alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Usai Viral Joget di Kafe, ASN di Kota Pasuruan Disanksi

PASURUAN, Radar Bromo – Apa yang dilakukan ibu-ibu ini sangat berlawanan dengan kebijakan pemerintah. Di tengah getolnya upaya pengendalian Covid-19 yang kembali melonjak, mereka justru bersikap sebaliknya.

Menyanyi-nyanyi dan berjoget di sebuah kafe. Padahal dalam aturan PPKM Darurat, seluruh tempat usaha makanan dan minuman buka terbatas. Hanya boleh melayani pembelian yang dibungkus dan dibawa pulang atau take away.

Aksi joget bareng ini bahkan direkam. Videonya akhirnya viral di media sosial dan jadi perbincangan.

Dalam video itu, tampak beberapa perempuan bergoyang ria. Seorang di antaranya mendendangkan lagu dangdut. Sebagian dari mereka tak mengenakan masker. Ada juga yang bermasker. Namun, tidak dipakai menutup mulut dan hidung. Melainkan menutup dagu.

Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan pun langsung bergerak menelusuri kafe yang menjadi tempat ibu-ibu itu berjoget. Ternyata video berdurasi 35 detik itu direkam di salah satu kafe yang ada di Kecamatan Purworejo, kota Pasuruan. Kejadiannya Selasa (6/7).

“Itu kejadiannya menjelang Selasa sore. Malam harinya video itu beredar,” kata Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf.

Keesokan harinya, Satpol PP Kota Pasuruan langsung mendatangi dan menegur kafe tersebut. Pihak pengelola kafe pun memutuskan untuk menutup sementara usahanya. Tak lagi melayani pembeli selama PPKM Darurat.

Lantas siapa saja yang ada di video tersebut? Mereka adalah ibu-ibu penggemar tembang kenangan.

“Tiga di antaranya adalah ASN. Salah satunya adalah Kepala SD, dan dua pegawai RSUD,” terang Gus Ipul, panggilan Wali Kota Pasuruan.

Dia memastikan, ketiga ASN itu sudah dipanggil oleh instansinya masing-masing untuk klarifikasi. Mereka juga mengakui kesalahannya, karena sudah melanggar aturan PPKM Darurat. Ketika diklarifikasi, mereka juga diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Sekaligus mematuhi aturan PPKM Darurat.

“Terkait dengan sanksi nanti yang akan bertindak adalah Pak Sekda,” kata Gus Ipul.

Atas peristiwa itu, Gus Ipul meminta seluruh kepala perangkat daerah untuk mengawasi aktivitas pegawainya. Gus Ipul tidak ingin kejadian ini terulang.

Dia menegaskan, pemkot berkomitmen untuk mengendalikan lonjakan Covid-19. Karena itu, mereka yang melanggar aturan bakal dikenakan sanksi. Terlebih bawahannya sendiri yang semestinya bisa seirama dengan kebijakan pemerintah.

“Kami pastikan setelah ini tidak ada lagi kejadian serupa. Kami minta semua perangkat daerah ikut menyukseskan penerapan PPKM Darurat,” pungkas dia. (tom/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Apa yang dilakukan ibu-ibu ini sangat berlawanan dengan kebijakan pemerintah. Di tengah getolnya upaya pengendalian Covid-19 yang kembali melonjak, mereka justru bersikap sebaliknya.

Menyanyi-nyanyi dan berjoget di sebuah kafe. Padahal dalam aturan PPKM Darurat, seluruh tempat usaha makanan dan minuman buka terbatas. Hanya boleh melayani pembelian yang dibungkus dan dibawa pulang atau take away.

Aksi joget bareng ini bahkan direkam. Videonya akhirnya viral di media sosial dan jadi perbincangan.

Dalam video itu, tampak beberapa perempuan bergoyang ria. Seorang di antaranya mendendangkan lagu dangdut. Sebagian dari mereka tak mengenakan masker. Ada juga yang bermasker. Namun, tidak dipakai menutup mulut dan hidung. Melainkan menutup dagu.

Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan pun langsung bergerak menelusuri kafe yang menjadi tempat ibu-ibu itu berjoget. Ternyata video berdurasi 35 detik itu direkam di salah satu kafe yang ada di Kecamatan Purworejo, kota Pasuruan. Kejadiannya Selasa (6/7).

“Itu kejadiannya menjelang Selasa sore. Malam harinya video itu beredar,” kata Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf.

Keesokan harinya, Satpol PP Kota Pasuruan langsung mendatangi dan menegur kafe tersebut. Pihak pengelola kafe pun memutuskan untuk menutup sementara usahanya. Tak lagi melayani pembeli selama PPKM Darurat.

Lantas siapa saja yang ada di video tersebut? Mereka adalah ibu-ibu penggemar tembang kenangan.

“Tiga di antaranya adalah ASN. Salah satunya adalah Kepala SD, dan dua pegawai RSUD,” terang Gus Ipul, panggilan Wali Kota Pasuruan.

Dia memastikan, ketiga ASN itu sudah dipanggil oleh instansinya masing-masing untuk klarifikasi. Mereka juga mengakui kesalahannya, karena sudah melanggar aturan PPKM Darurat. Ketika diklarifikasi, mereka juga diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Sekaligus mematuhi aturan PPKM Darurat.

“Terkait dengan sanksi nanti yang akan bertindak adalah Pak Sekda,” kata Gus Ipul.

Atas peristiwa itu, Gus Ipul meminta seluruh kepala perangkat daerah untuk mengawasi aktivitas pegawainya. Gus Ipul tidak ingin kejadian ini terulang.

Dia menegaskan, pemkot berkomitmen untuk mengendalikan lonjakan Covid-19. Karena itu, mereka yang melanggar aturan bakal dikenakan sanksi. Terlebih bawahannya sendiri yang semestinya bisa seirama dengan kebijakan pemerintah.

“Kami pastikan setelah ini tidak ada lagi kejadian serupa. Kami minta semua perangkat daerah ikut menyukseskan penerapan PPKM Darurat,” pungkas dia. (tom/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/