alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Rumah Tangga 635 Pasangan Goyang, Saling Gugat Cerai

PASURUAN, Radar Bromo – Gugatan perceraian yang masuk Pengadilan Agama (PA) Pasuruan masih mencapai ratusan perkara. Januari hingga Maret 2022, ada 635 perkara cerai yang diajukan. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya selisih satu perkara.

Pada Januari hingga Maret 2021, tercatat ada 636 kasus perceraian yang diajukan. Sementara dalam tiga bulan pertama 2022 ini, sudah ada 635 kasus yang sama. Sebagian besar gugatan dilayangkan oleh pihak istri. Perinciannya, 457 perkara jenis cerai gugat dan 178 perkara cerai talak.

Panitera PA Pasuruan Margono mengakui setiap kasus perceraian dilatarbelakangi hubungan suami–istri yang tidak lagi harmonis. Pemicunya bermacam-macam. Tetapi, faktor terbesar yang mendasari perceraian ialah persoalan ekonomi. Misalnya, perekonomian keluarga yang tidak sehat maupun kelalaian suami memberikan nafkah.

Tidak ada upaya penyelesaian dari pasangan. Hubungan mereka terus bersitegang dan berakhir di pengadilan. ”Sebenarnya gugatan cerai maupun talak sama-sama didominasi faktor ekonomi keluarga,” katanya.

Kendati demikian, tambah Margono, ada juga faktor lain yang turut andil dalam terjadinya perceraian pasangan di wilayah PA Pasuruan. Di antaranya, masalah perselingkuhan. Ini bisa dialami dua pihak. Baik suami maupun istri.

Sementara gugatan yang masuk belum semuanya diputus. Cerai gugat, sebanyak 354 perkara, sudah diputus. Untuk cerai talak, 132 perkara sudah diputus hakim. ”Setiap perkara yang masuk memang kami upayakan tidak lebih dari sebulan bisa tuntas. Artinya, sudah masuk tahap putusan,” katanya.

Margono mengatakan, tidak hanya penyelesaian perkara perceraian yang diupayakan tidak memakan waktu lama. Semua jenis gugatan juga sebisa-bisanya sudah mendapat putusan pengadilan dalam jangka waktu tersebut. Sebab, gugatan selalu masuk setiap waktu.

PASURUAN, Radar Bromo – Gugatan perceraian yang masuk Pengadilan Agama (PA) Pasuruan masih mencapai ratusan perkara. Januari hingga Maret 2022, ada 635 perkara cerai yang diajukan. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya selisih satu perkara.

Pada Januari hingga Maret 2021, tercatat ada 636 kasus perceraian yang diajukan. Sementara dalam tiga bulan pertama 2022 ini, sudah ada 635 kasus yang sama. Sebagian besar gugatan dilayangkan oleh pihak istri. Perinciannya, 457 perkara jenis cerai gugat dan 178 perkara cerai talak.

Panitera PA Pasuruan Margono mengakui setiap kasus perceraian dilatarbelakangi hubungan suami–istri yang tidak lagi harmonis. Pemicunya bermacam-macam. Tetapi, faktor terbesar yang mendasari perceraian ialah persoalan ekonomi. Misalnya, perekonomian keluarga yang tidak sehat maupun kelalaian suami memberikan nafkah.

Tidak ada upaya penyelesaian dari pasangan. Hubungan mereka terus bersitegang dan berakhir di pengadilan. ”Sebenarnya gugatan cerai maupun talak sama-sama didominasi faktor ekonomi keluarga,” katanya.

Kendati demikian, tambah Margono, ada juga faktor lain yang turut andil dalam terjadinya perceraian pasangan di wilayah PA Pasuruan. Di antaranya, masalah perselingkuhan. Ini bisa dialami dua pihak. Baik suami maupun istri.

Sementara gugatan yang masuk belum semuanya diputus. Cerai gugat, sebanyak 354 perkara, sudah diputus. Untuk cerai talak, 132 perkara sudah diputus hakim. ”Setiap perkara yang masuk memang kami upayakan tidak lebih dari sebulan bisa tuntas. Artinya, sudah masuk tahap putusan,” katanya.

Margono mengatakan, tidak hanya penyelesaian perkara perceraian yang diupayakan tidak memakan waktu lama. Semua jenis gugatan juga sebisa-bisanya sudah mendapat putusan pengadilan dalam jangka waktu tersebut. Sebab, gugatan selalu masuk setiap waktu.

MOST READ

BERITA TERBARU

/