alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

12 Jam Warga Kelurahan Kepel Terendam Banjir

PASURUAN, Radar Bromo – Banjir di Kota Pasuruan terjadi hampir merata. Namun terparah berada di Kecamatan Bugul Kidul. Bahkan Rabu dini hari (6/1), giliran Kelurahan Kepel. Banjir tidak kunjung surut hingga pagi dan merendam permukiman warga selama 12 jam.

Ada 485 KK yang terendam banjir di Kelurahan Kepel. Ratusan KK ini menyebar di Dusun Kongsi, Dusun Krajan, dan Dusun Lojok Utara. Sementara untuk Dusun Kemiri hanya halaman warga yang terendam banjir. Namun tidak ada korban jiwa maupun kerugiaan materiil yang dialami oleh warga setempat.

Luapan Kali Petung sempat surut pada pukul 00.00. Namun selang satu jam kemudian kembali terjadi peningkatan debit air di kali kewenangan pemprov ini. Luapan ini meluber ke permukiman dan jalan di Kelurahan Kepel. Ketinggian air bervariasi antara 60 sentimeter hingga satu meter. Bahkan, air tidak kunjung surut hingga pagi hari. Ratusan rumah tetap terendam banjir dan membuat aktivitas warga terganggu.

Ketua RT 2/RW 2 Dusun Lojok, Kelurahan Kepel, Abdus Syukur mengungkapkan, air sudah memasuki permukiman sekitar pukul 21.00. Namun saat itu air hanya merendam halaman saja. Baru pada pukul 00.00, banjir semakin besar dan luapan air mulai masuk ke rumah warga. Mayoritas warga mengungsi ke kantor Inspektorat Kabupaten Pasuruan di Jalan Ir. Juanda. Termasuk motor warga juga diamankan di sini.

Sementara itu, warga setempat, Suhaya, 55, menjelaskan, ia dan empat anggota keluarganya sempat mengungsi sejak tengah malam. Ia mengungsi dengan menaiki perahu milik BPBD Kota Pasuruan. Pasalnya ketinggian air di rumahnya mencapai perut orang dewasa. Kalau banjir lagi, ia tidak memiliki pilihan selain mengungsi.

“Sudah dari malam mengungsi di kantor Inspektorat Kabupaten. Kalau banjir lagi, ya harus mengungsi. Di rumah saya setinggi perut, kalau tidak mengungsi bagaimana saya bisa tidur,” sebutnya.

Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Bencana BPBD Kota Pasuruan Catur Aldoko menyebut, banjir yang terjadi di Kepel disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu selama lebih dari enam jam. Di sisi lain, gorong-gorong yang berada di permukiman warga kurang lebar sehingga tidak mampu menampung debit air yang masuk permukiman. Akibatnya air pun merendam rumah warga. Hal ini membuat banjir lebih lama surut. Air baru benar-benar surut sekitar pukul 13.00.

“Cuma masih ada genangan air di halaman dan sekitar jalan permukiman. Tidak ada korban jiwa. Cuma seluruh warga sudah dievakuasi ke tempat yang aman,” sebut Catur. (sid/riz/fun)

PASURUAN, Radar Bromo – Banjir di Kota Pasuruan terjadi hampir merata. Namun terparah berada di Kecamatan Bugul Kidul. Bahkan Rabu dini hari (6/1), giliran Kelurahan Kepel. Banjir tidak kunjung surut hingga pagi dan merendam permukiman warga selama 12 jam.

Ada 485 KK yang terendam banjir di Kelurahan Kepel. Ratusan KK ini menyebar di Dusun Kongsi, Dusun Krajan, dan Dusun Lojok Utara. Sementara untuk Dusun Kemiri hanya halaman warga yang terendam banjir. Namun tidak ada korban jiwa maupun kerugiaan materiil yang dialami oleh warga setempat.

Luapan Kali Petung sempat surut pada pukul 00.00. Namun selang satu jam kemudian kembali terjadi peningkatan debit air di kali kewenangan pemprov ini. Luapan ini meluber ke permukiman dan jalan di Kelurahan Kepel. Ketinggian air bervariasi antara 60 sentimeter hingga satu meter. Bahkan, air tidak kunjung surut hingga pagi hari. Ratusan rumah tetap terendam banjir dan membuat aktivitas warga terganggu.

Ketua RT 2/RW 2 Dusun Lojok, Kelurahan Kepel, Abdus Syukur mengungkapkan, air sudah memasuki permukiman sekitar pukul 21.00. Namun saat itu air hanya merendam halaman saja. Baru pada pukul 00.00, banjir semakin besar dan luapan air mulai masuk ke rumah warga. Mayoritas warga mengungsi ke kantor Inspektorat Kabupaten Pasuruan di Jalan Ir. Juanda. Termasuk motor warga juga diamankan di sini.

Sementara itu, warga setempat, Suhaya, 55, menjelaskan, ia dan empat anggota keluarganya sempat mengungsi sejak tengah malam. Ia mengungsi dengan menaiki perahu milik BPBD Kota Pasuruan. Pasalnya ketinggian air di rumahnya mencapai perut orang dewasa. Kalau banjir lagi, ia tidak memiliki pilihan selain mengungsi.

“Sudah dari malam mengungsi di kantor Inspektorat Kabupaten. Kalau banjir lagi, ya harus mengungsi. Di rumah saya setinggi perut, kalau tidak mengungsi bagaimana saya bisa tidur,” sebutnya.

Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Bencana BPBD Kota Pasuruan Catur Aldoko menyebut, banjir yang terjadi di Kepel disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu selama lebih dari enam jam. Di sisi lain, gorong-gorong yang berada di permukiman warga kurang lebar sehingga tidak mampu menampung debit air yang masuk permukiman. Akibatnya air pun merendam rumah warga. Hal ini membuat banjir lebih lama surut. Air baru benar-benar surut sekitar pukul 13.00.

“Cuma masih ada genangan air di halaman dan sekitar jalan permukiman. Tidak ada korban jiwa. Cuma seluruh warga sudah dievakuasi ke tempat yang aman,” sebut Catur. (sid/riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/