alexametrics
26.1 C
Probolinggo
Saturday, 28 May 2022

Pabrik Konfeksi di Gadingrejo Didenda Rp 20 Juta Gara-gara IMB

PASURUAN, Radar Bromo– Jangan sepelekan izin mendirikan bangunan (IMB) di Kota Pasuruan. Jika tidak disertai izin ini, bisa-bisa Anda akan dikenai denda seperti perusahaan konveksi di Kecamatan Gadingrejo. Gara-gara IMB, sebuah perusahaan dikenai denda puluhan juta rupiah.

Perusahaan itu adalah PT Ravatex Indo Garment. Lokasinya ada di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Korps penegak perda sebenarnya sudah beberapa kali menyentil pabrik konvensi tersebut. Tetapi tak pernah digubris. Hingga akhirnya, perkara tersebut diseret ke meja hijau.

“Sesuai dengan SOP (standar operasional prosedur) kami, sudah tiga kali kami beri peringatan. Namun tetap beroperasi,” kata Kepala Satpol PP Kota Pasuruan Nur Fadholi.

Menurut Fadholi, langkah yang diambil merupakan upaya menertibkan ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 15/2011 tentang Retribusi IMB. Menurutnya, pabrik konveksi itu memang memiliki IMB. Akan tetapi, hanya untuk gudang, bukan untuk kegiatan produksi.

“IMB yang ada itu untuk gudang saja. Sedangkan disana dilakukan aktivitas produksi. Disitu letak pelanggarannya,” beber Fadholi.

Humas PN Pasuruan Yusti Cinianus Radjah mengatakan, perkara tindak pidana ringan itu sudah disidangkan, Selasa (12/10) lalu. Persidangan berlangsung selama sehari. Mulai dari pembacaan catatan dakwaan, pemeriksaan hingga pembacaan putusan.

Sebelumnya, pengadilan menerima limpahan perkara melalui penyidik Satpol PP atas kuasa penuntut umum terkait adanya pelanggaran Perda tentang Retribusi IMB.  “Setelah kami cek kelengkapannya baru diteruskan ke persidangan,” kata Yusti.

Dalam catatan dakwaan, PT Ravatex Indo Garment didakwa melanggar pasal 49 ayat 1 Perda Kota Pasuruan tentang Retribusi IMB. Ketentuan pidana itu mengatur ancaman yang dijatuhkan kepada setiap orang atau badan dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta.

JALUR HUKUM: Satpol PP saat mendatangi PT Ravatex Indo Garment beberapa waktu lalu. (Foto Istimewa)

“Dalam putusan dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana mendirikan bangunan tanpa IMB. Yang diajukan sebagai terdakwa dalam perkara ini adalah badan usaha,” kata Yusti.

Menurut Yusti, hakim tunggal memutus perkara dengan memperhatikan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13/2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana Oleh Korporasi. PT Ravatex yang menjadi terdakwa dalam perkara itu dijatuhi pidana denda sebesar Rp 20 juta.

Kenapa hakim memilih denda? Karena ancaman denda itu juga sudah diatur dalam perda. Selain pidana kurungan, perda tersebut juga mengatur ancaman pidana berupa denda. Disamping itu karena memang tak memungkinkan menghukum pabrik dengan pidana kurungan.

“Jadi, PT itu diakui sebagai manusia dalam bentuk fiksi. Makanya kenapa dikatakan berbadan hukum, jadi tetap bisa dijatuhi pidana tapi tidak mungkin dijatuhi pidana kurungan,” ungkap Yusti.

Anto, manajer HRD PT Ravatex Indo Garment belum memberikan konfirmasi terkait hal itu. Koran ini sempat menghubunginya Rabu (13/10) lalu, namun Anto mengaku sedang rapat dengan pimpinannya. Kemarin (14/10), pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp untuk kembali meminta konfirmasi tak dibalas. (tom/fun)

PASURUAN, Radar Bromo– Jangan sepelekan izin mendirikan bangunan (IMB) di Kota Pasuruan. Jika tidak disertai izin ini, bisa-bisa Anda akan dikenai denda seperti perusahaan konveksi di Kecamatan Gadingrejo. Gara-gara IMB, sebuah perusahaan dikenai denda puluhan juta rupiah.

Perusahaan itu adalah PT Ravatex Indo Garment. Lokasinya ada di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Korps penegak perda sebenarnya sudah beberapa kali menyentil pabrik konvensi tersebut. Tetapi tak pernah digubris. Hingga akhirnya, perkara tersebut diseret ke meja hijau.

“Sesuai dengan SOP (standar operasional prosedur) kami, sudah tiga kali kami beri peringatan. Namun tetap beroperasi,” kata Kepala Satpol PP Kota Pasuruan Nur Fadholi.

Menurut Fadholi, langkah yang diambil merupakan upaya menertibkan ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 15/2011 tentang Retribusi IMB. Menurutnya, pabrik konveksi itu memang memiliki IMB. Akan tetapi, hanya untuk gudang, bukan untuk kegiatan produksi.

“IMB yang ada itu untuk gudang saja. Sedangkan disana dilakukan aktivitas produksi. Disitu letak pelanggarannya,” beber Fadholi.

Humas PN Pasuruan Yusti Cinianus Radjah mengatakan, perkara tindak pidana ringan itu sudah disidangkan, Selasa (12/10) lalu. Persidangan berlangsung selama sehari. Mulai dari pembacaan catatan dakwaan, pemeriksaan hingga pembacaan putusan.

Sebelumnya, pengadilan menerima limpahan perkara melalui penyidik Satpol PP atas kuasa penuntut umum terkait adanya pelanggaran Perda tentang Retribusi IMB.  “Setelah kami cek kelengkapannya baru diteruskan ke persidangan,” kata Yusti.

Dalam catatan dakwaan, PT Ravatex Indo Garment didakwa melanggar pasal 49 ayat 1 Perda Kota Pasuruan tentang Retribusi IMB. Ketentuan pidana itu mengatur ancaman yang dijatuhkan kepada setiap orang atau badan dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta.

JALUR HUKUM: Satpol PP saat mendatangi PT Ravatex Indo Garment beberapa waktu lalu. (Foto Istimewa)

“Dalam putusan dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana mendirikan bangunan tanpa IMB. Yang diajukan sebagai terdakwa dalam perkara ini adalah badan usaha,” kata Yusti.

Menurut Yusti, hakim tunggal memutus perkara dengan memperhatikan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13/2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana Oleh Korporasi. PT Ravatex yang menjadi terdakwa dalam perkara itu dijatuhi pidana denda sebesar Rp 20 juta.

Kenapa hakim memilih denda? Karena ancaman denda itu juga sudah diatur dalam perda. Selain pidana kurungan, perda tersebut juga mengatur ancaman pidana berupa denda. Disamping itu karena memang tak memungkinkan menghukum pabrik dengan pidana kurungan.

“Jadi, PT itu diakui sebagai manusia dalam bentuk fiksi. Makanya kenapa dikatakan berbadan hukum, jadi tetap bisa dijatuhi pidana tapi tidak mungkin dijatuhi pidana kurungan,” ungkap Yusti.

Anto, manajer HRD PT Ravatex Indo Garment belum memberikan konfirmasi terkait hal itu. Koran ini sempat menghubunginya Rabu (13/10) lalu, namun Anto mengaku sedang rapat dengan pimpinannya. Kemarin (14/10), pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp untuk kembali meminta konfirmasi tak dibalas. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/