat inovasi agar ibu balita mau datang ke posyandu yaitu dengan mengadakan Dorjiga (Doorprize Jimpitan Warga). Dorjiga merupakan kegiatan pemberian doorprize yang berisi bahan makanan pokok yang diberikan pada ibu balita. Yang beruntung yang diperoleh dari dana jimpitan warga. Melalui kegiatan ini diharapkan balita yang menuju ke kategori stunting bisa teratasi sejak dini karena dilakukan pengukuran SDIDTK oleh bidan desa maupun tenaga kesehatan lainnya,” imbuh Dyas Indraswari, Bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Sumberpitu.

Puskesmas Sumberpitu, kata Dyas, sebisa mungkin memberikan edukasi pada masyarakat. Khususnya posyandu melalui kegiatan kelas Ibu Pintar yaitu kegiatan edukasi atau penyuluhan, yang disertai dengan praktik membuat makanan pendamping ASI bagi ibu balita,” pungkas Dyas Indraswari. (zal/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/