alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Wednesday, 29 June 2022

Nikah Usia Muda Juga Bisa Berpengaruh pada Pola Asuh Anak Lho

PASURUAN, Radar Bromo – Pernikahan dini juga bisa berpengaruh pada pola asuh anak. Seperti diungkap Kepala Prodi Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) Nanik Kholifah, S.Psi., M.Si.

Menurutnya, pernikahan dini sangat berdampak kepada keharmonisan rumah tangga pasangan. Bahkan, lebih jauh akan berdampak kepada pola asuh anak ketika pasangan tersebut memiliki anak.

Usia 19 tahun ke bawah merupakan usia remaja. Pada saat itu, remaja sedang ego dan dalam proses pencarian jati diri. Sehingga, kebanyakan pada usia tersebut kematangan emosi belum terbentuk.

“Usia matang secara biologis itu terbentuk pada umur 21 ke atas. Di sini, sudah bisa mengatur emosi. Tetapi, sebenarnya untuk kematangan emosi ini juga tidak melulu soal usia. Usia belasan matang juga bisa,” katanya.

Nanik menjelaskan, ketika seseorang menikah dengan kematangan emosi belum terbentuk, maka bisa menimbulkan masalah. Dalam kehidupan berumah tangga yang tidak luput dari pertengkaran, akan sulit diselesaikan. Cenderung, satu sama lain akan mencari pembenaran sendiri.

Begitu juga ketika sudah punya anak. Karena masih dalam fase pencarian jati diri dan egonya tinggi, akan sulit mendidik anak. Pasangan itu akan asyik dengan dunianya sendiri.

“Padahal anak itu tidak rewel, tapi perhatian orang tuanya yang kurang. Kecenderungannya adalah mereka lebih asyik pada dunianya. Akhirnya anaknya nanti yang terimbas. Padahal usia 0–10 tahun itu adalah usia pembentukan karakter atau biasa disebut golden age,” katanya.

Karena itu, perlu dipertimbangkan jika memang mau menjalin rumah tangga. “Tapi, masyarakat kita memang menikahkan anak di bawah umur itu lumrah ya. Jadi sudah biasa. Padahal, dampaknya sangat besar,” tuturnya.

Tidak hanya mempengaruhi kesehatan, pernikahan dini juga berdampak terhadap mental dan finansial. Bahkan, memicu resiko perceraian.

Wakil Ketua LPA Kabupaten Pasuruan, Daniel Effendi memandang, anak di usia dini, cenderung hanya ingin bersenang-senang.

Secara mental, mereka belum betul-betul siap dalam mengemban tanggung jawab sebagai suami atau istri serta ibu dan bapak bagi anak-anaknya.

“Keinginan mereka untuk bermain-main masih tinggi. Sehingga, tanggung jawab untuk pasangannya, masih minim,” ulasnya.

Hal ini yang akhirnya berdampak terhadap risiko perceraian. Mengingat, mereka yang menikah usia dini, lebih sibuk untuk mencari kesenangannya sendiri. Tanpa memiliki tanggung jawab, untuk memenuhi kebutuhan psikologis, hingga hingga finansial pasangan. (riz/sid/one/hn/fun)

PASURUAN, Radar Bromo – Pernikahan dini juga bisa berpengaruh pada pola asuh anak. Seperti diungkap Kepala Prodi Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) Nanik Kholifah, S.Psi., M.Si.

Menurutnya, pernikahan dini sangat berdampak kepada keharmonisan rumah tangga pasangan. Bahkan, lebih jauh akan berdampak kepada pola asuh anak ketika pasangan tersebut memiliki anak.

Usia 19 tahun ke bawah merupakan usia remaja. Pada saat itu, remaja sedang ego dan dalam proses pencarian jati diri. Sehingga, kebanyakan pada usia tersebut kematangan emosi belum terbentuk.

“Usia matang secara biologis itu terbentuk pada umur 21 ke atas. Di sini, sudah bisa mengatur emosi. Tetapi, sebenarnya untuk kematangan emosi ini juga tidak melulu soal usia. Usia belasan matang juga bisa,” katanya.

Nanik menjelaskan, ketika seseorang menikah dengan kematangan emosi belum terbentuk, maka bisa menimbulkan masalah. Dalam kehidupan berumah tangga yang tidak luput dari pertengkaran, akan sulit diselesaikan. Cenderung, satu sama lain akan mencari pembenaran sendiri.

Begitu juga ketika sudah punya anak. Karena masih dalam fase pencarian jati diri dan egonya tinggi, akan sulit mendidik anak. Pasangan itu akan asyik dengan dunianya sendiri.

“Padahal anak itu tidak rewel, tapi perhatian orang tuanya yang kurang. Kecenderungannya adalah mereka lebih asyik pada dunianya. Akhirnya anaknya nanti yang terimbas. Padahal usia 0–10 tahun itu adalah usia pembentukan karakter atau biasa disebut golden age,” katanya.

Karena itu, perlu dipertimbangkan jika memang mau menjalin rumah tangga. “Tapi, masyarakat kita memang menikahkan anak di bawah umur itu lumrah ya. Jadi sudah biasa. Padahal, dampaknya sangat besar,” tuturnya.

Tidak hanya mempengaruhi kesehatan, pernikahan dini juga berdampak terhadap mental dan finansial. Bahkan, memicu resiko perceraian.

Wakil Ketua LPA Kabupaten Pasuruan, Daniel Effendi memandang, anak di usia dini, cenderung hanya ingin bersenang-senang.

Secara mental, mereka belum betul-betul siap dalam mengemban tanggung jawab sebagai suami atau istri serta ibu dan bapak bagi anak-anaknya.

“Keinginan mereka untuk bermain-main masih tinggi. Sehingga, tanggung jawab untuk pasangannya, masih minim,” ulasnya.

Hal ini yang akhirnya berdampak terhadap risiko perceraian. Mengingat, mereka yang menikah usia dini, lebih sibuk untuk mencari kesenangannya sendiri. Tanpa memiliki tanggung jawab, untuk memenuhi kebutuhan psikologis, hingga hingga finansial pasangan. (riz/sid/one/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/