alexametrics
27.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Saat Nagih Utang, Juru Tagih Rentenir Malah Ditawari Kelon

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PASURUAN, Radar Bromo – Rentenir jelas mencari untung dalam menjalankan usahanya. Bahkan beberapa pelaku usahanya, bisa mempekerjakan karyawan. Tak ayal usaha ini juga memiliki karyawan sesuai bidangnya. Mulai dari marketing, hingga juru tagih alias debt collector.

R misalnya, warga Mojokerto yang pernah malang melintang sebagai marketing dan memiliki banyak nasabah. Kebanyakan, nasabahnya adalah kaum hawa. Mulai dari pedagang sampai ibu rumah tangga.

“Yang lucu, mantan nasabah saya rata-rata meminjam, tanpa sepengetahuan suami. Dan mereka sering berpesan, agar saat menagih, jangan pagi hari. Karena biasanya suami dan anak masih ada di rumah,” beber R.

R yang juga beberapa kali menjadi juru tagih, punya segudang cerita saat dia menemui nasabah yang tak bisa membayar cicilan. Sembunyi dan ngeles, adalah hal yang biasa. Tapi yang paling diingatnya adalah, saat dia menagih dan mendapat godaan.

“Saat ditagih, nasabah tidak bisa bayar. Karena sudah sering, akhirnya nasabah itu menawarkan diri untuk kelon sama saya. Godaannya besar,” beber R.

Menjadi juru tagih, juga harus punya sifat sabar. Harus pandai menahan emosi. Karena, menemui nasabah nakal, adalah suatu kepastian. Dan ketika bertemu nasabah model seperti ini, R tidak boleh marah-marah. Harus atur strategi. Karena saat nasabah tidak membayar, maka itu adalah kegagalan bagi dirinya.

“Bos kan tahunya pekerjaan harus beres. Kami bukan perbankan yang bisa mengancam, melelang anggunannya. Memang sesekali kami harus kasar dan terkadang mencaci maki. Tapi itu bukan solusi,” beber pria yang hampir setiap hari pulang dan pergi dari Mojokerto ke Pasuruan setiap hari itu.

Hingga sekitar lima tahun yang lalu, R memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai marketing dan juru tagih. Dia menemukan pekerjaan yang bebas dari riba. “Saya nyales barang dan hampir lima tahun lalu saya berhenti. Meskipun, terkadang di kalangan pasar, bank titil itu lebih di-ajeni daripada sales. Tapi setidaknya saya bisa keluar dari riba,” kata R. (one/ube)

Mobile_AP_Rectangle 1

PASURUAN, Radar Bromo – Rentenir jelas mencari untung dalam menjalankan usahanya. Bahkan beberapa pelaku usahanya, bisa mempekerjakan karyawan. Tak ayal usaha ini juga memiliki karyawan sesuai bidangnya. Mulai dari marketing, hingga juru tagih alias debt collector.

R misalnya, warga Mojokerto yang pernah malang melintang sebagai marketing dan memiliki banyak nasabah. Kebanyakan, nasabahnya adalah kaum hawa. Mulai dari pedagang sampai ibu rumah tangga.

“Yang lucu, mantan nasabah saya rata-rata meminjam, tanpa sepengetahuan suami. Dan mereka sering berpesan, agar saat menagih, jangan pagi hari. Karena biasanya suami dan anak masih ada di rumah,” beber R.

Mobile_AP_Half Page

R yang juga beberapa kali menjadi juru tagih, punya segudang cerita saat dia menemui nasabah yang tak bisa membayar cicilan. Sembunyi dan ngeles, adalah hal yang biasa. Tapi yang paling diingatnya adalah, saat dia menagih dan mendapat godaan.

“Saat ditagih, nasabah tidak bisa bayar. Karena sudah sering, akhirnya nasabah itu menawarkan diri untuk kelon sama saya. Godaannya besar,” beber R.

Menjadi juru tagih, juga harus punya sifat sabar. Harus pandai menahan emosi. Karena, menemui nasabah nakal, adalah suatu kepastian. Dan ketika bertemu nasabah model seperti ini, R tidak boleh marah-marah. Harus atur strategi. Karena saat nasabah tidak membayar, maka itu adalah kegagalan bagi dirinya.

“Bos kan tahunya pekerjaan harus beres. Kami bukan perbankan yang bisa mengancam, melelang anggunannya. Memang sesekali kami harus kasar dan terkadang mencaci maki. Tapi itu bukan solusi,” beber pria yang hampir setiap hari pulang dan pergi dari Mojokerto ke Pasuruan setiap hari itu.

Hingga sekitar lima tahun yang lalu, R memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai marketing dan juru tagih. Dia menemukan pekerjaan yang bebas dari riba. “Saya nyales barang dan hampir lima tahun lalu saya berhenti. Meskipun, terkadang di kalangan pasar, bank titil itu lebih di-ajeni daripada sales. Tapi setidaknya saya bisa keluar dari riba,” kata R. (one/ube)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2