5.810 Ton Pupuk Subsidi Tak Terserap, Paling Banyak Urea

HIJAU: Sejumlah petani di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, menyemprot tanamannya. Jatah pupuk bersubsidi di Kabupaten Pasuruan untuk tahun 2019 masih tersisa ribuan ton. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN, Radar Bromo – Sepanjang 2019, Pemkab Pasuruan mendapatkan alokasi pupuk subsidi sebanyak 57.240 ton. Namun, jatah tersebut tak semuanya terserap. Sampai tutup tahun masih tersisa 5.810 ton. Banyaknya sisa pupuk ini disebut-sebut karena dua kecamatan yang diblokir.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan Yetti Purwaningsih didampingi Kabid Sarana Prasarana Dibyo Darminto mengatakan, sampai tutup tahun 2019, pupuk subsidi di Kabupaten Pasuruan tersisa 5.810 ton.

“Dari total kuota pupuk subsidi memang tidak terserap 100 persen. Paling besar karena diblokirnya penyalurkan pupuk subsidi untuk dua kecamatan. Yaitu, Tosari dan Tutur,” ujarnya.

Dua kecamatan ini diblokir sejak Mei 2019 karena pemetaan pada akhir 2018 dan dianggap tidak ada lahan sawah lagi. “Sejak Juni sampai Desember, pupuk subsidi tidak bisa disalurkan ke dua kecamatan di atas (Tosari dan Tutur). Inilah yang membuat sisa pupuk subsidi menjadi tinggi,” jelas Yetti.

Menurutnya, sisa pupuk subsidi 5.810 ton ini lebih kecil dibanding sisa tahun 2018 lalu. Saat itu sisanya mencapai 6 ribu ton. Sisa pupuk yang tidak terserap itu belum sampai terdistribusi ke agen dan toko. Karenanya, dari tingkat bawah tidak perlu mengembalikan sisa kuota ke Pemerintah Pusat.

Yetti mengatakan, sepanjang 2019 pihaknya mendapatkan alokasi pupuk subsidi 57.240 ton. Alokasi terbanyak berupa pupuk urea yang mencapai 34.190 ton. Karenanya, sisanya juga cukup banyak. Sampai tutup tahun 2019, sisa pupuk urea mencapai 2.763 ton.

Pupuk SP-36 dari kuota 2.605 ton tersisa 253 ton. Pupuk ZA dari kuota 6.437 ton tersisa 2.001 ton. Sedangkan, pupuk NPK dari kuota 10.260 ton tersisa 2 ton dan pupuk organik dari 3.748 ton tersisa 791 ton.

Menurut Yetti, selama ini penyerapan pupuk terbanyak ketika memasuki musim tanam pertama. Yakni, pada periode Januri sampai April dan periode tanam kedua pada September-Desember. (eka/rud/fun)