alexametrics
27.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Ini Faktor Buta Huruf yang Terjadi di Kab Pasuruan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PASURUAN, Radar Bromo – Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Pasuruan turut angkat bicara tentang masih adanya penyandang buta huruf di kabupaten. Berbeda dengan klaim Dinas Pendidikan, KBPP menyebut hal itu adalah pekerjaan rumahnya (PR).

Kepala Dinas KBPP Kabupaten Pasuruan Loembini Pedjati Lajoeng tidak menampik di wilayahnya masih ada masyarakat penyandang buta huruf. Dan dari data itu, yang paling banyak adalah kaum perempuan.

“Memang seperti itu. Dan itu adalah pekerjaan rumah (PR) kami,” katanya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, kecenderungan buta huruf pada perempuan terjadi karena beberapa faktor. Yaitu, faktor harapan hidup, budaya dan beberapa lainnya.

“Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi. Lalu dari dari segi budaya pendidikan dianggap tidak penting bagi perempuan. Kondisi itu membuat mereka banyak yang menyandang buta huruf,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mengupayakan beberapa cara. Mulai dari pemberdayaan perempuan melalui pelatihan hingga sekolah keluarga. Cara itu diyakini bisa mengurangi jumlah buta aksara pada kaum perempuan.

“Sudah kami lakukan. Setiap tahun kami lakukan hal itu untuk mengurangi buta aksara,” tandasnya. (sid/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

PASURUAN, Radar Bromo – Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Pasuruan turut angkat bicara tentang masih adanya penyandang buta huruf di kabupaten. Berbeda dengan klaim Dinas Pendidikan, KBPP menyebut hal itu adalah pekerjaan rumahnya (PR).

Kepala Dinas KBPP Kabupaten Pasuruan Loembini Pedjati Lajoeng tidak menampik di wilayahnya masih ada masyarakat penyandang buta huruf. Dan dari data itu, yang paling banyak adalah kaum perempuan.

“Memang seperti itu. Dan itu adalah pekerjaan rumah (PR) kami,” katanya saat dikonfirmasi.

Mobile_AP_Half Page

Menurutnya, kecenderungan buta huruf pada perempuan terjadi karena beberapa faktor. Yaitu, faktor harapan hidup, budaya dan beberapa lainnya.

“Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi. Lalu dari dari segi budaya pendidikan dianggap tidak penting bagi perempuan. Kondisi itu membuat mereka banyak yang menyandang buta huruf,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mengupayakan beberapa cara. Mulai dari pemberdayaan perempuan melalui pelatihan hingga sekolah keluarga. Cara itu diyakini bisa mengurangi jumlah buta aksara pada kaum perempuan.

“Sudah kami lakukan. Setiap tahun kami lakukan hal itu untuk mengurangi buta aksara,” tandasnya. (sid/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2