alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Diceraikan Hanya karena Kopi-Mi Instan, Eks Anggota DPRD Tak Terima

PASURUAN, Radar Bromo – Hanya karena masalah kopi dan mi instan, bahtera rumah tangga NW, 47, akhirnya kandas. Gugatan perceraian yang dilayangkan istrinya dikabulkan Pengadilan Agama (PA) Pasuruan.

Pria yang juga mantan anggota DPRD Kota Pasuruan tersebut, belum bisa menerima perceraian itu. Sebab, dia menilai pengadilan tidak mempertimbangkan gugatan mantan istrinya itu secara matang. Seharusnya, pengadilan tidak begitu saja mengabulkan gugatan perceraian.

NW bercerita, keretakan rumah tangganya bermula sekitar Mei 2021. Saat itu, dia meminta istrinya, TM, 43, untuk memasakkan mi instan dan kopi. Namun, permintaannya tak dituruti. Sang istri justru menyuruh NW membuat sendiri.

Bahkan, setelah itu, TM pergi ke tokonya di Pasar Besar untuk berjualan. NW pun kesal, dia terpancing emosi. NW bahkan mendatangi istrinya di toko. Dan tanpa babibu, dia memarahi istrinya di tempat itu.

NW tak mengira kemarahannya itu berbuntut panjang. Istrinya tak terima dan langsung menggugatnya cerai di pengadilan. “Dia sempat pergi dari rumah beberapa bulan,” kata NW.

Meski sudah resmi bercerai, NW tetap tak terima. Sebab, dia menilai pengadilan justru berat sebelah. Terutama dalam proses mediasi. “Harusnya dalam proses mediasi itu yang dikedepankan perdamaian. Tetapi, ini terkesan mendukung perceraian,” bebernya.

Lebih dari itu, NW juga menyangsikan kapasitas mediator perkara yang dihadapinya. Sebab, mediator itu tak punya latar belakang pendidikan mengenai hukum. Dia justru bergelar dokter hewan. Hal itu pula yang ditengarai membuat proses mediasi tidak berujung damai.

PASURUAN, Radar Bromo – Hanya karena masalah kopi dan mi instan, bahtera rumah tangga NW, 47, akhirnya kandas. Gugatan perceraian yang dilayangkan istrinya dikabulkan Pengadilan Agama (PA) Pasuruan.

Pria yang juga mantan anggota DPRD Kota Pasuruan tersebut, belum bisa menerima perceraian itu. Sebab, dia menilai pengadilan tidak mempertimbangkan gugatan mantan istrinya itu secara matang. Seharusnya, pengadilan tidak begitu saja mengabulkan gugatan perceraian.

NW bercerita, keretakan rumah tangganya bermula sekitar Mei 2021. Saat itu, dia meminta istrinya, TM, 43, untuk memasakkan mi instan dan kopi. Namun, permintaannya tak dituruti. Sang istri justru menyuruh NW membuat sendiri.

Bahkan, setelah itu, TM pergi ke tokonya di Pasar Besar untuk berjualan. NW pun kesal, dia terpancing emosi. NW bahkan mendatangi istrinya di toko. Dan tanpa babibu, dia memarahi istrinya di tempat itu.

NW tak mengira kemarahannya itu berbuntut panjang. Istrinya tak terima dan langsung menggugatnya cerai di pengadilan. “Dia sempat pergi dari rumah beberapa bulan,” kata NW.

Meski sudah resmi bercerai, NW tetap tak terima. Sebab, dia menilai pengadilan justru berat sebelah. Terutama dalam proses mediasi. “Harusnya dalam proses mediasi itu yang dikedepankan perdamaian. Tetapi, ini terkesan mendukung perceraian,” bebernya.

Lebih dari itu, NW juga menyangsikan kapasitas mediator perkara yang dihadapinya. Sebab, mediator itu tak punya latar belakang pendidikan mengenai hukum. Dia justru bergelar dokter hewan. Hal itu pula yang ditengarai membuat proses mediasi tidak berujung damai.

MOST READ

BERITA TERBARU

/