alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

MUI Sebut Nikah Dini Hindari Perzinaan dan Demi Masa Depan

PASURUAN, Radar Bromo – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pasuruan Kiai Nurul Huda Muhammad berpandangan, pernikahan tidak bisa hanya dibatasi dari sisi usia. Apalagi zaman seperti sekarang. Pergaulan semakin bebas. Anak laki-laki dan perempuan kumpul jadi satu, termasuk di sekolah. Tentunya ada perasaan suka sama suka yang muncul.

”Tidak dinikahkan malah bahaya, daripada berzina. Termasuk, menghindari dampak buruk seperti hamil di luar nikah dan lain-lain” tuturnya.

Selain itu, pernikahan bukan pula perkara layak atau tidak, pantas atau tidak pantas. Fisik dan kekayaan bukanlah sebuah acuan. Orang menikah itu untuk mencari rezeki yang barokah. Perintah Nabi, raihlah rezeki dengan jalan menikah.

”Di samping menghindari perzinaan, faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah masa depan,” tambah Kiai Nurul Huda. Jadi, tidak perlu khawatir atau takut akan rezeki pasca menikah. Rezeki sudah diatur oleh Allah. Tinggal menunggu sambil berikhtiar.

Sebelum melangkah dan melangsungkan sebuah pernikahan, termasuk yang masih di bawah umur seperti aturan UU, peran orang tua sangatlah penting. Karena orang tua di rumah dan sehari-hari memiliki kewajiban dalam mendidik anak.

”Nikah dini juga bergantung pada kedua orang tua. Tentu orang tua wajib memberikan wawasan, pengertian, sekaligus masukan kepada anak. Sebelum anak memutuskan melangkah ke pernikahan,” ucap Kiai Nurul Huda.

Salah satu pendidikan itu menyangkut mental anak. Khusus terkait ini, apabila orang tua tidak mampu, bisa meminta bantuan atau pertolongan ke orang lain yang lebih mengerti sekaligus faham betul. Misalnya, ustad, kiai, dan lainnya.

”Jika memang sudah saatnya, jangan dihalangi. Harus segera dilangsungkan pernikahan,” tuturnya. Apabila ditunda atau batal, imbas dan dampaknya besar bagi sang anak. Termasuk bagi orang tua sendiri. Nanti jika terjadi hal-hal tak diinginkan pada sang anak, orang tua akan malu dan ikut dosa.

Faktor ekonomi tidak boleh menjadi alasan. Semua yang hidup sudah ditanggung oleh Allah. ”Jadi jangan takut tidak makan,” tegas Kiai Nurul Huda. (zal/far)

PASURUAN, Radar Bromo – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pasuruan Kiai Nurul Huda Muhammad berpandangan, pernikahan tidak bisa hanya dibatasi dari sisi usia. Apalagi zaman seperti sekarang. Pergaulan semakin bebas. Anak laki-laki dan perempuan kumpul jadi satu, termasuk di sekolah. Tentunya ada perasaan suka sama suka yang muncul.

”Tidak dinikahkan malah bahaya, daripada berzina. Termasuk, menghindari dampak buruk seperti hamil di luar nikah dan lain-lain” tuturnya.

Selain itu, pernikahan bukan pula perkara layak atau tidak, pantas atau tidak pantas. Fisik dan kekayaan bukanlah sebuah acuan. Orang menikah itu untuk mencari rezeki yang barokah. Perintah Nabi, raihlah rezeki dengan jalan menikah.

”Di samping menghindari perzinaan, faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah masa depan,” tambah Kiai Nurul Huda. Jadi, tidak perlu khawatir atau takut akan rezeki pasca menikah. Rezeki sudah diatur oleh Allah. Tinggal menunggu sambil berikhtiar.

Sebelum melangkah dan melangsungkan sebuah pernikahan, termasuk yang masih di bawah umur seperti aturan UU, peran orang tua sangatlah penting. Karena orang tua di rumah dan sehari-hari memiliki kewajiban dalam mendidik anak.

”Nikah dini juga bergantung pada kedua orang tua. Tentu orang tua wajib memberikan wawasan, pengertian, sekaligus masukan kepada anak. Sebelum anak memutuskan melangkah ke pernikahan,” ucap Kiai Nurul Huda.

Salah satu pendidikan itu menyangkut mental anak. Khusus terkait ini, apabila orang tua tidak mampu, bisa meminta bantuan atau pertolongan ke orang lain yang lebih mengerti sekaligus faham betul. Misalnya, ustad, kiai, dan lainnya.

”Jika memang sudah saatnya, jangan dihalangi. Harus segera dilangsungkan pernikahan,” tuturnya. Apabila ditunda atau batal, imbas dan dampaknya besar bagi sang anak. Termasuk bagi orang tua sendiri. Nanti jika terjadi hal-hal tak diinginkan pada sang anak, orang tua akan malu dan ikut dosa.

Faktor ekonomi tidak boleh menjadi alasan. Semua yang hidup sudah ditanggung oleh Allah. ”Jadi jangan takut tidak makan,” tegas Kiai Nurul Huda. (zal/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/