Selama 6 Bulan di 2020, Nihil Temuan Gizi Buruk di Kota Pasuruan

BUGUL KIDUL, Radar Bromo – Jumlah balita yang mengalami gizi buruk di Kota Pasuruan menurun drastis. Dinas Kesehatan (Dinkes) kota setempat mengaku tidak menerima adanya temuan baru selama enam bulan pertama di tahun ini. Kondisi ini tidak terlepas adanya program peningkatan gizi balita melalui imunisasi dan vitamin secara rutin.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengungkapkan, kasus balita dengan gizi buruk di Kota Pasuruan tahun ini menurun drastis. Sebab, sepanjang 2020 ini Dinkes tidak menerima laporan baru dari masyarakat. Ini, jauh dibandingkan tahun lalu di mana Dinkes menemukan 25 balita mengalami gizi buruk.

Shierly menjelaskan, gizi buruk ini disebabkan oleh berbagai faktor. Paling dominan adalah kondisi kesehatan ibu saat mengandung. Utamanya pada usia kehamilan 0 sampai dua tahun. Jika kondisi ibu memiliki penyakit lain yang mendasari, misalnya ibu tersebut menderita penyakit HIV, maka bayi yang dilahirkannya rawan mengalami gizi buruk.

Selain itu, gizi buruk yang dialami oleh balita ini juga disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada ibu saat mengandung. Lalu, kondisi sosial ekonomi yang rendah sehingga gizi yang diberikan pada balita rendah, kurangnya asupan air susu ibu (ASI), serta rendahnya sanitasi atau kebersihan lingkungan yang buruk.

“Namun, untuk tahun ini belum ada laporan. Kalau ada yang mengalami gizi buruk, pasti termonitor oleh kami dan langsung ditangani,” ungkapnya.

Shierly menjelaskan, gizi buruk yang dialami oleh balita ini patut diwaspadai. Sebab, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Ini, bisa terjadi karena asupan gizi yang diberikan kurang, maka tumbuh kembang terlambat sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi yang mengakibatkan kematian.

Untuk itu, pihak Dinkes rutin memberikan program bulan timbang setiap tahun di Posyandu. Di sini balita akan mendapatkan timbang BB, mengukur tinggi badan, dan pemberian vitamin serta imunisasi. Manfaatnya balita bisa terpantau kesehatannya dan bisa segera terdeteksi jika ada kelainan pada tumbuh kembangnya.

Selain itu, juga yang tidak kalah penting, bumil harus rutin memeriksakan kehamilannya. Sehingga, pemenuhan gizi bumil bisa terpantau. Jika kondisi bumil dinilai rawan, maka Dinkes melalui posyandu akan memberikan vitamin tambahan bagi mereka.

“Gizi buruk ini penyakit yang sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Kami berharap orang tua selalu melakukan timbang secara rutin melalui puskesmas,” sebutnya. (riz/fun)