alexametrics
24.5 C
Probolinggo
Wednesday, 6 July 2022

BMKG: Waspadai Longsor di Dataran Tinggi usai Gempa

PASURUAN, Radar Bromo – Gempa susulan terus terjadi di wilayah perairan selatan Malang. Meski tak berpotensi tsunami, masyarakat diminta waspada. Terutama terkait ancaman bencana yang ditimbulkan seperti tanah longsor.

Hingga pukul 11.00 Minggu (11/4), BMKG mencatat ada 10 gempa susulan. Pusat gempa juga tidak jauh dari kejadian pertama, Sabtu (10/4). Yakni, di laut lepas Kabupaten Malang. Meski begitu, kekuatan gempa susulan cenderung lebih kecil ketimbang gempa pertama.

“Setelah gempa utama bermagnitudo 6,7 kemarin, ada 10 gempa susulan,” kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto.

Dia memastikan, guncangan yang diakibatkan gempa susulan relatif lebih rendah dari gempa utama. Kekuatannya rata-rata sekitar 3 – 4 magnitudo.

“Yang terbesar, gempa susulan dengan magnitudo 5,5 terjadi pagi hari, pukul 06.54,” ujar Suwarto.

Titik pusat gempa susulan itu berada di perairan selatan Kabupaten Malang. Tepatnya 80 kilometer di sisi barat daya Kabupaten Malang atau di koordinat 8,84 lintang selatan-112,41 bujur timur. Catatan BMKG, ada 10 daerah yang merasakan gempa susulan bermagnitudo 5,5 tersebut. Antara lain, Gunung Kidul, Bantul, dan Kulonprogo yang merasakan gempa susulan dengan skala II MMI (Modified Mercalli Intensity).

Skala II MMI berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang serta benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Kemudian, kekuatan gempa susulan dengan skala III MMI dirasakan di Pacitan, Wonogiri, dan Trenggalek. Artinya, getaran dirasakan nyata di dalam rumah seperti ada truk berlalu. Tiga daerah seperti Nganjuk, Ponorogo, dan Blitar merasakan getaran dengan skala II hingga III MMI.

Di Kota Malang sendiri, kekuatan gempa susulan dengan skala III hingga IV MMI. Meski begitu, besar kemungkinan getaran yang ditimbulkan gempa susulan itu juga terasa di daerah lainnya. Termasuk beberapa warga di Kabupaten dan Kota Pasuruan yang merasakan getaran pagi kemarin.

M Arifin, misalnya. Warga Purworejo, Kota Pasuruan, itu mengaku merasakan getaran akibat gempa susulan pagi kemarin. “Terasa ada getaran. Tapi nggak separah kemarin,” katanya. Begitu juga dengan warga Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Heri Susanto. “Tadi getarannya hanya sebentar. Sekitar lima detik,” jelasnya.

Suwarto menjelaskan, daerah yang terdampak gempa susulan memang tak berbeda dengan gempa utama. Sebab, pusat tumbukan lempeng tektonik yang mengakibatkan gempa, juga masih berada di lokasi yang sama.

“Memang yang tercatat di data seperti itu. Tetapi kalau melihat peta guncangannya, yang merasakan hampir semua daerah di Jatim seperti gempa utama. Termasuk Pasuruan,” ujar Suwarto.

Kemungkinan, kata Suwarto, gempa susulan masih akan terjadi. Namun, frekuensi getarannya diperkirakan lebih rendah. “Kemungkinan masih ada gempa susulan. Tetapi frekuensinya menurun, magnitudo juga menurun,” terang dia.

Yang perlu diwaspadai saat ini yaitu bencana yang berpotensi terjadi akibat gempa bumi. Apalagi dengan prakiraan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dalam tiga hari ke depan.

BMKG memberikan peringatan dini dengan level waspada terhadap prakiraan cuaca di beberapa daerah di Jawa Timur. Termasuk Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo.

Hujan yang diperkirakan turun dengan intensitas sedang hingga lebat usai gempa bumi, dikhawatirkan memicu longsor. Sebab, setelah gempa ada kemungkinan tanah yang bergerak akan rapuh. Nah, daerah yang diguyur hujan yang cukup intens atau ekstrem akan mudah berpotensi terjadi longsor.

“Kalau memang daerah dataran tinggi, di perbukitan atau tebing dengan kontur tanah lunak bisa jadi memicu longsor. Jadi perlu diwaspadai topografi tanahnya. Dipicu curah hujan yang tinggi dapat memperbesar risiko terjadinya longsor,” jelasnya. (tom/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Gempa susulan terus terjadi di wilayah perairan selatan Malang. Meski tak berpotensi tsunami, masyarakat diminta waspada. Terutama terkait ancaman bencana yang ditimbulkan seperti tanah longsor.

Hingga pukul 11.00 Minggu (11/4), BMKG mencatat ada 10 gempa susulan. Pusat gempa juga tidak jauh dari kejadian pertama, Sabtu (10/4). Yakni, di laut lepas Kabupaten Malang. Meski begitu, kekuatan gempa susulan cenderung lebih kecil ketimbang gempa pertama.

“Setelah gempa utama bermagnitudo 6,7 kemarin, ada 10 gempa susulan,” kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto.

Dia memastikan, guncangan yang diakibatkan gempa susulan relatif lebih rendah dari gempa utama. Kekuatannya rata-rata sekitar 3 – 4 magnitudo.

“Yang terbesar, gempa susulan dengan magnitudo 5,5 terjadi pagi hari, pukul 06.54,” ujar Suwarto.

Titik pusat gempa susulan itu berada di perairan selatan Kabupaten Malang. Tepatnya 80 kilometer di sisi barat daya Kabupaten Malang atau di koordinat 8,84 lintang selatan-112,41 bujur timur. Catatan BMKG, ada 10 daerah yang merasakan gempa susulan bermagnitudo 5,5 tersebut. Antara lain, Gunung Kidul, Bantul, dan Kulonprogo yang merasakan gempa susulan dengan skala II MMI (Modified Mercalli Intensity).

Skala II MMI berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang serta benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Kemudian, kekuatan gempa susulan dengan skala III MMI dirasakan di Pacitan, Wonogiri, dan Trenggalek. Artinya, getaran dirasakan nyata di dalam rumah seperti ada truk berlalu. Tiga daerah seperti Nganjuk, Ponorogo, dan Blitar merasakan getaran dengan skala II hingga III MMI.

Di Kota Malang sendiri, kekuatan gempa susulan dengan skala III hingga IV MMI. Meski begitu, besar kemungkinan getaran yang ditimbulkan gempa susulan itu juga terasa di daerah lainnya. Termasuk beberapa warga di Kabupaten dan Kota Pasuruan yang merasakan getaran pagi kemarin.

M Arifin, misalnya. Warga Purworejo, Kota Pasuruan, itu mengaku merasakan getaran akibat gempa susulan pagi kemarin. “Terasa ada getaran. Tapi nggak separah kemarin,” katanya. Begitu juga dengan warga Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Heri Susanto. “Tadi getarannya hanya sebentar. Sekitar lima detik,” jelasnya.

Suwarto menjelaskan, daerah yang terdampak gempa susulan memang tak berbeda dengan gempa utama. Sebab, pusat tumbukan lempeng tektonik yang mengakibatkan gempa, juga masih berada di lokasi yang sama.

“Memang yang tercatat di data seperti itu. Tetapi kalau melihat peta guncangannya, yang merasakan hampir semua daerah di Jatim seperti gempa utama. Termasuk Pasuruan,” ujar Suwarto.

Kemungkinan, kata Suwarto, gempa susulan masih akan terjadi. Namun, frekuensi getarannya diperkirakan lebih rendah. “Kemungkinan masih ada gempa susulan. Tetapi frekuensinya menurun, magnitudo juga menurun,” terang dia.

Yang perlu diwaspadai saat ini yaitu bencana yang berpotensi terjadi akibat gempa bumi. Apalagi dengan prakiraan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dalam tiga hari ke depan.

BMKG memberikan peringatan dini dengan level waspada terhadap prakiraan cuaca di beberapa daerah di Jawa Timur. Termasuk Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo.

Hujan yang diperkirakan turun dengan intensitas sedang hingga lebat usai gempa bumi, dikhawatirkan memicu longsor. Sebab, setelah gempa ada kemungkinan tanah yang bergerak akan rapuh. Nah, daerah yang diguyur hujan yang cukup intens atau ekstrem akan mudah berpotensi terjadi longsor.

“Kalau memang daerah dataran tinggi, di perbukitan atau tebing dengan kontur tanah lunak bisa jadi memicu longsor. Jadi perlu diwaspadai topografi tanahnya. Dipicu curah hujan yang tinggi dapat memperbesar risiko terjadinya longsor,” jelasnya. (tom/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/