alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Produksi Susu di Pasuruan Tinggal Separo akibat Wabah PMK

PASURUAN, Radar Bromo – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) berdampak pula terhadap produksi susu segar. Koperasi susu kelimpungan karena suplai dari peternak sapi perah hampir mandek.

Ketua Koperasi Karya Amanah Udik Djanuantoro menyatakan, koperasi yang dikelolanya saat normal bisa menghasilkan 7 ribu liter susu per hari. Namun, karena banyak sapi perah yang terinfeksi PMK, produksi susu turun. Hampir separo dari jumlah produksi.

”Sekarang hanya menampung sekitar 3.500 liter,” kata Udik, Selasa (14/6).

Dia menjelaskan, penurunan produksi susu terjadi karena banyak sapi perah peternak yang terinfeksi PMK. Sehingga banyak yang tidak bisa memproduksi susu segar untuk disetorkan ke koperasi. Menurut Udik, kualitas susu turun sebenarnya masih bisa diatasi. Tapi, jika produksinya yang turun, kondisinya berbeda.

”Iya mau bagaimana lagi. Kami kirim seadanya itu ke perusahaan,” ungkapnya.

Menurut Udik, seekor sapi normal mampu memproduksi susu sekitar 20 liter per hari. Tapi, jika terkena PMK, susu tidak akan keluar sama sekali. Dipaksakan sebenarnya bisa. Tetapi, tetap hanya mampu memproduksi 1 sampai 5 liter.

”Kasihan sapinya. Putingnya sakit dan kantung susunya kempes,” ujarnya.

Karena itu, Udik meminta pihak-pihak terkait segera melakukan tindakan. Dia juga meminta jangan menyembunyikan data terkait PMK. Udik mencontohkan Desa Balonganyar, Kecamatan Lekok. Ada sekitar 8.753 populasi sapi perah. Yang sakit sekitar 7.611 ekor. Sakitnya memiliki ciri-ciri PMK. Yang sembuh 104. Masih sehat, 439 ekor sapi.

PASURUAN, Radar Bromo – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) berdampak pula terhadap produksi susu segar. Koperasi susu kelimpungan karena suplai dari peternak sapi perah hampir mandek.

Ketua Koperasi Karya Amanah Udik Djanuantoro menyatakan, koperasi yang dikelolanya saat normal bisa menghasilkan 7 ribu liter susu per hari. Namun, karena banyak sapi perah yang terinfeksi PMK, produksi susu turun. Hampir separo dari jumlah produksi.

”Sekarang hanya menampung sekitar 3.500 liter,” kata Udik, Selasa (14/6).

Dia menjelaskan, penurunan produksi susu terjadi karena banyak sapi perah peternak yang terinfeksi PMK. Sehingga banyak yang tidak bisa memproduksi susu segar untuk disetorkan ke koperasi. Menurut Udik, kualitas susu turun sebenarnya masih bisa diatasi. Tapi, jika produksinya yang turun, kondisinya berbeda.

”Iya mau bagaimana lagi. Kami kirim seadanya itu ke perusahaan,” ungkapnya.

Menurut Udik, seekor sapi normal mampu memproduksi susu sekitar 20 liter per hari. Tapi, jika terkena PMK, susu tidak akan keluar sama sekali. Dipaksakan sebenarnya bisa. Tetapi, tetap hanya mampu memproduksi 1 sampai 5 liter.

”Kasihan sapinya. Putingnya sakit dan kantung susunya kempes,” ujarnya.

Karena itu, Udik meminta pihak-pihak terkait segera melakukan tindakan. Dia juga meminta jangan menyembunyikan data terkait PMK. Udik mencontohkan Desa Balonganyar, Kecamatan Lekok. Ada sekitar 8.753 populasi sapi perah. Yang sakit sekitar 7.611 ekor. Sakitnya memiliki ciri-ciri PMK. Yang sembuh 104. Masih sehat, 439 ekor sapi.

MOST READ

BERITA TERBARU

/