alexametrics
27.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Debt Collector Emak-Emak Lebih Seram ketimbang Pria

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PASURUAN, Radar Bromo – Peminjam uang kepada rentenir harus kuat menahan malu. Para penagih (debt collector) tak pandang bulu dan tidak pandang waktu untuk menagih cicilan pinjaman. Sosok ”emak-emak” sering lebih seram.

Fitri (samaran), pedagang di Pasar Kota Pasuruan, mengaku hafal betul ciri-ciri penagih itu. Khususnya yang laki-laki. Umumnya, mereka mudah dikenali. Pakai jaket kulit atau rompi, bercelana gelap, pakai sarung tangan, selalu bersepatu.

Ciri yang paling khas mereka adalah selalu membawa tas kecil. Isinya buku catatan dan cuilan-cuilan kertas untuk bukti tagihan. ”Dari jauh sudah kelihatan kalau mau nagih,” ujar perempuan 42 tahun tersebut.

Untuk pedagang yang rajin membayar, sikap para debt collector itu sangat ramah. Mengajak guyon. Kadang-kadang nagih sambil mijit-mijit pundak dan kaki. Sikap sebaliknya muncul terhadap pedagang yang menunggak. Mereka melotot, nggerundel, atau paling banter menuding dengan jari.

”Tapi, mereka enggan ribut atau ramai di depan umum. Soalnya yang punya utang kebanyakan ibu-ibu,” kata Fitri. Yang penting uang pinjaman bisa kembali. Kepada para penagih pria, pedagang tidak terlalu takut.

Yang membuat mereka miris justru para penagih dari sesama ibu-ibu. Alias debt collector emak-emak. Pakaiannya biasa. Tidak terlihat seperti penagih cicilan bank titil. Mirip dengan ibu-ibu biasa yang belanja di pasar. Nggak gampang dikenali. Tapi, bagi pedagang, justru mereka ini sangat menakutkan.

Mengapa? ”Dari jauh biasanya sudah teriak. Ayooooo kapan bayar kamu!!!” Akibatnya, pedagang satu pasar seperti mendengar teriakan itu. Saking kerasnya. Belum puas teriak-teriak, emak-emak suruhan rentenir itu tak segan-segan mengajak bertengkar. Memaki-maki di depan orang banyak.

”Saya sampai kaget. Kirain orang bertengkar. Nggak tahunya emak itu nagih utang kredit ke pedagang di depan saya,” tambah Fitri.

Tujuannya, mempermalukan orang yang punya utang. Berani hanya dengan mulut. Tidak sampai main fisik. ”Pokoknya nggak sumbut. Pedagang satu pasar jadi tahu semua,” katanya. Kadang ada pedagang yang malu. Besoknya tidak berani jualan. Ada yang sampai sakit. Bahkan, ada yang meninggal meski masih punya utang.

Tapi, ada juga debt collector emak-emak yang halus. Khususnya kepada peminjam uang yang rajin membayar. Salah satunya, Fitri. ”Sampai-sampai yang nagih kadang tak suruh ambil uang sendiri di selorokan meja,” ungkapnya sembari tertawa. (ube/far)

Mobile_AP_Rectangle 1

PASURUAN, Radar Bromo – Peminjam uang kepada rentenir harus kuat menahan malu. Para penagih (debt collector) tak pandang bulu dan tidak pandang waktu untuk menagih cicilan pinjaman. Sosok ”emak-emak” sering lebih seram.

Fitri (samaran), pedagang di Pasar Kota Pasuruan, mengaku hafal betul ciri-ciri penagih itu. Khususnya yang laki-laki. Umumnya, mereka mudah dikenali. Pakai jaket kulit atau rompi, bercelana gelap, pakai sarung tangan, selalu bersepatu.

Ciri yang paling khas mereka adalah selalu membawa tas kecil. Isinya buku catatan dan cuilan-cuilan kertas untuk bukti tagihan. ”Dari jauh sudah kelihatan kalau mau nagih,” ujar perempuan 42 tahun tersebut.

Mobile_AP_Half Page

Untuk pedagang yang rajin membayar, sikap para debt collector itu sangat ramah. Mengajak guyon. Kadang-kadang nagih sambil mijit-mijit pundak dan kaki. Sikap sebaliknya muncul terhadap pedagang yang menunggak. Mereka melotot, nggerundel, atau paling banter menuding dengan jari.

”Tapi, mereka enggan ribut atau ramai di depan umum. Soalnya yang punya utang kebanyakan ibu-ibu,” kata Fitri. Yang penting uang pinjaman bisa kembali. Kepada para penagih pria, pedagang tidak terlalu takut.

Yang membuat mereka miris justru para penagih dari sesama ibu-ibu. Alias debt collector emak-emak. Pakaiannya biasa. Tidak terlihat seperti penagih cicilan bank titil. Mirip dengan ibu-ibu biasa yang belanja di pasar. Nggak gampang dikenali. Tapi, bagi pedagang, justru mereka ini sangat menakutkan.

Mengapa? ”Dari jauh biasanya sudah teriak. Ayooooo kapan bayar kamu!!!” Akibatnya, pedagang satu pasar seperti mendengar teriakan itu. Saking kerasnya. Belum puas teriak-teriak, emak-emak suruhan rentenir itu tak segan-segan mengajak bertengkar. Memaki-maki di depan orang banyak.

”Saya sampai kaget. Kirain orang bertengkar. Nggak tahunya emak itu nagih utang kredit ke pedagang di depan saya,” tambah Fitri.

Tujuannya, mempermalukan orang yang punya utang. Berani hanya dengan mulut. Tidak sampai main fisik. ”Pokoknya nggak sumbut. Pedagang satu pasar jadi tahu semua,” katanya. Kadang ada pedagang yang malu. Besoknya tidak berani jualan. Ada yang sampai sakit. Bahkan, ada yang meninggal meski masih punya utang.

Tapi, ada juga debt collector emak-emak yang halus. Khususnya kepada peminjam uang yang rajin membayar. Salah satunya, Fitri. ”Sampai-sampai yang nagih kadang tak suruh ambil uang sendiri di selorokan meja,” ungkapnya sembari tertawa. (ube/far)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2