alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Tradisi Praonan yang Kembali Digelar di Pasuruan usai 2 Tahun Vakum

PASURUAN, Radar Bromo – Setelah dua tahun vakum, warga pesisir Pasuruan kembali menggelar Praonan. Sebuah tradisi yang dilakukan tepat di Lebaran Ketupat atau Lebaran ketujuh.

Ribuan warga dari berbagai daerah pun berbondong-bondong mendatangi kawasan Pelabuhan Pasuruan. Ini seperti mengobati kerinduan warga akan tradisi Praonan yang dua tahun terakhir ditiadakan.

Mereka datang bersama rombongan keluarganya. Tua, muda, hingga anak-anak riang menaiki perahu atau kapal layar milik nelayan setempat. Teriknya matahari bahkan tak menghilangkan rasa senang para penumpang. Mereka antusias menaiki perahu hingga ke tengah laut lepas.

Salah satunya M. Zidan, 30, yang rela jauh-jauh dari Madura datang ke Pasuruan bersama keluarga besarnya. Kebetulan Zidan punya kerabat di Gadingrejo, Kota Pasuruan. Tiap Lebaran Ketupat, dia pun datang. Kali ini, dia juga membawa istri serta dua buah hatinya menumpangi perahu.

“Alhamdulillah bisa liburan kecil-kecilan. Numpak kapal gratis karena masih saudara. Anak-anak juga senang. Mereka sudah biasa,” ungkap Zidan.

Praonan sendiri dimulai pukul 08.00. Sekitar 40 perahu nelayan menyambut kedatangan pengunjung di pelabuhan. Semuanya hilir mudik mengangkut penumpang menuju perairan.

Ketua Pokdarwis Pesona Pantura Ngemplakrejo Gatot Hartowo menjelaskan, tradisi Praonan kembali digelar setelah dua tahun vakum lantaran pandemi Covid-19. Memang, tahun ini tradisi tersebut masih digelar sederhana. Tidak ada hiburan orkes dangdut maupun rangkaian perlombaan seperti biasanya.

“Biasanya bisa lebih meriah. Sekarang kemasannya lebih sederhana, karena ada pandemi,” ungkap Gatot.

Ia berharap, pemerintah bisa mendukung kegiatan masyarakat semacam itu. Sebab, efek tradisi ini cukup banyak. Misalnya, bisa menjadi potensi wisata bila dikemas lebih menarik.

“Kami juga berupaya menjaga tradisi yang sudah dijalankan sejak nenek moyang saat hari raya ketupat,” ungkap Gatot.

Selain itu, sektor ekonomi warga sekitar juga terangkat saat Praonan digelar. Mulai dari nelayan yang menyewakan perahunya, juga pedagang.

“Nelayan bisa dapat penghasilan dengan menyewakan perahunya antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kepala,” katanya.

Namun, tarif tersebut tidak berlaku bagi penumpang yang notabene masih punya hubungan kerabat dengan nelayan setempat. Karena, mereka berkunjung untuk bersilaturahmi. Sehingga mereka pun bisa menumpangi perahu nelayan hingga 1 mil dari daratan. Tepatnya hingga ke banjang.

Abdul Kholiq, 57, misalnya sengaja menyewakan perahunya selama Praonan. Hal itu juga sudah dilakukan sejak dulu. Sebelum perahu kembali dipakai untuk mencari ikan selepas Lebaran Ketupat.

“Kalau hasilnya dibagi dengan anak-anak yang kerja. Biasanya antara Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta. Saya sendiri cukup dapat pengganti solarnya saja,” ungkap Kholiq. (tom/hn)

 

PASURUAN, Radar Bromo – Setelah dua tahun vakum, warga pesisir Pasuruan kembali menggelar Praonan. Sebuah tradisi yang dilakukan tepat di Lebaran Ketupat atau Lebaran ketujuh.

Ribuan warga dari berbagai daerah pun berbondong-bondong mendatangi kawasan Pelabuhan Pasuruan. Ini seperti mengobati kerinduan warga akan tradisi Praonan yang dua tahun terakhir ditiadakan.

Mereka datang bersama rombongan keluarganya. Tua, muda, hingga anak-anak riang menaiki perahu atau kapal layar milik nelayan setempat. Teriknya matahari bahkan tak menghilangkan rasa senang para penumpang. Mereka antusias menaiki perahu hingga ke tengah laut lepas.

Salah satunya M. Zidan, 30, yang rela jauh-jauh dari Madura datang ke Pasuruan bersama keluarga besarnya. Kebetulan Zidan punya kerabat di Gadingrejo, Kota Pasuruan. Tiap Lebaran Ketupat, dia pun datang. Kali ini, dia juga membawa istri serta dua buah hatinya menumpangi perahu.

“Alhamdulillah bisa liburan kecil-kecilan. Numpak kapal gratis karena masih saudara. Anak-anak juga senang. Mereka sudah biasa,” ungkap Zidan.

Praonan sendiri dimulai pukul 08.00. Sekitar 40 perahu nelayan menyambut kedatangan pengunjung di pelabuhan. Semuanya hilir mudik mengangkut penumpang menuju perairan.

Ketua Pokdarwis Pesona Pantura Ngemplakrejo Gatot Hartowo menjelaskan, tradisi Praonan kembali digelar setelah dua tahun vakum lantaran pandemi Covid-19. Memang, tahun ini tradisi tersebut masih digelar sederhana. Tidak ada hiburan orkes dangdut maupun rangkaian perlombaan seperti biasanya.

“Biasanya bisa lebih meriah. Sekarang kemasannya lebih sederhana, karena ada pandemi,” ungkap Gatot.

Ia berharap, pemerintah bisa mendukung kegiatan masyarakat semacam itu. Sebab, efek tradisi ini cukup banyak. Misalnya, bisa menjadi potensi wisata bila dikemas lebih menarik.

“Kami juga berupaya menjaga tradisi yang sudah dijalankan sejak nenek moyang saat hari raya ketupat,” ungkap Gatot.

Selain itu, sektor ekonomi warga sekitar juga terangkat saat Praonan digelar. Mulai dari nelayan yang menyewakan perahunya, juga pedagang.

“Nelayan bisa dapat penghasilan dengan menyewakan perahunya antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kepala,” katanya.

Namun, tarif tersebut tidak berlaku bagi penumpang yang notabene masih punya hubungan kerabat dengan nelayan setempat. Karena, mereka berkunjung untuk bersilaturahmi. Sehingga mereka pun bisa menumpangi perahu nelayan hingga 1 mil dari daratan. Tepatnya hingga ke banjang.

Abdul Kholiq, 57, misalnya sengaja menyewakan perahunya selama Praonan. Hal itu juga sudah dilakukan sejak dulu. Sebelum perahu kembali dipakai untuk mencari ikan selepas Lebaran Ketupat.

“Kalau hasilnya dibagi dengan anak-anak yang kerja. Biasanya antara Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta. Saya sendiri cukup dapat pengganti solarnya saja,” ungkap Kholiq. (tom/hn)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/