Retribusi dari RPH di Kab Pasuruan Merosot Sepanjang 2019

TURUN: Kondisi RPH Wonorejo saat dipotret beberapa waktu lalu. Sepanjang 2019, retribusi dari RPH tercatat mengalami penurunan dan tak sampai memenuhi target. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

Related Post

WONOREJO, Radar Bromo – Sepanjang 2019 lalu, realisasi penerimaan dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kabupaten Pasuruan hanya tercapai Rp 152,3 juta. Jumlah itu gagal memenuhi target yang ditetapkan sebesar Rp 160 juta.

M. Syaifi, Plt kepala UPT RPH Kabupaten Pasuruan mengatakan, realisasi retribusi RPH itu juga turun dari penerimaan tahun sebelumnya. Pada 2018 lalu, realisasi retribusi RPH mencapai sebesar Rp 184 juta.

“Target memang tidak tercapai lantaran konsumsi daging memang sangat situasional. Bergantung pada konsumsi masyarakat,” terang M Syaifi kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Disebutkan Syaifi, konsumsi daging sapi di masyarakat memang ada tren menurun beberapa tahun belakangan. Sebab, masyarakat memang banyak memilih daging ayam dan ikan yang harganya lebih terjangkau dibandingkan daging sapi.

Menurutnya, di masyarakat kebutuhan daging sapi juga bergantung pada kegiatan selamatan, syukuran, sampai pesta pernikahan. “Sedangkan di hari biasa, masyarakat lebih banyak yang konsumsi ayam atau ikan. Karena dari segi harga, memang lebih terjangkau. Sehingga, trennya untuk pemotongan sapi cenderung ada penurunan dari tahun ke tahun,” terangnya.

Syaifi juga menjelaskan, saat ini kondisi sapi yang dipotong ukurannya juga lebih besar. Seperti jenis sapi limusin dan simental yang dari segi bobot memang lebih besar. Yaitu, antara 600-700 kilogram. Dibandingkan dulu lebih banyak jenis sapi peranakan ongol (PO) yang memiliki bobot hanya sekitar 250-300 kilogram.

Kendati bobot sapi lebih berat, namun retribusi pemotongan tetap. Yakni sebesar Rp 25 ribu per sapi. Hal itu sesuai dengan Perda Nomor 14 Tahun 2012 tentang Retribusi RPH Kabupaten Pasuruan. (eka/mie)