3.640 Pelajar SD/MI di Kota Pasuruan Lulus tanpa Ujian

PURWOREJO, Radar Bromo – Ribuan pelajar jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) di Kota Pasuruan lulus 100 persen. Tahun ini kelulusan tak ditentukan berdasarkan ujian. Pelajar dinyatakan lulus dengan mengacu nilai rapor selama lima semester.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Mualif Arif menyebutkan, jumlah pelajar SD yang lulus sebanyak 3.640. Untuk keperluan mendaftar ke jenjang SMP, pengambilan surat keterangan lulus (SKL) dilakukan oleh orang tua pelajar masing-masing.

“Melalui paguyuban kelas kami sampaikan kepada wali murid soal jadwal pengambilan SKL sesuai dengan protokol kesehatan,” ungkap pria yang akrab disapa Ayik itu.

Dia menjelaskan, jika tahun ini tidak ada ujian yang dijadikan acuan sepenuhnya dalam menentukan kelulusan. Sebab, para pelajar sudah diarahkan untuk belajar dari rumah sejak pandemi Covid-19 merebak.

Tetapi, ada sekolah yang sudah menggelar ujian akhir secara daring. Namun, sebagian besar tak menggelar ujian akhir. “Jadi, penilaian kelulusan mengacu pada nilai rapor selama lima semester. Mulai kelas 4, 5, dan semester awal di kelas 6,” ujarnya.

Kalau pun ada sekolah yang sudah menggelar ujian akhir secara daring, tak menjadi persoalan. Justru hasil ujian itu bisa menjadi nilai tambahan untuk menentukan kelulusan pelajar.

“Ada beberapa sekolah yang melaksanakan ujian akhir secara online. Itu menjadi nilai tambah juga,” jelas Ayik.

Dia juga menambahkan, pihaknya kini akan lebih proaktif dalam menghadapi masa penerimaan peserta didik baru (PPDB). Apalagi pendaftaran sekolah juga digelar secara online untuk menghindari kerumunan di sekolah.

Ayik menyadari, mekanisme PPDB online itu bagi sebagian wali murid justru menjadi kendala. “Karena itu, kami juga sudah minta pihak sekolah harus memperhatikan kesenjangan yang ada. Kalau ada kendala dari wali murid saat pendaftaran di SMP agar bisa dibantu,” tandasnya.

Kepala SDN Kandangsapi 2 Abdul Malik mengungkapkan, pengambilan SKL untuk 50 siswanya dijadwal dalam dua gelombang. Dari dua kelas yang ada, masing-masing ada 25 pelajar.

“Tiap kelas itu ada waktu sekitar satu jam untuk mengambil SKL. Jadi, per gelombang pengambilan ada sekitar 12 wali murid yang datang. Ini, kami lakukan untuk mengantisipasi virus korona,” bebernya.

Malik juga mengatakan, seluruh wali murid yang datang ke sekolah diwajibkan mengenakan masker. Serta, mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan pihak sekolah.

“Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Wali murid sudah sangat memahami pentingnya antisipasi virus ini,” ujarnya. (tom/mie)