alexametrics
23.7 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Ini Faktor Buta Huruf yang Terjadi di Kab Pasuruan

PASURUAN, Radar Bromo – Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Pasuruan turut angkat bicara tentang masih adanya penyandang buta huruf di kabupaten. Berbeda dengan klaim Dinas Pendidikan, KBPP menyebut hal itu adalah pekerjaan rumahnya (PR).

Kepala Dinas KBPP Kabupaten Pasuruan Loembini Pedjati Lajoeng tidak menampik di wilayahnya masih ada masyarakat penyandang buta huruf. Dan dari data itu, yang paling banyak adalah kaum perempuan.

“Memang seperti itu. Dan itu adalah pekerjaan rumah (PR) kami,” katanya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, kecenderungan buta huruf pada perempuan terjadi karena beberapa faktor. Yaitu, faktor harapan hidup, budaya dan beberapa lainnya.

“Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi. Lalu dari dari segi budaya pendidikan dianggap tidak penting bagi perempuan. Kondisi itu membuat mereka banyak yang menyandang buta huruf,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mengupayakan beberapa cara. Mulai dari pemberdayaan perempuan melalui pelatihan hingga sekolah keluarga. Cara itu diyakini bisa mengurangi jumlah buta aksara pada kaum perempuan.

“Sudah kami lakukan. Setiap tahun kami lakukan hal itu untuk mengurangi buta aksara,” tandasnya. (sid/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Pasuruan turut angkat bicara tentang masih adanya penyandang buta huruf di kabupaten. Berbeda dengan klaim Dinas Pendidikan, KBPP menyebut hal itu adalah pekerjaan rumahnya (PR).

Kepala Dinas KBPP Kabupaten Pasuruan Loembini Pedjati Lajoeng tidak menampik di wilayahnya masih ada masyarakat penyandang buta huruf. Dan dari data itu, yang paling banyak adalah kaum perempuan.

“Memang seperti itu. Dan itu adalah pekerjaan rumah (PR) kami,” katanya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, kecenderungan buta huruf pada perempuan terjadi karena beberapa faktor. Yaitu, faktor harapan hidup, budaya dan beberapa lainnya.

“Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi. Lalu dari dari segi budaya pendidikan dianggap tidak penting bagi perempuan. Kondisi itu membuat mereka banyak yang menyandang buta huruf,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mengupayakan beberapa cara. Mulai dari pemberdayaan perempuan melalui pelatihan hingga sekolah keluarga. Cara itu diyakini bisa mengurangi jumlah buta aksara pada kaum perempuan.

“Sudah kami lakukan. Setiap tahun kami lakukan hal itu untuk mengurangi buta aksara,” tandasnya. (sid/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/