alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Sorot Dua Proyek di Kota Pasuruan, Dewan: Jangan Ugal-ugalan

PASURUAN, Radar Bromo – Legislator di DPRD Kota Pasuruan menyoroti proses lelang program pembangunan fisik. Dua proyek jadi perhatian. Harga tawaran terlalu dinilai rendah.

Anggota DPRD Kota Pasuruan Helmi meminta tawaran yang rendah itu tidak dijadikan pertimbangan utama untuk menentukan pemenang lelang. Kalau dimenangkan, dikhawatirkan hasilnya akan buruk.

Informasinya, ada dua paket proyek infrastruktur yang sudah masuk tahap penawaran. Pertama, lelang proyek pemeliharaan berkala Jalan Balaikota. Nilai pagu proyek Rp1.567.202.000. Jumlah calon rekanan penawar mencapai 44 perusahaan. Penawaran tertinggi Rp1.522.385.301. Namun, ada yang terendah, yaitu Rp 1.051.360.422. Turun dari nilai pagu sampai sekitar 33 persen.

Kedua, proyek rehabilitasi plengsengan dan normalisasi saluran di Jalan A. Yani. Nilai pagu proyek Rp 381.150.000. Total ada 33 peserta lelang. Yang mengajukan penawaran tertinggi Rp 311.218.998. Tapi, ada yang menawar 38 persen lebih rendah. Yaitu, Rp 239.743.880.

Helmi mengatakan, pelelangan dengan sistem online memang lebih mudah dan terbuka. Sehingga, persaingan juga lebih fair. Tapi, belum sepenuhnya proses lelang itu berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Proses lelang yang lebih terbuka itu juga tidak seharusnya dimanfaatkan rekanan untuk mengajukan penawaran serendah-rendahnya. Dia berharap rekanan juga realistis dalam mengajukan penawaran. ”Jangan ugal-ugalan,” katanya.

Helmi yang juga ketua Fraksi Amanat Pembangunan itu mengaku heran. Ada rekanan yang berani menawar sangat rendah. Padahal, dia bertanggung jawab penuh mengerjakan proyek. Harus sesuai spesifikasi dan kualifikasi. Tawaran yang terjun bebas dari nilai pagu itu dikhawatirkan memengaruhi kualitas pekerjaan.

”Makanya mumpung masih proses. Kami minta BLP berhati-hati dalam menentukan pemenang,” katanya. Terutama dengan rekanan yang mengajukan penawaran rendah. Helmi meminta BLP benar-benar cermat.

Secara terpisah, Plt Kepala Badan Layanan Pengadaan (BLP) Kota Pasuruan Sugiyanto memastikan, penawaran yang rendah belum tentu menjadi pemenang lelang. Sebab, dalam pengadaan barang dan jasa, ada empat tahap yang mesti dilalui.

Tahap pertama evaluasi administrasi. Kalau sudah lolos administrasi, berikutnya evaluasi kualifikasi dan teknis. Selanjutnya, baru memasuki tahapan terakhir. Yakni, evaluasi harga penawaran.

Sugiyanto menyatakan, harga tawaran bukan faktor utama untuk menentukan pemenang lelang. ”Sebab, masih ada penelitian dan pembuktian kualifikasi,” ujarnya. (tom/far)

PASURUAN, Radar Bromo – Legislator di DPRD Kota Pasuruan menyoroti proses lelang program pembangunan fisik. Dua proyek jadi perhatian. Harga tawaran terlalu dinilai rendah.

Anggota DPRD Kota Pasuruan Helmi meminta tawaran yang rendah itu tidak dijadikan pertimbangan utama untuk menentukan pemenang lelang. Kalau dimenangkan, dikhawatirkan hasilnya akan buruk.

Informasinya, ada dua paket proyek infrastruktur yang sudah masuk tahap penawaran. Pertama, lelang proyek pemeliharaan berkala Jalan Balaikota. Nilai pagu proyek Rp1.567.202.000. Jumlah calon rekanan penawar mencapai 44 perusahaan. Penawaran tertinggi Rp1.522.385.301. Namun, ada yang terendah, yaitu Rp 1.051.360.422. Turun dari nilai pagu sampai sekitar 33 persen.

Kedua, proyek rehabilitasi plengsengan dan normalisasi saluran di Jalan A. Yani. Nilai pagu proyek Rp 381.150.000. Total ada 33 peserta lelang. Yang mengajukan penawaran tertinggi Rp 311.218.998. Tapi, ada yang menawar 38 persen lebih rendah. Yaitu, Rp 239.743.880.

Helmi mengatakan, pelelangan dengan sistem online memang lebih mudah dan terbuka. Sehingga, persaingan juga lebih fair. Tapi, belum sepenuhnya proses lelang itu berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Proses lelang yang lebih terbuka itu juga tidak seharusnya dimanfaatkan rekanan untuk mengajukan penawaran serendah-rendahnya. Dia berharap rekanan juga realistis dalam mengajukan penawaran. ”Jangan ugal-ugalan,” katanya.

Helmi yang juga ketua Fraksi Amanat Pembangunan itu mengaku heran. Ada rekanan yang berani menawar sangat rendah. Padahal, dia bertanggung jawab penuh mengerjakan proyek. Harus sesuai spesifikasi dan kualifikasi. Tawaran yang terjun bebas dari nilai pagu itu dikhawatirkan memengaruhi kualitas pekerjaan.

”Makanya mumpung masih proses. Kami minta BLP berhati-hati dalam menentukan pemenang,” katanya. Terutama dengan rekanan yang mengajukan penawaran rendah. Helmi meminta BLP benar-benar cermat.

Secara terpisah, Plt Kepala Badan Layanan Pengadaan (BLP) Kota Pasuruan Sugiyanto memastikan, penawaran yang rendah belum tentu menjadi pemenang lelang. Sebab, dalam pengadaan barang dan jasa, ada empat tahap yang mesti dilalui.

Tahap pertama evaluasi administrasi. Kalau sudah lolos administrasi, berikutnya evaluasi kualifikasi dan teknis. Selanjutnya, baru memasuki tahapan terakhir. Yakni, evaluasi harga penawaran.

Sugiyanto menyatakan, harga tawaran bukan faktor utama untuk menentukan pemenang lelang. ”Sebab, masih ada penelitian dan pembuktian kualifikasi,” ujarnya. (tom/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/