alexametrics
24.4 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Nihil yang Daftar, Asuransi Nelayan di Pasuruan Tak Diminati

PASURUAN, Radar BromoAsuransi nelayan di Kabupaten Pasuruan, sepertinya kurang diminati. Sampai semester pertama di tahun ini masih belum ada nelayan yang mengajukan. Padahal, program ini sudah sering disosialisasikan.

Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Alamsyah Supriadi mengatakan, sampai semester pertama tahun ini belum ada nelayan yang mengajukan asuransi nelayan. “Setelah dipastikan tidak ada kuota asuransi gratis dari pusat, yang dibuka hanya asuransi mandiri. Untuk preminya, nelayan membayar secara mandiri,” ujarnya.

Alamsyah menduga, belum ada nelayan yang mendaftar, selain karena merasa belum butuh asuransi, juga karena harus membayar secara mandiri. Karenanya, nelayan memilih tidak mengajukan lantaran dananya digunakan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Pilihan mengajukan asuransi memang tidak wajib. Namun, karena pekerjaan nelayan dinilai berisiko tinggi, asuransi sejatinya bisa menjadi pilihan jika ada kecelakaan kerja, bahkan kematian saat bekerja di laut.

Alamsyah mengatakan, dibandingkan tahun 2019, awal tahun tercatat sudah ada 10 nelayan yang mendaftar asuransi mandiri. Namun, tahun ini sampai semester pertama memang masih kosong.

Masih tidak adanya pendaftar ini diduga karena berbagai faktor. Salah satunya situasi pendapatan nelayan yang menurun karena harga jual ikan murah, sehingga antusiasme melaut menurun. Juga kondisi ekonomi yang lesu. Selain itu, kesadaran untuk memproteksi diri saat bekerja juga masih rendah.

Sedangkan yang mengajukan asuransi mandiri tahun lalu belum ada yang memperpanjang kendati sudah ada yang habis masanya. Untuk premi asuransi mandiri beragam. Mulai Rp 75 ribu, Rp 100 ribu, dan Rp 175 ribu per tahun. Alamsyah berharap nelayan mendapatkan perlindungan jiwa lantaran pekerjaan nelayan merupakan pekerjaan yang berisiko tinggi. (eka/rud/fun)

PASURUAN, Radar BromoAsuransi nelayan di Kabupaten Pasuruan, sepertinya kurang diminati. Sampai semester pertama di tahun ini masih belum ada nelayan yang mengajukan. Padahal, program ini sudah sering disosialisasikan.

Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Alamsyah Supriadi mengatakan, sampai semester pertama tahun ini belum ada nelayan yang mengajukan asuransi nelayan. “Setelah dipastikan tidak ada kuota asuransi gratis dari pusat, yang dibuka hanya asuransi mandiri. Untuk preminya, nelayan membayar secara mandiri,” ujarnya.

Alamsyah menduga, belum ada nelayan yang mendaftar, selain karena merasa belum butuh asuransi, juga karena harus membayar secara mandiri. Karenanya, nelayan memilih tidak mengajukan lantaran dananya digunakan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Pilihan mengajukan asuransi memang tidak wajib. Namun, karena pekerjaan nelayan dinilai berisiko tinggi, asuransi sejatinya bisa menjadi pilihan jika ada kecelakaan kerja, bahkan kematian saat bekerja di laut.

Alamsyah mengatakan, dibandingkan tahun 2019, awal tahun tercatat sudah ada 10 nelayan yang mendaftar asuransi mandiri. Namun, tahun ini sampai semester pertama memang masih kosong.

Masih tidak adanya pendaftar ini diduga karena berbagai faktor. Salah satunya situasi pendapatan nelayan yang menurun karena harga jual ikan murah, sehingga antusiasme melaut menurun. Juga kondisi ekonomi yang lesu. Selain itu, kesadaran untuk memproteksi diri saat bekerja juga masih rendah.

Sedangkan yang mengajukan asuransi mandiri tahun lalu belum ada yang memperpanjang kendati sudah ada yang habis masanya. Untuk premi asuransi mandiri beragam. Mulai Rp 75 ribu, Rp 100 ribu, dan Rp 175 ribu per tahun. Alamsyah berharap nelayan mendapatkan perlindungan jiwa lantaran pekerjaan nelayan merupakan pekerjaan yang berisiko tinggi. (eka/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/