alexametrics
24C
Probolinggo
Tuesday, 20 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Tak Berhenti saat Lewat Jembatan Timbang Sedarum, Truk Dilempar Besi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

NGULING, Radar Bromo – Gara-gara tidak berhenti saat melewati Jembatan Timbang Sedarum, sebuah truk dilempar besi oleh petugas jembatan timbang. Akibatnya, kaca depan truk sebelah kiri pecah.

Pelemparan itu terjadi sekitar pukul 07.00, Sabtu (6/3) di Jembatan Timbang Sedarum, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Saat itu, empat orang petugas Dinas Perhubungan di jembatan timbang sedang berjaga di pintu depan jembatan timbang.

Mereka bertugas mengarahkan kendaraan barang agar masuk ke jembatan timbang. Kemudian, setiap kendaraan dicek kelengkapan suratnya dan muatannya.

Sekitar pukul 07.00, sebuah truk berwarna putih melintas dari barat ke timur. Petugas pun mengarahkan truk itu masuk ke lokasi jembatan timbang.

Tapi, arahan petugas tak diindahkan sopir truk, Hendri, 25. Warga Lumbang, Kabupaten Probolinggo itu awalnya menyalakan lighting kiri truknya. Truk pun berjalan pelan ke arah kiri, seolah-olah hendak masuk ke jembatan timbang.

Namun, saat mendekati pintu masuk jembatan timbang, truk langsung banting setir ke kanan dan melaju ke jalan raya. Urung masuk ke jembatan timbang.

“Petugas yang berjaga akhirnya spontan menghindari truk yang melaju. Kemudian, spontan melempar bendera merah yang biasa digunakan untuk memberi tanda para sopir truk,” kata Kapolsek Nguling AKP Zudianto.

Bendera itu sendiri, pegangannya dari besi. Saat dilempar, besi mengenai kaca jendela truk sebelah kiri. Kaca truk pun pecah.

Saat itu juga, Hendri menghentikan truknya di sebelah timur jembatan. Lantas, dia merekam kejadian itu.

“Kemudian oleh sopir truk, rekaman itu diviralkan melalui media sosial facebook. Sehingga, kejadian itu tersebar luas di kalangan masyarakat atau viral,” katanya.

Di facebook, rekaman yang diunggah itu terdiri dari tiga video. Yang pertama, video berdurasi 25 detik tentang truk yang kaca sebelah kirinya pecah. Lengkap dengan deskripsi penyebabnya.

“Dilempar sama petugas Dishub timbangan. Sampai kaca pecah dan menancap di bak.” Begitu isi deskripsi dalam video pertama.

Yang kedua, video berdurasi 6 detik merekam petugas Dishub di kantor jembatan timbang. Di sini, petugas sempat protes karena direkam.

Ketiga, video berdurasi 21 detik merekam empat petugas jembatan timbang yang sempat berjaga di pintu depan. Namun, rekaman dari belakang.

Akibat viralnya video itu, beberapa rekan Hendri sempat datang ke jembatan timbang Sedarum. Karena itulah, akhirnya pihak kepolisian turun ke lokasi. Proses mediasi lantas dilakukan kedua pihak.

 

Diselesaikan Kekeluargaan

Sementara itu, pelemparan besi oleh petugas Dishub di jembatan timbang Sedarum itu langsung dimediasi. Polsek Nguling memediasi sopir truk Hendri, 25, dengan petugas jembatan timbang.

Berdasarkan mediasi itu menurut Kapolsek, sopir truk sengaja menghindari petugas jembatan timbang. Sebab, buku KIR telah habis masa berlakunya.

“Hasil mediasinya, perkara diselesaikan secara kekeluargaan antara petugas jembatan timbang Sedarum dan sopir. Sopir truk diberikan uang ganti rugi sebesar Rp 1 juta. Sopir truk juga berjanji akan menghapus video yang terlanjur viral tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Kasatpel Unit Pelaksanaan Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Sedarum Iwan Prasetyo mengatakan, kejadian itu spontan sebenarnya. Sebab, sopir truk awalnya sudah berada di jalur kiri dan menghidupkan lighting kiri. Yang artinya, dia hendak masuk ke jembatan timbang. Kira-kira kecepatannya berada di batas 40 kilometer per jam.

“Tetapi, saat sudah dekat jembatan timbang malah banting setir ke kanan. Kalau istilah orang-orang itu langsung tancap gas,” katanya.

Karena itulah menurut Iwan, petugas refleks melempar bendera sambil berusaha menghindar dari truk yang melaju. Menurutnya, hanya itu yang dilempar. Tidak ada pelemparan batu seperti yang viral pada video.

“Kami tegaskan tidak ada pelemparan batu. Hanya bendera dan masalahnya sudah selesai,” katanya.

Menurutnya, pihaknya memberikan ganti rugi berupa uang Rp 1 juta. Itu digunakan untuk mengganti kaca kiri truk dan biaya pemasangan.

Sementara itu, buku KIR truk memang mati. Namun, berapa tahun pihaknya tidak memastikan.

“Karena kondisi crowded, kami tidak mengecek secara mendalam. Yang terpenting sudah selesai dan tidak ada tuntutan secara hukum,” jelas Iwan. (sid/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

NGULING, Radar Bromo – Gara-gara tidak berhenti saat melewati Jembatan Timbang Sedarum, sebuah truk dilempar besi oleh petugas jembatan timbang. Akibatnya, kaca depan truk sebelah kiri pecah.

Pelemparan itu terjadi sekitar pukul 07.00, Sabtu (6/3) di Jembatan Timbang Sedarum, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Saat itu, empat orang petugas Dinas Perhubungan di jembatan timbang sedang berjaga di pintu depan jembatan timbang.

Mereka bertugas mengarahkan kendaraan barang agar masuk ke jembatan timbang. Kemudian, setiap kendaraan dicek kelengkapan suratnya dan muatannya.

Mobile_AP_Half Page

Sekitar pukul 07.00, sebuah truk berwarna putih melintas dari barat ke timur. Petugas pun mengarahkan truk itu masuk ke lokasi jembatan timbang.

Tapi, arahan petugas tak diindahkan sopir truk, Hendri, 25. Warga Lumbang, Kabupaten Probolinggo itu awalnya menyalakan lighting kiri truknya. Truk pun berjalan pelan ke arah kiri, seolah-olah hendak masuk ke jembatan timbang.

Namun, saat mendekati pintu masuk jembatan timbang, truk langsung banting setir ke kanan dan melaju ke jalan raya. Urung masuk ke jembatan timbang.

“Petugas yang berjaga akhirnya spontan menghindari truk yang melaju. Kemudian, spontan melempar bendera merah yang biasa digunakan untuk memberi tanda para sopir truk,” kata Kapolsek Nguling AKP Zudianto.

Bendera itu sendiri, pegangannya dari besi. Saat dilempar, besi mengenai kaca jendela truk sebelah kiri. Kaca truk pun pecah.

Saat itu juga, Hendri menghentikan truknya di sebelah timur jembatan. Lantas, dia merekam kejadian itu.

“Kemudian oleh sopir truk, rekaman itu diviralkan melalui media sosial facebook. Sehingga, kejadian itu tersebar luas di kalangan masyarakat atau viral,” katanya.

Di facebook, rekaman yang diunggah itu terdiri dari tiga video. Yang pertama, video berdurasi 25 detik tentang truk yang kaca sebelah kirinya pecah. Lengkap dengan deskripsi penyebabnya.

“Dilempar sama petugas Dishub timbangan. Sampai kaca pecah dan menancap di bak.” Begitu isi deskripsi dalam video pertama.

Yang kedua, video berdurasi 6 detik merekam petugas Dishub di kantor jembatan timbang. Di sini, petugas sempat protes karena direkam.

Ketiga, video berdurasi 21 detik merekam empat petugas jembatan timbang yang sempat berjaga di pintu depan. Namun, rekaman dari belakang.

Akibat viralnya video itu, beberapa rekan Hendri sempat datang ke jembatan timbang Sedarum. Karena itulah, akhirnya pihak kepolisian turun ke lokasi. Proses mediasi lantas dilakukan kedua pihak.

 

Diselesaikan Kekeluargaan

Sementara itu, pelemparan besi oleh petugas Dishub di jembatan timbang Sedarum itu langsung dimediasi. Polsek Nguling memediasi sopir truk Hendri, 25, dengan petugas jembatan timbang.

Berdasarkan mediasi itu menurut Kapolsek, sopir truk sengaja menghindari petugas jembatan timbang. Sebab, buku KIR telah habis masa berlakunya.

“Hasil mediasinya, perkara diselesaikan secara kekeluargaan antara petugas jembatan timbang Sedarum dan sopir. Sopir truk diberikan uang ganti rugi sebesar Rp 1 juta. Sopir truk juga berjanji akan menghapus video yang terlanjur viral tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Kasatpel Unit Pelaksanaan Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Sedarum Iwan Prasetyo mengatakan, kejadian itu spontan sebenarnya. Sebab, sopir truk awalnya sudah berada di jalur kiri dan menghidupkan lighting kiri. Yang artinya, dia hendak masuk ke jembatan timbang. Kira-kira kecepatannya berada di batas 40 kilometer per jam.

“Tetapi, saat sudah dekat jembatan timbang malah banting setir ke kanan. Kalau istilah orang-orang itu langsung tancap gas,” katanya.

Karena itulah menurut Iwan, petugas refleks melempar bendera sambil berusaha menghindar dari truk yang melaju. Menurutnya, hanya itu yang dilempar. Tidak ada pelemparan batu seperti yang viral pada video.

“Kami tegaskan tidak ada pelemparan batu. Hanya bendera dan masalahnya sudah selesai,” katanya.

Menurutnya, pihaknya memberikan ganti rugi berupa uang Rp 1 juta. Itu digunakan untuk mengganti kaca kiri truk dan biaya pemasangan.

Sementara itu, buku KIR truk memang mati. Namun, berapa tahun pihaknya tidak memastikan.

“Karena kondisi crowded, kami tidak mengecek secara mendalam. Yang terpenting sudah selesai dan tidak ada tuntutan secara hukum,” jelas Iwan. (sid/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2