alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Bipartit Gagal, Buruh PT LVS Pleret Minta Mediasi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PASURUAN, Radar Bromo – Puluhan pekerja PT LVS di Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, mengadu ke kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pasuruan di Jalan Ir H Juanda, Selasa (4/5). Mereka meminta kejelasan nasib.

Perwakilan pekerja, Jefriyadi berharap rekan-rekannya bisa bekerja kembali. Namun, situasinya tidak memungkinkan. Sebab, pabrik tempat mereka mencari nafkah sudah tutup. ”Kami mau kerja, tapi pabriknya tutup,” katanya.

Menurut Jefriyadi, pekerja mendapatkan pemberitahuan bahwa pabrik tutup pada 23 April. Perusahaan rugi. Tidak lama setelah itu ada pengumuman pegawai dirumahkan, yaitu pada 30 April. Sampai sekarang belum ada perkembangan lagi.

Jumlah karyawan sekitar 90 orang. Di antara mereka ada yang sudah memiliki masa kerja 10 hingga 15 tahun. Karena itu pekerja mengadukan nasib ke Disnaker. Tujuannya, Disnaker mau membantu memperoleh kejelasan.

Kasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial pada Disnaker setempat Gozali mengatakan sudah berusaha mengundang perusahaan bidang distribusi air mineral itu. Namun, pihak pengusaha tidak hadir.

Pertemuan diagendakan lagi Kamis mendatang. Agendanya pertemuan kedua belah pihak. Pekerja dan perusahaan. ”Tadi hanya wadul biasa. Jadi, nanti diagendakan pertemuan lagi,” tandasnya.

Sebelumnya, telah ada bipartit antara perusahaan dan buruh. Namun, perundingan gagal. Buruh meminta THR dibayarkan saat ini. Maklum, perselisihan itu ada ketika Ramadan. (sid/far)

Mobile_AP_Rectangle 1

PASURUAN, Radar Bromo – Puluhan pekerja PT LVS di Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, mengadu ke kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pasuruan di Jalan Ir H Juanda, Selasa (4/5). Mereka meminta kejelasan nasib.

Perwakilan pekerja, Jefriyadi berharap rekan-rekannya bisa bekerja kembali. Namun, situasinya tidak memungkinkan. Sebab, pabrik tempat mereka mencari nafkah sudah tutup. ”Kami mau kerja, tapi pabriknya tutup,” katanya.

Menurut Jefriyadi, pekerja mendapatkan pemberitahuan bahwa pabrik tutup pada 23 April. Perusahaan rugi. Tidak lama setelah itu ada pengumuman pegawai dirumahkan, yaitu pada 30 April. Sampai sekarang belum ada perkembangan lagi.

Mobile_AP_Half Page

Jumlah karyawan sekitar 90 orang. Di antara mereka ada yang sudah memiliki masa kerja 10 hingga 15 tahun. Karena itu pekerja mengadukan nasib ke Disnaker. Tujuannya, Disnaker mau membantu memperoleh kejelasan.

Kasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial pada Disnaker setempat Gozali mengatakan sudah berusaha mengundang perusahaan bidang distribusi air mineral itu. Namun, pihak pengusaha tidak hadir.

Pertemuan diagendakan lagi Kamis mendatang. Agendanya pertemuan kedua belah pihak. Pekerja dan perusahaan. ”Tadi hanya wadul biasa. Jadi, nanti diagendakan pertemuan lagi,” tandasnya.

Sebelumnya, telah ada bipartit antara perusahaan dan buruh. Namun, perundingan gagal. Buruh meminta THR dibayarkan saat ini. Maklum, perselisihan itu ada ketika Ramadan. (sid/far)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2