alexametrics
24 C
Probolinggo
Sunday, 28 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pemkot Pasuruan Belum Tetapkan Tarif Tes PCR

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PURWOREJO, Radar Bromo – Setelah menunggu validasi dan rekomendasi, mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dimiliki Pemkot Pasuruan akhirnya sudah bisa digunakan. Dengan begitu, pemeriksaan pasien yang diindikasikan terpapar Covid-19 lebih cepat diketahui.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat menerangkan, mesin PCR yang dibeli akhir 2020 itu sudah mulai beroperasi pekan lalu. Sebelum dapat mengoperasikan mesin PCR, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi.

Salah satunya, adanya uji coba untuk memastikan validasi pemeriksaan. “Setelah ada rekomendasi dari Pemprov dan dilakukan visitasi serta uji coba, hasilnya valid,” kata Kokoh.

Dalam dua hari pertama beroperasi, mesin PCR sudah digunakan untuk memeriksa sekitar 70 sampel. Sedangkan kapasitas pemeriksaan bisa mencukupi untuk ribuan sampel. Pasalnya, reagen yang dimiliki saat ini sebanyak 4 ribu.

“Prinsipnya 4 ribu reagen itu siap digunakan. Kemampuan mesin PCR itu sendiri selama 24 jam bisa mencakup 96 spesimen,” bebernya.

Menurut dia, dengan beroperasinya mesin PCR itu akan mempercepat pemeriksaan pasien yang diindikasikan terpapar Covid-19. Pasalnya, selama ini pemeriksaan dilakukan di luar kota. Seperti Malang dan Kabupaten Pasuruan. Sehingga untuk mengetahui hasilnya, diperlukan waktu sekitar sepekan karena harus mengantre.

“Tentunya pemeriksaan akan lebih cepat diketahui hasilnya. Terutama memudahkan upaya tracing kontak erat dengan pasien positif,” katanya.

Meski begitu, mesin PCR itu baru digunakan untuk upaya tracing kontak erat dengan pasien positif. Pemeriksaan dalam upaya tracing kontak erat tidak dikenakan biaya alias gratis.

Sedangkan untuk pemeriksaan atas permintaan sendiri atau mandiri, masih diperlukan kajian lebih lanjut. Salah satunya terkait kebijakan penetapan tarif.

Pemerintah pusat sendiri telah menetapkan batas maksimal tarif tes PCR adalah sebesar Rp 900 ribu. Hal itu dituangkan dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time PCR.

Namun, Pemkot belum memutuskan besaran tarif tes PCR itu, atau bahkan digratiskan. “Memang Kemenkes sudah menetapkan besaran tarif maksimal. Tetapi di sini belum diberlakukan untuk pemeriksaan mandiri,” tandasnya. (tom/mie)

Mobile_AP_Rectangle 1

PURWOREJO, Radar Bromo – Setelah menunggu validasi dan rekomendasi, mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dimiliki Pemkot Pasuruan akhirnya sudah bisa digunakan. Dengan begitu, pemeriksaan pasien yang diindikasikan terpapar Covid-19 lebih cepat diketahui.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat menerangkan, mesin PCR yang dibeli akhir 2020 itu sudah mulai beroperasi pekan lalu. Sebelum dapat mengoperasikan mesin PCR, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi.

Salah satunya, adanya uji coba untuk memastikan validasi pemeriksaan. “Setelah ada rekomendasi dari Pemprov dan dilakukan visitasi serta uji coba, hasilnya valid,” kata Kokoh.

Mobile_AP_Half Page

Dalam dua hari pertama beroperasi, mesin PCR sudah digunakan untuk memeriksa sekitar 70 sampel. Sedangkan kapasitas pemeriksaan bisa mencukupi untuk ribuan sampel. Pasalnya, reagen yang dimiliki saat ini sebanyak 4 ribu.

“Prinsipnya 4 ribu reagen itu siap digunakan. Kemampuan mesin PCR itu sendiri selama 24 jam bisa mencakup 96 spesimen,” bebernya.

Menurut dia, dengan beroperasinya mesin PCR itu akan mempercepat pemeriksaan pasien yang diindikasikan terpapar Covid-19. Pasalnya, selama ini pemeriksaan dilakukan di luar kota. Seperti Malang dan Kabupaten Pasuruan. Sehingga untuk mengetahui hasilnya, diperlukan waktu sekitar sepekan karena harus mengantre.

“Tentunya pemeriksaan akan lebih cepat diketahui hasilnya. Terutama memudahkan upaya tracing kontak erat dengan pasien positif,” katanya.

Meski begitu, mesin PCR itu baru digunakan untuk upaya tracing kontak erat dengan pasien positif. Pemeriksaan dalam upaya tracing kontak erat tidak dikenakan biaya alias gratis.

Sedangkan untuk pemeriksaan atas permintaan sendiri atau mandiri, masih diperlukan kajian lebih lanjut. Salah satunya terkait kebijakan penetapan tarif.

Pemerintah pusat sendiri telah menetapkan batas maksimal tarif tes PCR adalah sebesar Rp 900 ribu. Hal itu dituangkan dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time PCR.

Namun, Pemkot belum memutuskan besaran tarif tes PCR itu, atau bahkan digratiskan. “Memang Kemenkes sudah menetapkan besaran tarif maksimal. Tetapi di sini belum diberlakukan untuk pemeriksaan mandiri,” tandasnya. (tom/mie)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2