alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Hujan Lebih Cepat, Produksi Garam di Kota Pasuruan Tak Capai Target

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Produksi garam di Kota Pasuruan terbilang rendah sepanjang tahun 2020. Capaian produksi garam lebih sedikit dari target yang ditetapkan, yakni hanya sekitar 70 persen.

Kabid Perikanan Budi Daya di Dinas Perikanan Kota Pasuruan Imron Rosadi menjelaskan, produksi garam ditargetkan 4 ribu ton pada 2020. Namun hingga akhir tahun, tercatat 2.808 ton yang diproduksi petani garam.

“Memang tidak mencapai target. Tahun lalu produksi garam sekitar 70 persen dari target yang ditetapkan,” kata Imron.

Dia menyampaikan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas garam. Yang paling utama ialah faktor cuaca. Tahun lalu musim hujan datang lebih cepat. Sedangkan produksi garam tidak bisa dilakukan saat hujan turun.

Di sisi lain, beberapa petani garam memilih tak berproduksi selama tahun lalu. Sedikitnya ada 3,5 hektare lahan tambak yang dibiarkan tak produksi. Yakni di Kelurahan Tapaan, Blandongan, dan Kepel.

“Sedangkan di Ngemplakrejo, ada tambak seluas 2 hektare yang dibagi. Satu hektare jadi tambak garam, satu hektare sebagai tambak udang,” tandasnya.

Semua itu memengaruhi jumlah produksi garam tahun lalu. Sementara harga jual garam masih rendah, sekitar Rp 350 per kilogram. Akibatnya, hasil panen garam tidak sebanding dengan biaya produksi. (tom/hn/fun)

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Produksi garam di Kota Pasuruan terbilang rendah sepanjang tahun 2020. Capaian produksi garam lebih sedikit dari target yang ditetapkan, yakni hanya sekitar 70 persen.

Kabid Perikanan Budi Daya di Dinas Perikanan Kota Pasuruan Imron Rosadi menjelaskan, produksi garam ditargetkan 4 ribu ton pada 2020. Namun hingga akhir tahun, tercatat 2.808 ton yang diproduksi petani garam.

“Memang tidak mencapai target. Tahun lalu produksi garam sekitar 70 persen dari target yang ditetapkan,” kata Imron.

Dia menyampaikan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas garam. Yang paling utama ialah faktor cuaca. Tahun lalu musim hujan datang lebih cepat. Sedangkan produksi garam tidak bisa dilakukan saat hujan turun.

Di sisi lain, beberapa petani garam memilih tak berproduksi selama tahun lalu. Sedikitnya ada 3,5 hektare lahan tambak yang dibiarkan tak produksi. Yakni di Kelurahan Tapaan, Blandongan, dan Kepel.

“Sedangkan di Ngemplakrejo, ada tambak seluas 2 hektare yang dibagi. Satu hektare jadi tambak garam, satu hektare sebagai tambak udang,” tandasnya.

Semua itu memengaruhi jumlah produksi garam tahun lalu. Sementara harga jual garam masih rendah, sekitar Rp 350 per kilogram. Akibatnya, hasil panen garam tidak sebanding dengan biaya produksi. (tom/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/