alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Daun Mengering, Petani Apel di Tutur Resah

TUTUR, Radar Bromo – Sejumlah petani apel di wilayah Tutur saat ini tengah gelisah. Itu, menyusul rusaknya tanaman apel di wilayah setempat.

Kondisi itu terjadi imbas cuaca di wilayah Tutur yang ekstrem. Hujan yang terus melanda serta kabut yang menyerang ketika malam hari, membuat pohon-pohon apel di wilayah setempat mengalami kerusakan.

Daun tiba-tiba mengering sehingga membuat tanaman apel pun perlahan-lahan mati. “Kami benar-benar dibuat gelisah. Bukan hanya karena wabah korona, tetapi juga cuaca ekstrem yang membuat pertanian apel di sekitar sini rusak,” ungkap Mahfud Sidik, petani apel di wilayah Tutur.

Mahfud mengungkapkan, keringnya daun apel itu, berdampak terhadap produksi apel. Bunga-bunga yang menjadi bakal buah apel, tidak bisa berkembang. Tiba-tiba rontok, sehingga tidak bisa berkembang menjadi buah apel.

Kondisi itu menerjang ribuan pohon apel yang dimilikinya. Ia mengaku, punya kurang lebih 30 ribu pohon apel. Pohon-pohon apel itu ditanam di lahan seluas kurang lebih 30 hektare. “Akibat kondisi ini, penurunan produksi apel mencapai kisaran 70 persen dari normal,” bebernya.

Bisanya, produksi apel dalam satu pohon bisa mencapai 30 kg hingga 50 kg. Namun, imbas keringnya dedaunan apel itu, mengakibatkan produksi apel hanya kisaran 15 kg per pohonnya.

“Untuk harga, masih baiklah dengan adanya korona seperti saat ini. Kisaran Rp 10 ribu per kilogram. Namun, untuk produksinya ini yang terpengaruh. Karena faktor alam, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” sampainya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan Yetti Purwaningsih mengungkapkan, masih akan melakukan kroscek terhadap kondisi pertanian apel di wilayah Tutur. Hal ini untuk mengetahui penyebab keringnya daun-daun apel itu, sehingga mempengaruhi produksi apel. “Kami cek dulu ya seperti apa,” ujarnya singkat. (one/mie)

TUTUR, Radar Bromo – Sejumlah petani apel di wilayah Tutur saat ini tengah gelisah. Itu, menyusul rusaknya tanaman apel di wilayah setempat.

Kondisi itu terjadi imbas cuaca di wilayah Tutur yang ekstrem. Hujan yang terus melanda serta kabut yang menyerang ketika malam hari, membuat pohon-pohon apel di wilayah setempat mengalami kerusakan.

Daun tiba-tiba mengering sehingga membuat tanaman apel pun perlahan-lahan mati. “Kami benar-benar dibuat gelisah. Bukan hanya karena wabah korona, tetapi juga cuaca ekstrem yang membuat pertanian apel di sekitar sini rusak,” ungkap Mahfud Sidik, petani apel di wilayah Tutur.

Mahfud mengungkapkan, keringnya daun apel itu, berdampak terhadap produksi apel. Bunga-bunga yang menjadi bakal buah apel, tidak bisa berkembang. Tiba-tiba rontok, sehingga tidak bisa berkembang menjadi buah apel.

Kondisi itu menerjang ribuan pohon apel yang dimilikinya. Ia mengaku, punya kurang lebih 30 ribu pohon apel. Pohon-pohon apel itu ditanam di lahan seluas kurang lebih 30 hektare. “Akibat kondisi ini, penurunan produksi apel mencapai kisaran 70 persen dari normal,” bebernya.

Bisanya, produksi apel dalam satu pohon bisa mencapai 30 kg hingga 50 kg. Namun, imbas keringnya dedaunan apel itu, mengakibatkan produksi apel hanya kisaran 15 kg per pohonnya.

“Untuk harga, masih baiklah dengan adanya korona seperti saat ini. Kisaran Rp 10 ribu per kilogram. Namun, untuk produksinya ini yang terpengaruh. Karena faktor alam, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” sampainya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan Yetti Purwaningsih mengungkapkan, masih akan melakukan kroscek terhadap kondisi pertanian apel di wilayah Tutur. Hal ini untuk mengetahui penyebab keringnya daun-daun apel itu, sehingga mempengaruhi produksi apel. “Kami cek dulu ya seperti apa,” ujarnya singkat. (one/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/