alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Bupati Minta Warga Harus Kurangi Mobilitas

PASURUAN, Radar Bromo – Angka Covid-19 yang masih tinggi membuat Pemkab Pasuruan tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk mengurangi mobilitas. Tujuannya, tentu untuk menekan angka penyebaran Covid-19 harian yang sejauh ini masih diatas 100 orang perhari.

Imbauan itu bukan tak berdasar. Perkaranya, kapasitas UGD RSUD Bangil dan RSUD Grati, sudah beberapa kali menutup layanan aIGD-nya. Selain itu keterbatasan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan menjadi permasalahan yang serius.

Baik tim medis maupun paramedis, jumlahnya sangat terbatas. Tidak sebanding dengan jumlah kasus yang terus bertambah dalam beberapa hari terakhir.

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf mengatakan, pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk berupaya menekan bertambahnya lonjakan kasus aktif harian. Caranya dengan membatasi mobilitas dan menghindari kerumunan. Terutama selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

“Saya mohon kepada semua kyai, alim ulama dan tokoh masyarakat untuk terus bekerjasama dengan Pemda. Memberikan pemahaman dan sosialisasi PPKM Darurat kepada masyarakat. Juga memberi penekanan, protokol kesehatan adalah kunci utama untuk terhindar dari Covid-19,” katanya.

Menurutnya, PPKM Darurat adalah ikhtiar bersama. Baik Pemkab Pasuruan, RSUD Bangil, RSUD Grati maupun Forkopimda telah melaksanakan usaha dengan sangat serius untuk mencegah bertambahnya kasus harian.

“Ini sebagai ikhtiar bersama. Mari melakukan upaya pencegahan. Karena ini merupakan kepentingan dan demi keselamatan bersama,” katanya.

Di Kabupaten Pasuruan kini sudah ada varian delta. Untuk menekan hal itu, pihaknya menginstruksikan Satgas Penanganan Covid-19 agar melakukan testing dan tracing terhadap kontak erat pasien terkonfirmasi positif. Minimal dilakukan kepada 15 orang terdekatnya.

“Dari informasi yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, beberapa kasus harus dilakukan testing minimal 15 orang. Selain itu jangan sampai muncul klaster seperti klaster takziyah dan klaster tahlil. Apalagi puncak pandemi Covid-19 diprediksi akan terjadi Juli ini,” tandasnya. (sid/fun)

PASURUAN, Radar Bromo – Angka Covid-19 yang masih tinggi membuat Pemkab Pasuruan tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk mengurangi mobilitas. Tujuannya, tentu untuk menekan angka penyebaran Covid-19 harian yang sejauh ini masih diatas 100 orang perhari.

Imbauan itu bukan tak berdasar. Perkaranya, kapasitas UGD RSUD Bangil dan RSUD Grati, sudah beberapa kali menutup layanan aIGD-nya. Selain itu keterbatasan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan menjadi permasalahan yang serius.

Baik tim medis maupun paramedis, jumlahnya sangat terbatas. Tidak sebanding dengan jumlah kasus yang terus bertambah dalam beberapa hari terakhir.

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf mengatakan, pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk berupaya menekan bertambahnya lonjakan kasus aktif harian. Caranya dengan membatasi mobilitas dan menghindari kerumunan. Terutama selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

“Saya mohon kepada semua kyai, alim ulama dan tokoh masyarakat untuk terus bekerjasama dengan Pemda. Memberikan pemahaman dan sosialisasi PPKM Darurat kepada masyarakat. Juga memberi penekanan, protokol kesehatan adalah kunci utama untuk terhindar dari Covid-19,” katanya.

Menurutnya, PPKM Darurat adalah ikhtiar bersama. Baik Pemkab Pasuruan, RSUD Bangil, RSUD Grati maupun Forkopimda telah melaksanakan usaha dengan sangat serius untuk mencegah bertambahnya kasus harian.

“Ini sebagai ikhtiar bersama. Mari melakukan upaya pencegahan. Karena ini merupakan kepentingan dan demi keselamatan bersama,” katanya.

Di Kabupaten Pasuruan kini sudah ada varian delta. Untuk menekan hal itu, pihaknya menginstruksikan Satgas Penanganan Covid-19 agar melakukan testing dan tracing terhadap kontak erat pasien terkonfirmasi positif. Minimal dilakukan kepada 15 orang terdekatnya.

“Dari informasi yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, beberapa kasus harus dilakukan testing minimal 15 orang. Selain itu jangan sampai muncul klaster seperti klaster takziyah dan klaster tahlil. Apalagi puncak pandemi Covid-19 diprediksi akan terjadi Juli ini,” tandasnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/