alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Balita Gizi Buruk di Kota Pasuruan Tersisa Segini

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Ada balita yang seluruh tubuhnya sangat kurus. Ada juga yang kurus, tapi tidak merata. Di beberapa bagian terdapat penumpukan cairan. Itulah tanda-tanda balita terkena gizi buruk. Di Kota Pasuruan, pada 2020, ditemukan 51 balita mengalami gizi buruk. Dinkes Kota Pasuruan telah menangani mereka dengan baik.

Jumlah 51 anak itu merupakan gabungan antara tahun sebelumnya dan temuan baru. Semua ditangani oleh Dinkes. Ada 15 kasus gizi buruk yang sudah sembuh. Kemudian 15 lainnya membaik. ”Setiap tahun ada akumulasi dari tahun sebelumnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan dr Shierly Marlena.

Artinya, jumlah kasus gizi buruk pada 2020 tersisa 21 balita. Shierly menyebutkan, puluhan balita itu masih dalam perawatan. Dinkes terus menempuh upaya dan perlakuan agar kasus-kasus itu segera mentas. Pemantauan juga dilakukan secara kontinyu untuk melihat seberapa jauh perkembangan balita per balita.

”Untuk gizi buruk, penanganannya memang tidak bisa dalam setahun. Tetapi, kami bisa pastikan semuanya tertangani,” imbuhnya.

Menurut Shierly, setiap kasus gizi buruk memang berbeda. Ada kategori ringan yang bisa ditangani lebih cepat. Ada juga yang tergolong parah. Biasanya, kasus gizi buruk yang parah terjadi karena ada penyakit lain yang menyertai. Karena itu, balita perlu penanganan khusus.

”Bergantung kategorinya. Umumnya memang diberi paket makanan tambahan. Tetapi, kalau ada penyakit lain, dilakukan terapi,” papar Shierly.

Kondisi gizi buruk diketahui berdasar standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indikatornya, berat badan balita berdasar usia (BB/U) kurang dari 60 persen baku median WHO. Sering berat badan balita gizi buruk sulit bertambah karena ada penyakit tertentu. Jadi, untuk kasus gizi buruk dengan penyakit lain tidak cukup ditangani dengan makanan tambahan.

”Tapi, ditambah sesuai dengan jenis penyakitnya,” beber Shierly. Karena itu, di samping penanganan gizi buruk dengan pemberian suplemen dan makanan tambahan, penyakit penyertanya juga ditangani. (tom/far)

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Ada balita yang seluruh tubuhnya sangat kurus. Ada juga yang kurus, tapi tidak merata. Di beberapa bagian terdapat penumpukan cairan. Itulah tanda-tanda balita terkena gizi buruk. Di Kota Pasuruan, pada 2020, ditemukan 51 balita mengalami gizi buruk. Dinkes Kota Pasuruan telah menangani mereka dengan baik.

Jumlah 51 anak itu merupakan gabungan antara tahun sebelumnya dan temuan baru. Semua ditangani oleh Dinkes. Ada 15 kasus gizi buruk yang sudah sembuh. Kemudian 15 lainnya membaik. ”Setiap tahun ada akumulasi dari tahun sebelumnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan dr Shierly Marlena.

Artinya, jumlah kasus gizi buruk pada 2020 tersisa 21 balita. Shierly menyebutkan, puluhan balita itu masih dalam perawatan. Dinkes terus menempuh upaya dan perlakuan agar kasus-kasus itu segera mentas. Pemantauan juga dilakukan secara kontinyu untuk melihat seberapa jauh perkembangan balita per balita.

”Untuk gizi buruk, penanganannya memang tidak bisa dalam setahun. Tetapi, kami bisa pastikan semuanya tertangani,” imbuhnya.

Menurut Shierly, setiap kasus gizi buruk memang berbeda. Ada kategori ringan yang bisa ditangani lebih cepat. Ada juga yang tergolong parah. Biasanya, kasus gizi buruk yang parah terjadi karena ada penyakit lain yang menyertai. Karena itu, balita perlu penanganan khusus.

”Bergantung kategorinya. Umumnya memang diberi paket makanan tambahan. Tetapi, kalau ada penyakit lain, dilakukan terapi,” papar Shierly.

Kondisi gizi buruk diketahui berdasar standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indikatornya, berat badan balita berdasar usia (BB/U) kurang dari 60 persen baku median WHO. Sering berat badan balita gizi buruk sulit bertambah karena ada penyakit tertentu. Jadi, untuk kasus gizi buruk dengan penyakit lain tidak cukup ditangani dengan makanan tambahan.

”Tapi, ditambah sesuai dengan jenis penyakitnya,” beber Shierly. Karena itu, di samping penanganan gizi buruk dengan pemberian suplemen dan makanan tambahan, penyakit penyertanya juga ditangani. (tom/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/