alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Desak Pelajar Konvoi yang Coret Gapura Wisata Minta Maaf Terbuka

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PASURUAN, Radar Bromo–Pelajar yang terlibat dalam aksi corat-coret gapura wisata di Desa Baledono, Kecamatan Tosari, harus minta maaf pada warga Pasuruan. Bahkan, harus minta maaf secara terbuka.

Desakan itu diungkapkan Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan Lulis Irsyad Yusuf. Ia mengatakan, permintaan maaf dari pelaku merupakan bentuk tanggung jawab atas tindakan mereka. “Mereka yang terlibat harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuat. Caranya, dengan minta maaf secara terbuka dan tertulis,” terangnya.

Permintaan maaf, menurut Lulis, harus dilakukan. Jika tidak, maka dikhawatirkan adik-adiknya akan melakukan hal yang sama di kemudian hari. “Karena itu, mereka harus diajari minta maaf terbuka dan tertulis,” tandasnya.

Selain itu, mereka harus diberi sanksi. Namun, karena masih pelajar, maka sanksi yang pas adalah pembinaan. Sekolah harus membina pelajar yang terlibat aksi vandalisme pada hari Selasa (8/6) itu.

Lulis sendiri sangat menyayangkan kejadian itu. Menurutnya, tidak sepatutnya hal demikian terjadi.

“Saya prihatin. Pandemi Covid belum berakhir kan. Pastinya sekolah sudah mengimbau kepada anak didiknya untuk tidak terlalu mengekspresikan kelulusan selama pandemi,” katanya.

Namun, Lulis tidak ingin menyalahkan siapapun. Dia hanya berharap, peristiwa itu tidak terjadi lagi di kemudian hari. Sebab, bukan zamannya lagi merayakan kelulusan dengan corat-coret.

Di masa pandemi Covid-19, seharusnya anak-anak ikut prihatin. Dalam kondisi ini, perayaan kelulusan paling baik adalah berada di rumah. Karena saat pandemi melakukan kegiatan yang menimbulkan potensi kerumunan tidak boleh.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Andrie Wahyudi juga prihatin dengan aksi vandalisme itu. Menurutnya, tidak sepatutnya jalan wisata dicorat-coret. Bahkan, sampah saja seharusnya tidak ada di lokasi wisata. Sebab, kawasan wisata Bromo termasuk dalam 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Jangankan dicorat-coret, sampah saja harus bersih di kawasan itu,” katanya.

Pihaknya pun berharap agar sekolah memberikan pembinaan pada siswa yang terlibat. Sebab, masa depan mereka masih panjang dan akan bertemu dengan dunia nyata.

“Bukan sanksi yang diberikan ya, karena mereka sudah lulus dan alumni. Jadi pembinaan oleh sekolah. Dan tentunya mereka ini harus meminta maaf,” katanya.

Andri pun menuntut pihak sekolah bertanggung jawab atas adab atau akhlak para siswa. Jangan sampai, lulusan sekolah tidak memiliki perilaku yang baik atau akhlak yang baik.

“Sekolah harus bertanggung jawab terhadap adab siswanya, sopan santun, atau akhlak. Jangan hanya lulus dibekali ilmu. Mereka yang lulus juga harus dibekali adab,” katanya.

Sementara itu, sikap Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Pasuruan Zainal Abidin terhadap aksi vandalisme itu lebih keras. Menurutnya, aksi vandalisme itu merupakan gaya lama. Dan itu tidak boleh terjadi.

Karena itu, pelajar yang terlibat harus diberi sanksi akademis. Bahkan, perlu diberikan sanksi hukum untuk memberikan efek jera. Terutama pada pelajar di bawahnya.

“Saya nggak tahu persis, apakah perbuatan ini bisa masuk ranah pidana atau tidak. Harapan kami bisa dipidana, kalau ini dipandang merusak. Biar takut. Kalau hanya dikasih wejangan atau pembinaan, nggak takut mereka,” tandasnya.

Selain itu, Zainal juga menuntut agar sekolah memperhatikan akhlak siswanya. Bahkan, sekolah harus menjadikan akhlak dan perilaku siswa sebagai pertimbangan penilaian dan kelulusan.

“Sekolah harus memasukkan akhlak sebagai bagian dari penilaian untuk lulus atau tidak. Selama ini lulus itu cukup siswa yang pintar, akalnya kuat, ujian tulis bagus, sekolah daring bagus. Tapi, kalau kelakuannya di luar macam-macam, nggak masuk dalam penilaian,” jelasnya.

Pihaknya pun akan mengusulkan penilaian akhlak siswa pada sekolah. Sehingga tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari.

Terlepas dari itu, Zainal mengingatkan bahwa membimbing pelajar dan anak merupakan tanggung jawab bersama. “Mungkin orang tua perhatiannya kurang, pihak sekolah tak memberikan contoh, atau karena lingkungan. Semua punya saham. Lingkungan ini nggak terkontrol, arena bebas,” pungkasnya. (sid/hn)

 

 

Mobile_AP_Rectangle 1

PASURUAN, Radar Bromo–Pelajar yang terlibat dalam aksi corat-coret gapura wisata di Desa Baledono, Kecamatan Tosari, harus minta maaf pada warga Pasuruan. Bahkan, harus minta maaf secara terbuka.

Desakan itu diungkapkan Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan Lulis Irsyad Yusuf. Ia mengatakan, permintaan maaf dari pelaku merupakan bentuk tanggung jawab atas tindakan mereka. “Mereka yang terlibat harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuat. Caranya, dengan minta maaf secara terbuka dan tertulis,” terangnya.

Permintaan maaf, menurut Lulis, harus dilakukan. Jika tidak, maka dikhawatirkan adik-adiknya akan melakukan hal yang sama di kemudian hari. “Karena itu, mereka harus diajari minta maaf terbuka dan tertulis,” tandasnya.

Mobile_AP_Half Page

Selain itu, mereka harus diberi sanksi. Namun, karena masih pelajar, maka sanksi yang pas adalah pembinaan. Sekolah harus membina pelajar yang terlibat aksi vandalisme pada hari Selasa (8/6) itu.

Lulis sendiri sangat menyayangkan kejadian itu. Menurutnya, tidak sepatutnya hal demikian terjadi.

“Saya prihatin. Pandemi Covid belum berakhir kan. Pastinya sekolah sudah mengimbau kepada anak didiknya untuk tidak terlalu mengekspresikan kelulusan selama pandemi,” katanya.

Namun, Lulis tidak ingin menyalahkan siapapun. Dia hanya berharap, peristiwa itu tidak terjadi lagi di kemudian hari. Sebab, bukan zamannya lagi merayakan kelulusan dengan corat-coret.

Di masa pandemi Covid-19, seharusnya anak-anak ikut prihatin. Dalam kondisi ini, perayaan kelulusan paling baik adalah berada di rumah. Karena saat pandemi melakukan kegiatan yang menimbulkan potensi kerumunan tidak boleh.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Andrie Wahyudi juga prihatin dengan aksi vandalisme itu. Menurutnya, tidak sepatutnya jalan wisata dicorat-coret. Bahkan, sampah saja seharusnya tidak ada di lokasi wisata. Sebab, kawasan wisata Bromo termasuk dalam 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Jangankan dicorat-coret, sampah saja harus bersih di kawasan itu,” katanya.

Pihaknya pun berharap agar sekolah memberikan pembinaan pada siswa yang terlibat. Sebab, masa depan mereka masih panjang dan akan bertemu dengan dunia nyata.

“Bukan sanksi yang diberikan ya, karena mereka sudah lulus dan alumni. Jadi pembinaan oleh sekolah. Dan tentunya mereka ini harus meminta maaf,” katanya.

Andri pun menuntut pihak sekolah bertanggung jawab atas adab atau akhlak para siswa. Jangan sampai, lulusan sekolah tidak memiliki perilaku yang baik atau akhlak yang baik.

“Sekolah harus bertanggung jawab terhadap adab siswanya, sopan santun, atau akhlak. Jangan hanya lulus dibekali ilmu. Mereka yang lulus juga harus dibekali adab,” katanya.

Sementara itu, sikap Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Pasuruan Zainal Abidin terhadap aksi vandalisme itu lebih keras. Menurutnya, aksi vandalisme itu merupakan gaya lama. Dan itu tidak boleh terjadi.

Karena itu, pelajar yang terlibat harus diberi sanksi akademis. Bahkan, perlu diberikan sanksi hukum untuk memberikan efek jera. Terutama pada pelajar di bawahnya.

“Saya nggak tahu persis, apakah perbuatan ini bisa masuk ranah pidana atau tidak. Harapan kami bisa dipidana, kalau ini dipandang merusak. Biar takut. Kalau hanya dikasih wejangan atau pembinaan, nggak takut mereka,” tandasnya.

Selain itu, Zainal juga menuntut agar sekolah memperhatikan akhlak siswanya. Bahkan, sekolah harus menjadikan akhlak dan perilaku siswa sebagai pertimbangan penilaian dan kelulusan.

“Sekolah harus memasukkan akhlak sebagai bagian dari penilaian untuk lulus atau tidak. Selama ini lulus itu cukup siswa yang pintar, akalnya kuat, ujian tulis bagus, sekolah daring bagus. Tapi, kalau kelakuannya di luar macam-macam, nggak masuk dalam penilaian,” jelasnya.

Pihaknya pun akan mengusulkan penilaian akhlak siswa pada sekolah. Sehingga tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari.

Terlepas dari itu, Zainal mengingatkan bahwa membimbing pelajar dan anak merupakan tanggung jawab bersama. “Mungkin orang tua perhatiannya kurang, pihak sekolah tak memberikan contoh, atau karena lingkungan. Semua punya saham. Lingkungan ini nggak terkontrol, arena bebas,” pungkasnya. (sid/hn)

 

 

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2