alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Kasus Covid Naik, Sekolah Tatap Muka di Kota Pasuruan Dibatasi Lagi

PASURUAN, Radar Bromo – Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 100 persen di Kota Pasuruan terpaksa harus dihentikan. Sebab, kasus Covid-19 saat ini kembali meledak. Lonjakan kasus setiap harinya begitu cepat. Hingga Kota Pasuruan kembali harus menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level dua.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Mualif Arif mengaku harus kembali merevisi penerapan pembelajaran tatap muka bagi siswa. Mulai kemarin (7/2), kapasitas siswa yang masuk kelas bukan lagi 100 persen.

“Siswa yang boleh masuk hanya 50 persen. Karena PPKM Kota Pasuruan sekarang berada di level dua,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pelaksanaan PTMT 50 persen tersebut mengacu pada surat edaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset RI terkait PTM tentang Diskresi Pelaksanaan Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Aturan itu menjelaskan, daerah dengan PPKM level dua mesti menerapkan PTMT Terbatas dengan kapasitas ruangan kelas 50 persen.

“Jadi, mulai kemarin PTMT di SD dan SMP negeri, maupun swasta sudah menerapkan kapasitas 50 persen di tiap ruang kelas pada satuan pendidikan,” beber Ayik -sapaan Mualif Arif-.

Dia juga menjelaskan, dua SMP swasta yang sebelumnya harus menerapkan belajar dari rumah secara virtual daring kini boleh mengikuti PTMT. Sebab, kendala vaksinasi di dua sekolah tersebut sudah teratasi.

“Yang dua sekolah itu sudah mulai mengikuti vaksinasi, sehingga bisa ikut PTMT. Namun, tetap sesuai ketentuan yang terbaru dengan kapasitas 50 persen,” ungkapnya.

Ayik berharap dengan diterapkannya PTMT 50 persen bisa membuat pembelajaran di sekolah-sekolah lebih aman. Kendati demikian, dinasnya juga tak melarang orang tua yang ingin anaknya belajar dari rumah secara penuh. Mengingat, situasi Covid-19 kini memang perlu diwaspadai.

“Orang tua diberi pilihan untuk mengikuti PTMT atau BDR (belajar dari rumah),” terang dia.

Lebih lanjut, Ayik menyebut penularan kasus Covid-19 di sekolah juga bertambah. Tidak hanya di SDN Kebonsari. Hingga kemarin, dinasnya mendapat laporan ada dua sekolah yang juga ditemukan kasus Covid-19. Yaitu di SDN Krapyakrejo dan SMPN 5 Pasuruan. Dua sekolah tersebut langsung ditutup. Pembelajaran dilakukan secara daring sepenuhnya.

“Untuk keperluan tracing, dua sekolah itu ditutup sementara. Pembelajaran full dilakukan secara daring,” tambahnya. (tom/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 100 persen di Kota Pasuruan terpaksa harus dihentikan. Sebab, kasus Covid-19 saat ini kembali meledak. Lonjakan kasus setiap harinya begitu cepat. Hingga Kota Pasuruan kembali harus menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level dua.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Mualif Arif mengaku harus kembali merevisi penerapan pembelajaran tatap muka bagi siswa. Mulai kemarin (7/2), kapasitas siswa yang masuk kelas bukan lagi 100 persen.

“Siswa yang boleh masuk hanya 50 persen. Karena PPKM Kota Pasuruan sekarang berada di level dua,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pelaksanaan PTMT 50 persen tersebut mengacu pada surat edaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset RI terkait PTM tentang Diskresi Pelaksanaan Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Aturan itu menjelaskan, daerah dengan PPKM level dua mesti menerapkan PTMT Terbatas dengan kapasitas ruangan kelas 50 persen.

“Jadi, mulai kemarin PTMT di SD dan SMP negeri, maupun swasta sudah menerapkan kapasitas 50 persen di tiap ruang kelas pada satuan pendidikan,” beber Ayik -sapaan Mualif Arif-.

Dia juga menjelaskan, dua SMP swasta yang sebelumnya harus menerapkan belajar dari rumah secara virtual daring kini boleh mengikuti PTMT. Sebab, kendala vaksinasi di dua sekolah tersebut sudah teratasi.

“Yang dua sekolah itu sudah mulai mengikuti vaksinasi, sehingga bisa ikut PTMT. Namun, tetap sesuai ketentuan yang terbaru dengan kapasitas 50 persen,” ungkapnya.

Ayik berharap dengan diterapkannya PTMT 50 persen bisa membuat pembelajaran di sekolah-sekolah lebih aman. Kendati demikian, dinasnya juga tak melarang orang tua yang ingin anaknya belajar dari rumah secara penuh. Mengingat, situasi Covid-19 kini memang perlu diwaspadai.

“Orang tua diberi pilihan untuk mengikuti PTMT atau BDR (belajar dari rumah),” terang dia.

Lebih lanjut, Ayik menyebut penularan kasus Covid-19 di sekolah juga bertambah. Tidak hanya di SDN Kebonsari. Hingga kemarin, dinasnya mendapat laporan ada dua sekolah yang juga ditemukan kasus Covid-19. Yaitu di SDN Krapyakrejo dan SMPN 5 Pasuruan. Dua sekolah tersebut langsung ditutup. Pembelajaran dilakukan secara daring sepenuhnya.

“Untuk keperluan tracing, dua sekolah itu ditutup sementara. Pembelajaran full dilakukan secara daring,” tambahnya. (tom/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/