Serapan Bulog Masih Rendah, Baru 39 Persen dari Target

PANEN: Seorang petani di Desa Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, memanen padinya. Sejauh ini serapan Bulog Cabang Malang terhadap beras atau padi petani masih rendah. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

GADINGREJO, Radar Bromo – Meski sudah masuk September, serapan beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Malang yang meliputi Pasuruan, masih minim. Sampai kuartal ke dua kemarin atau akhir Agustus, serapannya baru mencapai 39 persen atau 8.200 ton dari target 21.000 ton.

Kepala Bulog Cabang Malang Anita Andreami mengatakan, serapan Bulog sampai kuartal ke dua kemarin masih minim. Meski sudah memasuki September, serapan beras dari petani belum tercapai separo. “Serapan ke Bulog memang masih minim. Bahkan, masih 39 persen dari target yang ditetapkan sebesar 21 ribu ton di tahun 2019,” ujarnya.

Menurutnya, masih rendahnya serapan Bulog karena petani masih banyak yang enggan menjual beras atau gabah keringnya ke Bulog. Selain harga yang dinilai bersaing, juga ada kualitas tertentu yang harus disesuaikan agar bisa dijual ke Bulog.

“Kami sudah mencoba sosialisasi ke penggilingan. Namun, biasanya dari penggilingan sendiri kualitasnya apa adanya. Padahal, untuk bisa masuk ke Bulog, ada standar yang harus dipenuhi. Misalnya, broken 20 persen dan kadar air maksimal 14 persen. Hal inilah yang kadang kala membuat beras tidak bisa dijual ke Bulog,” ujar Anita.

Sedangkan, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) masih mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5/2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah. Dalam peraturan itu, harga Gabah Kering Panen (GKP) dipatok Rp 3.700 per kilogram dan beras dihargai Rp 7.300 per kilogram. “Termasuk dari harga dinilai yang dijual ke Bulog lebih murah. Sehingga, membuat petani memilih menyimpannya,” jelasnya.

Meski serapan Bulog masih minim, menurut Anita, tidak masalah. Namun, tetap mempengaruhi kinerja di Bulog. Rendahnya serapan Bulog ini terjadi di hampir seluruh Bulog di Jawa Timur. “Kendalanya memang di Jawa Timur ini, selain kesulitan penyerapan karena kualitas gabah atau beras, juga harga yang dinilai lebih murah dibanding dijual ke pasaran,” ujarnya. (eka/fun)