alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Pelanggan Jargas Terkejut Tagihan Tinggi Sampai Segini

GADINGREJO, Radar Bromo – Sejumlah pelanggan jaringan gas (Jargas) rumah tangga di Kota Pasuruan, dibuat terkejut. Ini menyusul tagihan yang mereka harus bayar, terbilang tinggi dari sebelumnya. Naiknya tagihan itu bahkan ada yang sampai lipat dua.

Bukan hanya itu. Mereka juga diminta membayar uang jaminan pembayaran. Nilainya juga tinggi bagi mereka yang berlangganan skala saluran rumah tangga.

Dari data yang dikumpulkan Jawa Pos Radar Bromo, tingginya tarif pembayaran dan jaminan pembayaran itu dialami warga di sekitar pesisir Kota Pasuruan. Sri adalah salah satu warga tersebut. Wanita asal Kelurahan/Kecamatan Gadingrejo mengungkapkan ia mendapatkan tagihan untuk pembayaran Mei sebesar Rp 712 ribu dan jaminan keterlambatan Rp 501 ribu. Tagihan ini disampaikan melalui SMS dan diminta harus dibayar pada 20 Juni mendatang.

Hal ini membuatnya kaget. Sebab ia belum pernah mendapatkan tagihan sebesar itu. Rata rata, tagihan untuk pembayaran jargas selama ini paling tinggi Rp 300 ribu. Pihaknya sendiri juga tidak pernah membayar hingga menunggak satu bulan.

Sri mengaku, dia memang sempat telat membayar beberapa waktu lalu. Tapi itu hanya sehari, namun dia dikenakan denda keterlambatan Rp 6.000. Dia juga sempat datang ke kantor Perusahaan Gas Negara (PGN) yang ada di Bangil untuk menanyakan tagihan tinggi itu.

DISEGEL: Meteran jargas milik warga yang disegel karena menunggak pembayaran. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Namun saat itu dia hanya ditemui oleh security dengan alasan masih work from home (WFH). “Janjinya akan dikabari segera. Cuma ini sudah dua pekan lebih tidak ada kabar. Kami tidak pernah nunggak, hanya telat sehari. Tapi ini kok tagihan sampai Rp 1,2 juta. Ini memberatkan kami yang cuma penjual nasi,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan oleh warga lainnya, Solikhin. Ia mengaku dapat tagihan Rp 352 ribu di bulan ini. Beberapa waktu lalu, juga sempat dapat tagihan Rp 1 juta. Padahal penggunaan gas juga tidak banyak karena ia jarang memasak. Selama ini gas digunakan paling sering saat ia membuat jemblem untuk dijual.

“Saya juga sempat datang ke kantor PGN beberapa waktu lalu. Itu saat saya kena tagihan Rp 1 juta. Cuma waktu itu yang menemui saya bilang, ya tidak apa saya mau menghentikan langganan. Tapi tetap harus bayar tagihan. Jadi ya saya langsung bayar waktu itu,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami Wisijan. Dia mengaku keluarganya memang sempat langganan jargas. Namun sejak awal tahun ini, ia berhenti karena diputus oleh PGN akibat nunggak pembayaran. Gara garanya, ia harus membayar sampai Rp 120 ribu tiap bulannya. Padahal, ia jarang memasak. Saat masih menggunakan elpiji ukuran 3 kilogram, dia paling banyak keluarganya cuma habis empat tabung.

“Awalnya kami bayar terus. Tidak pernah nunggak. Tapi lama kelamaan tidak kami bayar, akhirnya disegel. Masa kami harus bayar Rp 121 ribu, sementara hari-hari saya cuma kerja jadi asisten rumah tangga (ART), ya ga mampu lha, Mas,” tuturnya.

Sebagian besar pelanggan jargas di Kota Pasuruan tahu, memang bakal ada kenaikan berkala. Tapi kenaikan saat ini, ditambah dengan keharusan membayar jaminan pembayaran, dinilai terlalu tinggi. Apalagi, warga mengaku sejauh ini minim ada sosialisasi dari PGN.

Sementara itu pihak PGN Pasuruan, menanggapi keluhan pelanggan. Irfan selaku Humas PGN menjelaskan, sejatinya tidak ada kenaikan harga. Tagihan yang tinggi itu terjadi pada pelanggan yang terlambat membayar tagihan. Ini merupakan aturan baru dari PGN Pusat. Salah satunya mengatur soal pemberlakukan Jaminan Pembayaran, yang nominalnya disesuaikan dengan rata-rata pemakaian.

Jaminan Pembayaran (JP) ini berlaku hanya bagi pelanggan yang terlambat bayar. Nilai Rp 350 atau 700 ribu itu muncul dari akumulasi nilai tagihan beberapa bulan, yang belum terbayar ditambah JP.

Saat ditanya soal adanya pelanggan yang mengaku tidak pernah menunggak pembayaran dan hanya telat sehari tapi sudah dibayar, namun untuk bulan ini masih dapat tagihan besar plus JP yang di bulan sebelumnya tidak besar “ Pihaknya tidak bisa memastikan. Menurutnya, untuk hal tersebut harus dicek dahulu nomor pelanggannya berapa dan historinya.

“Untuk Pasuruan, temen-temen di sana biasanya paling aktif dengan pelanggan. Rata-rata pelanggan sudah pegang nomor si CM-nya dan sering berkontak. Baik langsung maupun lewat tokoh masyarakat seperti RT RW. Kalau mau datang ke Kantor PGN di PIER mengenai hal ini, pelanggan juga dipersilakan,” tuturnya. (riz/fun)

GADINGREJO, Radar Bromo – Sejumlah pelanggan jaringan gas (Jargas) rumah tangga di Kota Pasuruan, dibuat terkejut. Ini menyusul tagihan yang mereka harus bayar, terbilang tinggi dari sebelumnya. Naiknya tagihan itu bahkan ada yang sampai lipat dua.

Bukan hanya itu. Mereka juga diminta membayar uang jaminan pembayaran. Nilainya juga tinggi bagi mereka yang berlangganan skala saluran rumah tangga.

Dari data yang dikumpulkan Jawa Pos Radar Bromo, tingginya tarif pembayaran dan jaminan pembayaran itu dialami warga di sekitar pesisir Kota Pasuruan. Sri adalah salah satu warga tersebut. Wanita asal Kelurahan/Kecamatan Gadingrejo mengungkapkan ia mendapatkan tagihan untuk pembayaran Mei sebesar Rp 712 ribu dan jaminan keterlambatan Rp 501 ribu. Tagihan ini disampaikan melalui SMS dan diminta harus dibayar pada 20 Juni mendatang.

Hal ini membuatnya kaget. Sebab ia belum pernah mendapatkan tagihan sebesar itu. Rata rata, tagihan untuk pembayaran jargas selama ini paling tinggi Rp 300 ribu. Pihaknya sendiri juga tidak pernah membayar hingga menunggak satu bulan.

Sri mengaku, dia memang sempat telat membayar beberapa waktu lalu. Tapi itu hanya sehari, namun dia dikenakan denda keterlambatan Rp 6.000. Dia juga sempat datang ke kantor Perusahaan Gas Negara (PGN) yang ada di Bangil untuk menanyakan tagihan tinggi itu.

DISEGEL: Meteran jargas milik warga yang disegel karena menunggak pembayaran. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Namun saat itu dia hanya ditemui oleh security dengan alasan masih work from home (WFH). “Janjinya akan dikabari segera. Cuma ini sudah dua pekan lebih tidak ada kabar. Kami tidak pernah nunggak, hanya telat sehari. Tapi ini kok tagihan sampai Rp 1,2 juta. Ini memberatkan kami yang cuma penjual nasi,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan oleh warga lainnya, Solikhin. Ia mengaku dapat tagihan Rp 352 ribu di bulan ini. Beberapa waktu lalu, juga sempat dapat tagihan Rp 1 juta. Padahal penggunaan gas juga tidak banyak karena ia jarang memasak. Selama ini gas digunakan paling sering saat ia membuat jemblem untuk dijual.

“Saya juga sempat datang ke kantor PGN beberapa waktu lalu. Itu saat saya kena tagihan Rp 1 juta. Cuma waktu itu yang menemui saya bilang, ya tidak apa saya mau menghentikan langganan. Tapi tetap harus bayar tagihan. Jadi ya saya langsung bayar waktu itu,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami Wisijan. Dia mengaku keluarganya memang sempat langganan jargas. Namun sejak awal tahun ini, ia berhenti karena diputus oleh PGN akibat nunggak pembayaran. Gara garanya, ia harus membayar sampai Rp 120 ribu tiap bulannya. Padahal, ia jarang memasak. Saat masih menggunakan elpiji ukuran 3 kilogram, dia paling banyak keluarganya cuma habis empat tabung.

“Awalnya kami bayar terus. Tidak pernah nunggak. Tapi lama kelamaan tidak kami bayar, akhirnya disegel. Masa kami harus bayar Rp 121 ribu, sementara hari-hari saya cuma kerja jadi asisten rumah tangga (ART), ya ga mampu lha, Mas,” tuturnya.

Sebagian besar pelanggan jargas di Kota Pasuruan tahu, memang bakal ada kenaikan berkala. Tapi kenaikan saat ini, ditambah dengan keharusan membayar jaminan pembayaran, dinilai terlalu tinggi. Apalagi, warga mengaku sejauh ini minim ada sosialisasi dari PGN.

Sementara itu pihak PGN Pasuruan, menanggapi keluhan pelanggan. Irfan selaku Humas PGN menjelaskan, sejatinya tidak ada kenaikan harga. Tagihan yang tinggi itu terjadi pada pelanggan yang terlambat membayar tagihan. Ini merupakan aturan baru dari PGN Pusat. Salah satunya mengatur soal pemberlakukan Jaminan Pembayaran, yang nominalnya disesuaikan dengan rata-rata pemakaian.

Jaminan Pembayaran (JP) ini berlaku hanya bagi pelanggan yang terlambat bayar. Nilai Rp 350 atau 700 ribu itu muncul dari akumulasi nilai tagihan beberapa bulan, yang belum terbayar ditambah JP.

Saat ditanya soal adanya pelanggan yang mengaku tidak pernah menunggak pembayaran dan hanya telat sehari tapi sudah dibayar, namun untuk bulan ini masih dapat tagihan besar plus JP yang di bulan sebelumnya tidak besar “ Pihaknya tidak bisa memastikan. Menurutnya, untuk hal tersebut harus dicek dahulu nomor pelanggannya berapa dan historinya.

“Untuk Pasuruan, temen-temen di sana biasanya paling aktif dengan pelanggan. Rata-rata pelanggan sudah pegang nomor si CM-nya dan sering berkontak. Baik langsung maupun lewat tokoh masyarakat seperti RT RW. Kalau mau datang ke Kantor PGN di PIER mengenai hal ini, pelanggan juga dipersilakan,” tuturnya. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/