alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Wabup Mujib Imron: Masih Ada Anak Tak Datang Sekolah untuk Divaksin

PASURUAN, Radar Bromo – Ternyata masih ada orang tua yang tidak mengizinkan putra-putrinya mengikuti vaksinasi Covid-19. Padahal, vaksin ini sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Mereka belum rela.

Fakta itu terungkap dalam kegiatan vaksinasi di sekolah-sekolah. Jawa Pos Radar Bromo mengikuti Wakil Bupati Pasuruan KH Abdul Mujib Imron yang mengecek kegiatan vaksinasi anak di Kecamatan Kraton. Sedikitnya lima sekolah didatangi Wabup Kamis (6/1) pagi. Yaitu, SDN Ngabar, SDN Jeruk, SDN Sidogiri, SDN Ngempit, dan SDN Bendungan. Di lima sekolah tersebut, masih ditemukan puluhan orang tua yang tidak mengizinkan anak mereka divaksin.

”Memang masih ada anak-anak yang tidak datang ke sekolah untuk divaksin. Ketika saya mengobrol dengan para guru dan kepala sekolah, jawabannya ya memang ada yang tidak hadir,” kata Gus Mujib, sapaan Wabup

Selama ini, vaksinasi anak memang mensyaratkan adanya izin dari orang tua. Izin lisan atau tertulis. Jika orang tua keberatan, anak boleh tidak mengikuti vaksinasi Covid-19. Karena itu, dia memaklumi banyaknya anak-anak yang tidak datang ke sekolah pada hari pertama giat vaksinasi kemarin.

”Kalau dulu namanya cublikan. Ya, memang ada yang berani. Tapi, juga ada yang takut,” ujar Gus Mujib. Karena itu, guru dan tenaga kesehatan diharapkan bisa sabar dan telaten menghadapi kondisi ini. Termasuk, kepada para orang tua.

Sama dengan syarat vaksinasi orang dewasa, vaksinasi anak juga disertai screening kesehatan. Screening itu merupakan deteksi awal untuk mengetahui kondisi anak saat hendak divaksin. ”Tadi, ada yang tidak lolos. Artinya, vaksinnya ditunda dulu,” ungkap Gus Mujib, yang seorang umara sekaligus ulama tersebut.

Tidak hanya screening. Begitu anak selesai divaksin, petugas kesehatan langsung memberi mereka vitamin. Termasuk, obat penurun panas untuk jaga-jaga. Tujuannya adalah mengantisipasi jika ada KIPI atau kejadian ikutan pascaimunisasi. Meskipun kemungkinannya sangat kecil. Jarang yang mengalaminya.

”Insyaallah tidak ada KIPI karena sudah melalui screening yang benar,” tuturnya.

Gus Mujib mengimbau para wali murid untuk tidak khawatir anak mereka divaksin. Sebab, vaksin yang digunakan aman. Kejadian yang menimpa anak-anak setelah vaksin hanya satu banding ribuan ribu anak. Justru vaksinasi mampu meningkatkan daya tahan atau kekebalan tubuh anak (imun).

”Kami harapkan bisa bekerja sama. Kami berterima kasih kepada seluruh elemen yang membantu vaksinasi ini,” ucapnya. (sid/far)

PASURUAN, Radar Bromo – Ternyata masih ada orang tua yang tidak mengizinkan putra-putrinya mengikuti vaksinasi Covid-19. Padahal, vaksin ini sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Mereka belum rela.

Fakta itu terungkap dalam kegiatan vaksinasi di sekolah-sekolah. Jawa Pos Radar Bromo mengikuti Wakil Bupati Pasuruan KH Abdul Mujib Imron yang mengecek kegiatan vaksinasi anak di Kecamatan Kraton. Sedikitnya lima sekolah didatangi Wabup Kamis (6/1) pagi. Yaitu, SDN Ngabar, SDN Jeruk, SDN Sidogiri, SDN Ngempit, dan SDN Bendungan. Di lima sekolah tersebut, masih ditemukan puluhan orang tua yang tidak mengizinkan anak mereka divaksin.

”Memang masih ada anak-anak yang tidak datang ke sekolah untuk divaksin. Ketika saya mengobrol dengan para guru dan kepala sekolah, jawabannya ya memang ada yang tidak hadir,” kata Gus Mujib, sapaan Wabup

Selama ini, vaksinasi anak memang mensyaratkan adanya izin dari orang tua. Izin lisan atau tertulis. Jika orang tua keberatan, anak boleh tidak mengikuti vaksinasi Covid-19. Karena itu, dia memaklumi banyaknya anak-anak yang tidak datang ke sekolah pada hari pertama giat vaksinasi kemarin.

”Kalau dulu namanya cublikan. Ya, memang ada yang berani. Tapi, juga ada yang takut,” ujar Gus Mujib. Karena itu, guru dan tenaga kesehatan diharapkan bisa sabar dan telaten menghadapi kondisi ini. Termasuk, kepada para orang tua.

Sama dengan syarat vaksinasi orang dewasa, vaksinasi anak juga disertai screening kesehatan. Screening itu merupakan deteksi awal untuk mengetahui kondisi anak saat hendak divaksin. ”Tadi, ada yang tidak lolos. Artinya, vaksinnya ditunda dulu,” ungkap Gus Mujib, yang seorang umara sekaligus ulama tersebut.

Tidak hanya screening. Begitu anak selesai divaksin, petugas kesehatan langsung memberi mereka vitamin. Termasuk, obat penurun panas untuk jaga-jaga. Tujuannya adalah mengantisipasi jika ada KIPI atau kejadian ikutan pascaimunisasi. Meskipun kemungkinannya sangat kecil. Jarang yang mengalaminya.

”Insyaallah tidak ada KIPI karena sudah melalui screening yang benar,” tuturnya.

Gus Mujib mengimbau para wali murid untuk tidak khawatir anak mereka divaksin. Sebab, vaksin yang digunakan aman. Kejadian yang menimpa anak-anak setelah vaksin hanya satu banding ribuan ribu anak. Justru vaksinasi mampu meningkatkan daya tahan atau kekebalan tubuh anak (imun).

”Kami harapkan bisa bekerja sama. Kami berterima kasih kepada seluruh elemen yang membantu vaksinasi ini,” ucapnya. (sid/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/