Radar Bromo

Per Bulan Anggarkan Rp 200 Juta untuk Distribusi Air Bersih

BANGIL, Radar Bromo – Krisis air bersih masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebut, saat ini sudah masuk puncak krisis air tersebut.

Tercatat, sudah ada 23 desa yang mengalami krisis air bersih di Kabupaten Pasuruan. Puluhan desa itu, tersebar di tujuh kecamatan. Mulai dari Kecamatan Lumbang, Winongan, Pasrepan, Lekok, Grati, Gempol, hingga Kejayan.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Tectona Jati mengungkapkan, jumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih di Kabupaten Pasuruan terus meningkat. Hal ini tak lepas dari kondisi kemarau yang masuk puncaknya.

“Sekarang sudah masuk puncak kemarau. Dampaknya, terhadap krisis air bersih di Kabupaten Pasuruan. Sekarang bisa dibilang puncaknya krisis air bersih,” jelas Tectona.

Tingginya daerah krisis air bersih ini, membuat BPBD Kabupaten Pasuruan melibatkan pihak-pihak terkait untuk penyaluran air bersih.

Hal ini lantaran armada yang ada di BPBD Kabupaten Pasuruan terbatas. Sehingga, sulit untuk menjangkau semua wilayah. “Kami melibatkan pihak-pihak lain. Baik pihak swasta ataupun pihak kecamatan,” imbuhnya.

Penyaluran air bersih tersebut, intens dilakukan. Bahkan, bisa sampai dua kali dalam sehari. Kondisi itu membuat pemkab setempat harus merogoh kocek untuk distribusi air bersih. “Rata-rata bisa habiskan Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulannya,” jelas Tectona.

Anggaran itu dimanfaatkan untuk operasional armada yang menyalurkan air bersih. Saat ini BPBD memiliki 2 armada truk untuk menyalurkan air bersih itu. BPBD sendiri mengajukan tambahan 3 truk di APBD 2021 mendatang. (one/mie)