alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Larang Takbiran Keliling, di Masjid-Musala juga Dibatasi

PASURUAN, Radar Bromo – Selain mengatur dengan ketat salat Id, tahun ini takbiran pada malam Lebaran juga diatur dengan sejumlah syarat.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Pasuruan Saifuddin Ahmad menerangkan, pemkab melarang takbiran keliling di malam Lebaran. Tujuannya, untuk mengantisipasi terciptanya keramaian.

Sebagai gantinya, takbiran boleh dilakukan di semua masjid dan musala. Namun, tetap harus memenuhi beberapa ketentuan. “Di antaranya, maksimal diikuti oleh 10 persen jamaah dari kapasitas masjid dan musala. Juga harus memenuhi protokol kesehatan,” katanya.

Selain itu, salat Id diatur sesuai kriteria pengendalian wilayah hingga tingkat RT atau sesuai aturan dalam PPKM Mikro. Untuk warga di zora merah, salat Id dilakukan di rumah masing-masing. Sejalan dengan Fatwa MUI dan ormas Islam lainnya.

Di zona oranye, salat Id boleh digelar berjamaah. Namun, jamaah yang hadir tidak boleh melebihi 15 persen dari kapasitas. Lalu untuk warga di zona kuning dan hijau, jamaah salat Id tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas.

“Salat Id juga wajib dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tandasnya.

Aturan itu, menurut Saifuddin, sudah dituangkan pemkab dalam Surat Edaran (SE) Nomor 451/246/424.011/2021. SE ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran gubernur Jatim.

Pemkot Pasuruan pun mengatur hal serupa tentang takbiran. Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf meminta warganya tidak menggelar takbiran keliling.

“Masyarakat kami mohon tidak takbiran keliling. Situasinya masih pandemi. Kami minta kesadaran bersama untuk saling menjaga,” kata Gus Ipul –panggilannya–.

Gus Ipul menyebut, larangan takbiran keliling tidak berarti melarang masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri. Menurutnya, takbiran dibolehkan. Bahkan sangat dianjurkan. Tapi tidak dengan berkeliling di jalanan.

Dia menyarankan masyarakat menggemakan takbir di masjid dan musala saja. Sebab, takbiran keliling dikhawatirkan membuat mobilitas warga meningkat di malam Lebaran. Sehingga, terjadi kerumunan.

“Kami anjurkan takbiran dilangsungkan di masjid-masjid dan musala-musala,” katanya.

Untuk Salat Id, Gus Ipul pun mengajak semua masyarakat mengikuti ketentuan dari Surat Edaran Kementerian Agama RI. Protokol kesehatan harus tetap diutamakan dalam melaksanakan salat Id. Memakai masker, mengecek suhu tubuh jamaah, dan menyediakan tempat cuci tangan.

Jamaah salat Idul Fitri tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas tempat. Tujuannya agar memungkinkan untuk menjaga jarak saf antarjamaah.

Gus Ipul pun meminta agar salat Id digelar secara singkat. Namun tetap memenuhi rukun. Antara 20 hingga 30 menit.

Di sisi lain, jamaah lansia atau warga yang sedang sakit atau baru sembuh disarankan tidak menghadiri salat Id di luar rumah. Hal itu juga berlaku bagi jamaah yang baru pulang dari perjalanan.

“Kami berharap musala di kampung-kampung juga mengadakan salat Id agar jamaah tidak terpusat di masjid saja,” tuturnya.

Plt Asisten Pemerintahan Kota Pasuruan Mualif Arif menambahkan, pembagian zakat juga diharapkan tidak memicu kerumunan. Sesuai imbauan pemkot, panitia zakat sebaiknya mengantarkan zakat ke rumah-rumah penerima. Bukan mengundang penerima berkumpul di satu tempat untuk membagikan zakat.

“Kami harus belajar dari pengalaman tahun lalu. Tren penyebaran Covid-19 meningkat tajam pada momentum Lebaran 2020,” katanya. Kemudian juga momentum libur panjang pada Agustus dan November 2020. Dan terbaru pada pergantian tahun 2021. (sid/tom/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Selain mengatur dengan ketat salat Id, tahun ini takbiran pada malam Lebaran juga diatur dengan sejumlah syarat.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Pasuruan Saifuddin Ahmad menerangkan, pemkab melarang takbiran keliling di malam Lebaran. Tujuannya, untuk mengantisipasi terciptanya keramaian.

Sebagai gantinya, takbiran boleh dilakukan di semua masjid dan musala. Namun, tetap harus memenuhi beberapa ketentuan. “Di antaranya, maksimal diikuti oleh 10 persen jamaah dari kapasitas masjid dan musala. Juga harus memenuhi protokol kesehatan,” katanya.

Selain itu, salat Id diatur sesuai kriteria pengendalian wilayah hingga tingkat RT atau sesuai aturan dalam PPKM Mikro. Untuk warga di zora merah, salat Id dilakukan di rumah masing-masing. Sejalan dengan Fatwa MUI dan ormas Islam lainnya.

Di zona oranye, salat Id boleh digelar berjamaah. Namun, jamaah yang hadir tidak boleh melebihi 15 persen dari kapasitas. Lalu untuk warga di zona kuning dan hijau, jamaah salat Id tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas.

“Salat Id juga wajib dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tandasnya.

Aturan itu, menurut Saifuddin, sudah dituangkan pemkab dalam Surat Edaran (SE) Nomor 451/246/424.011/2021. SE ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran gubernur Jatim.

Pemkot Pasuruan pun mengatur hal serupa tentang takbiran. Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf meminta warganya tidak menggelar takbiran keliling.

“Masyarakat kami mohon tidak takbiran keliling. Situasinya masih pandemi. Kami minta kesadaran bersama untuk saling menjaga,” kata Gus Ipul –panggilannya–.

Gus Ipul menyebut, larangan takbiran keliling tidak berarti melarang masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri. Menurutnya, takbiran dibolehkan. Bahkan sangat dianjurkan. Tapi tidak dengan berkeliling di jalanan.

Dia menyarankan masyarakat menggemakan takbir di masjid dan musala saja. Sebab, takbiran keliling dikhawatirkan membuat mobilitas warga meningkat di malam Lebaran. Sehingga, terjadi kerumunan.

“Kami anjurkan takbiran dilangsungkan di masjid-masjid dan musala-musala,” katanya.

Untuk Salat Id, Gus Ipul pun mengajak semua masyarakat mengikuti ketentuan dari Surat Edaran Kementerian Agama RI. Protokol kesehatan harus tetap diutamakan dalam melaksanakan salat Id. Memakai masker, mengecek suhu tubuh jamaah, dan menyediakan tempat cuci tangan.

Jamaah salat Idul Fitri tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas tempat. Tujuannya agar memungkinkan untuk menjaga jarak saf antarjamaah.

Gus Ipul pun meminta agar salat Id digelar secara singkat. Namun tetap memenuhi rukun. Antara 20 hingga 30 menit.

Di sisi lain, jamaah lansia atau warga yang sedang sakit atau baru sembuh disarankan tidak menghadiri salat Id di luar rumah. Hal itu juga berlaku bagi jamaah yang baru pulang dari perjalanan.

“Kami berharap musala di kampung-kampung juga mengadakan salat Id agar jamaah tidak terpusat di masjid saja,” tuturnya.

Plt Asisten Pemerintahan Kota Pasuruan Mualif Arif menambahkan, pembagian zakat juga diharapkan tidak memicu kerumunan. Sesuai imbauan pemkot, panitia zakat sebaiknya mengantarkan zakat ke rumah-rumah penerima. Bukan mengundang penerima berkumpul di satu tempat untuk membagikan zakat.

“Kami harus belajar dari pengalaman tahun lalu. Tren penyebaran Covid-19 meningkat tajam pada momentum Lebaran 2020,” katanya. Kemudian juga momentum libur panjang pada Agustus dan November 2020. Dan terbaru pada pergantian tahun 2021. (sid/tom/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/