alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Koleksi Benda Pusaka juga Ikut Menjaga Warisan Budaya

Benda pusaka dan unik kerap menjadi barang yang dikoleksi. Di Pasuruan, sebagian dari mereka mengoleksinya demi melestarikan warisan budaya serta menikmati keunikan benda-benda tersebut.

—————-

RACHMAD Tjahjono merupakan salah satu pengoleksi bilah besi jenis senjata tikam. Mulai dari keris, tombak, hingga penganti atau semacam pisau. Di rumahnya, kini hanya tersisa puluhan benda pusaka.

“Dulu banyak, tetapi ada yang sudah alih rawat ke orang lain,” tutur Kang Yono -sapaannya-.

Barang-barang itu ia kumpulkan bertahun-tahun. Ada yang dibeli. Ada juga yang dibuat sendiri oleh seorang Mpu di Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Sebagaimana sebilah penganti yang hampir saban hari ia bawa ke manapun.

JADI HIASAN: Selain keris, Rachmad Tjahjono juga mengkoleksi tombak yang juga menjadi penghias di rumahnya. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Penganti ini pusakanya orang Pasuruan dari era kolonial. Masyarakat dulu membutuhkan senjata demi keselamatan diri. Dan penganti dengan bentuknya yang memang seperti pisau biasa, terbilang praktis sebagai senjata,” jelasnya.

Pusaka itu dibuat oleh Mpu tepat 1 Suro setahun yang lalu. “Memang untuk pembuatan pusaka dilakukan pada saat Suroan,” ujarnya.

NYAMBUNG: Ayi Suhaya dengan bambu unik atau pring linuwih, yang menjadi benda pusaka. Di rumahnya, Ayi memiliki ratusan benda pusaka dari berbagai jenis. Sampai kini benda-benda tersebut masih dirawat olehnya. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Pada bulan yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa itu pula, biasanya digelar jamasan. Yakni serangkaian ritual untuk membersihkan benda-benda pusaka. Menurut Kang Yono, jamasan merupakan salah upaya dalam merawat pusaka. Caranya dengan dicelupkan ke dalam bejana yang berisikan air.

Sebab, besi yang dibuat pusaka berasal dari alam, tentunya memiliki energi atau yang disebut dengan istilah yoni. “Selayaknya manusia, kalau tidak membersihkan diri, pasti penampilan kusam. Begitupun dengan pusaka, ritual jamasan itu bertujuan untuk memunculkan kembali energi yang berasal dari alam,” bebernya.

 

Suka Karena Punya Riwayat Sejarah

Bukan tanpa alasan Kang Yono mengoleksi benda pusaka pusaka. Menurut dia, benda ini memiliki riwayat sejarah. Seperti tombak dari era Majapahit dan bethok yang diperkirakan dari era Singasari. Kendati demikian, ia selama ini memang menghindari hal-hal yang berbau mistis dari seluruh pusaka yang dikoleksi.

Ia hanya ingin mengenalkan pusaka ke masyarakat luas ditengah peradaban modern saat ini. Hal itu pula yang selama ini ditekankannya melalui Paguyuban Satrio Suropati.

“Melalui paguyuban kami juga ingin mengedepankan sisi eksoteri daripada isoterinya. Bagaimana perawatan pusaka, melestarikan warisan budaya,” jelasnya.

Bersama paguyuban itu pula, Kang Yono punya sebuah mimpi agar setiap keluarga di Pasuruan nantinya memiliki sedikitnya sebuah pusaka di rumahnya. Hal itu juga sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

UNIK: Prining linuwih atau bampu unik. Bambu ini disebut unik an kerap dinamakan pring petuk. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Memang kalau bicara Pasuruan, mimpi itu akan sulit. Tapi apa salahnya kita punya angan-angan one family one keris misalnya,” ungkapnya.

Hal serupa juga dilakukan, Ayi Suhaya, pehobi barang-barang antik. Untuk pusaka saja, kini ia memiliki keris yang jumlahnya lebih dari 500. Semua itu ia simpan di ruangan khusus yang ada di rumahnya. Semua itu ia kumpulkan satu demi satu sejak masih duduk di bangku SMA, 1991 silam.

Nguri-uri budoyo. Jadi saya mengoleksinya untuk melestarikan hasil karya leluhur,” kata Ayi.

Ia menyebutkan pusaka yang dimiliki dibuat di era-era terdahulu. Mulai dari era kerajaan Mataram kuno, Majapahit hingga Mataram Islam. Ayi juga memiliki prinsip bahwa benda-benda pusaka itu tidak bisa diperjualbelikan. Di kalangan pelestari benda pusaka, terdapat istilah mahar untuk sekedar mengganti perawatan.

“Karena leluhur dulu membuat pusaka itu dengan lelakon, ada tirakat yang dijalankan, memohon doa ke Tuhan. Barang leluhur tidak bisa dijualbelikan. Bahasanya itu mengganti perawatan,” terangnya.

Ratusan keris itu didapatkan dari berbagai daerah. Seperti Yogyakarta, Solo, Cirebon, hingga Pajajaran. Namun Ayi tak pernah memasang target untuk mengumpulkan benda pusaka hingga mencapai ratusan. Ayi meyakini semua itu bisa dimiliki karena memang sudah tiba waktunya dialah yang merawat pusaka tersebut.

“Jadi saya tidak pernah berburu untuk mendapatkan pusaka tertentu. Semua itu tergantung gadangan dan titi wanci. Kalau sudah tiba saatnya, akan menjadi hak kita untuk merawatnya,” ujarnya.

Selain gandrung dengan pusaka, Ayi juga sering mengoleksi bambu yang bentuknya unik. Ia menyebutnya pring linuwih. Karena dari segi bentuknya, bambu-bambu itu memiliki kelebihan dari bambu pada lazimnya. Beberapa bambu yang dikoleksi yakni bambu selendang mukti, sambung roso, petuk, patil lele, carang sewu, nyonggo langit, tumpuk, dan rogo sukmo.

“Kalau pusaka itu saya menghargai hasil karya leluhur yang dibuat dari besi aji. Nah kalau pring linuwih ini ciptaan Sang Kuasa sehingga dari bentuknya saja berbeda dengan yang lain,” ungkapnya.

Bambu-bambu itu juga memerlukan perawatan rutin. Ayi selalu meluangkan waktu sekali dalam sepekan untuk membersihkannya. Yakni dengan menggunakan minyak khusus. Agar permukaannya tetap bersih dan tidak keropos. (tom/fun)

Benda pusaka dan unik kerap menjadi barang yang dikoleksi. Di Pasuruan, sebagian dari mereka mengoleksinya demi melestarikan warisan budaya serta menikmati keunikan benda-benda tersebut.

—————-

RACHMAD Tjahjono merupakan salah satu pengoleksi bilah besi jenis senjata tikam. Mulai dari keris, tombak, hingga penganti atau semacam pisau. Di rumahnya, kini hanya tersisa puluhan benda pusaka.

“Dulu banyak, tetapi ada yang sudah alih rawat ke orang lain,” tutur Kang Yono -sapaannya-.

Barang-barang itu ia kumpulkan bertahun-tahun. Ada yang dibeli. Ada juga yang dibuat sendiri oleh seorang Mpu di Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Sebagaimana sebilah penganti yang hampir saban hari ia bawa ke manapun.

JADI HIASAN: Selain keris, Rachmad Tjahjono juga mengkoleksi tombak yang juga menjadi penghias di rumahnya. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Penganti ini pusakanya orang Pasuruan dari era kolonial. Masyarakat dulu membutuhkan senjata demi keselamatan diri. Dan penganti dengan bentuknya yang memang seperti pisau biasa, terbilang praktis sebagai senjata,” jelasnya.

Pusaka itu dibuat oleh Mpu tepat 1 Suro setahun yang lalu. “Memang untuk pembuatan pusaka dilakukan pada saat Suroan,” ujarnya.

NYAMBUNG: Ayi Suhaya dengan bambu unik atau pring linuwih, yang menjadi benda pusaka. Di rumahnya, Ayi memiliki ratusan benda pusaka dari berbagai jenis. Sampai kini benda-benda tersebut masih dirawat olehnya. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Pada bulan yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa itu pula, biasanya digelar jamasan. Yakni serangkaian ritual untuk membersihkan benda-benda pusaka. Menurut Kang Yono, jamasan merupakan salah upaya dalam merawat pusaka. Caranya dengan dicelupkan ke dalam bejana yang berisikan air.

Sebab, besi yang dibuat pusaka berasal dari alam, tentunya memiliki energi atau yang disebut dengan istilah yoni. “Selayaknya manusia, kalau tidak membersihkan diri, pasti penampilan kusam. Begitupun dengan pusaka, ritual jamasan itu bertujuan untuk memunculkan kembali energi yang berasal dari alam,” bebernya.

 

Suka Karena Punya Riwayat Sejarah

Bukan tanpa alasan Kang Yono mengoleksi benda pusaka pusaka. Menurut dia, benda ini memiliki riwayat sejarah. Seperti tombak dari era Majapahit dan bethok yang diperkirakan dari era Singasari. Kendati demikian, ia selama ini memang menghindari hal-hal yang berbau mistis dari seluruh pusaka yang dikoleksi.

Ia hanya ingin mengenalkan pusaka ke masyarakat luas ditengah peradaban modern saat ini. Hal itu pula yang selama ini ditekankannya melalui Paguyuban Satrio Suropati.

“Melalui paguyuban kami juga ingin mengedepankan sisi eksoteri daripada isoterinya. Bagaimana perawatan pusaka, melestarikan warisan budaya,” jelasnya.

Bersama paguyuban itu pula, Kang Yono punya sebuah mimpi agar setiap keluarga di Pasuruan nantinya memiliki sedikitnya sebuah pusaka di rumahnya. Hal itu juga sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

UNIK: Prining linuwih atau bampu unik. Bambu ini disebut unik an kerap dinamakan pring petuk. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Memang kalau bicara Pasuruan, mimpi itu akan sulit. Tapi apa salahnya kita punya angan-angan one family one keris misalnya,” ungkapnya.

Hal serupa juga dilakukan, Ayi Suhaya, pehobi barang-barang antik. Untuk pusaka saja, kini ia memiliki keris yang jumlahnya lebih dari 500. Semua itu ia simpan di ruangan khusus yang ada di rumahnya. Semua itu ia kumpulkan satu demi satu sejak masih duduk di bangku SMA, 1991 silam.

Nguri-uri budoyo. Jadi saya mengoleksinya untuk melestarikan hasil karya leluhur,” kata Ayi.

Ia menyebutkan pusaka yang dimiliki dibuat di era-era terdahulu. Mulai dari era kerajaan Mataram kuno, Majapahit hingga Mataram Islam. Ayi juga memiliki prinsip bahwa benda-benda pusaka itu tidak bisa diperjualbelikan. Di kalangan pelestari benda pusaka, terdapat istilah mahar untuk sekedar mengganti perawatan.

“Karena leluhur dulu membuat pusaka itu dengan lelakon, ada tirakat yang dijalankan, memohon doa ke Tuhan. Barang leluhur tidak bisa dijualbelikan. Bahasanya itu mengganti perawatan,” terangnya.

Ratusan keris itu didapatkan dari berbagai daerah. Seperti Yogyakarta, Solo, Cirebon, hingga Pajajaran. Namun Ayi tak pernah memasang target untuk mengumpulkan benda pusaka hingga mencapai ratusan. Ayi meyakini semua itu bisa dimiliki karena memang sudah tiba waktunya dialah yang merawat pusaka tersebut.

“Jadi saya tidak pernah berburu untuk mendapatkan pusaka tertentu. Semua itu tergantung gadangan dan titi wanci. Kalau sudah tiba saatnya, akan menjadi hak kita untuk merawatnya,” ujarnya.

Selain gandrung dengan pusaka, Ayi juga sering mengoleksi bambu yang bentuknya unik. Ia menyebutnya pring linuwih. Karena dari segi bentuknya, bambu-bambu itu memiliki kelebihan dari bambu pada lazimnya. Beberapa bambu yang dikoleksi yakni bambu selendang mukti, sambung roso, petuk, patil lele, carang sewu, nyonggo langit, tumpuk, dan rogo sukmo.

“Kalau pusaka itu saya menghargai hasil karya leluhur yang dibuat dari besi aji. Nah kalau pring linuwih ini ciptaan Sang Kuasa sehingga dari bentuknya saja berbeda dengan yang lain,” ungkapnya.

Bambu-bambu itu juga memerlukan perawatan rutin. Ayi selalu meluangkan waktu sekali dalam sepekan untuk membersihkannya. Yakni dengan menggunakan minyak khusus. Agar permukaannya tetap bersih dan tidak keropos. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/