alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Jalur Sepeda Idealnya Dua Meter, Pernah Ada Tapi Sudah Dibongkar

GADINGREJO, Radar Bromo – Kota Pasuruan sejatinya pernah punya jalur sepeda. Jalur itu bahkan berada di pusat perkotaan. Namun kini jalur itu sudah dihilangkan karena dinilai membahayakan. Idealnya jalur ini memiliki lebar dua meter.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan, Wahid Yulianto mengungkapkan Kota Pasuruan pernah memiliki jalur sepeda pada 2015 lalu di jalan Niaga Raya sisi barat. Pembangunannya dilakukan pada zaman wali kota saat itu. Jalur ini pun sempat bertahan beberapa tahun.

Saat itu, lokasi jalur ini ditandai dengan pembatas menggunakan kanstin yang disusun memanjang. Tapi akhirnya, jalur ini dibongkar sekitar 2018 lalu. Pasalnya jalur ini dinilai membahayakan. Pemfungsiannya juga tidak maksimal.

Saat itu sebenarnya ada rencana untuk diganti dengan cat agar lebih ramah bagi pesepeda yang memanfaatkan. Tapi rencana ini urung karena terkendala oleh anggaran yang lebih mendesak. Akhirnya jalur ini pun diratakan dan ditutup jadi jalan raya penuh.

“Apalagi saat itu jalur ini sempat mangkrak dan tidak berfungsi maksimal. Jalur itu malah dijadikan parkir becak. Idealnya jalur sepeda itu ditandai dengan cat,” ungkapnya.

Wahid menjelaskan, idealnya jika ada jalur sepeda maka lebar rutenya sekitar satu hingga dua meter. Sehingga jalur itu bisa digunakan oleh dua sepeda secara beriringan. Anggarannya bisa disesuaikan dengan panjang rute itu. Rute bisa memanfaatkan jalan perkotaan.

GADINGREJO, Radar Bromo – Kota Pasuruan sejatinya pernah punya jalur sepeda. Jalur itu bahkan berada di pusat perkotaan. Namun kini jalur itu sudah dihilangkan karena dinilai membahayakan. Idealnya jalur ini memiliki lebar dua meter.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan, Wahid Yulianto mengungkapkan Kota Pasuruan pernah memiliki jalur sepeda pada 2015 lalu di jalan Niaga Raya sisi barat. Pembangunannya dilakukan pada zaman wali kota saat itu. Jalur ini pun sempat bertahan beberapa tahun.

Saat itu, lokasi jalur ini ditandai dengan pembatas menggunakan kanstin yang disusun memanjang. Tapi akhirnya, jalur ini dibongkar sekitar 2018 lalu. Pasalnya jalur ini dinilai membahayakan. Pemfungsiannya juga tidak maksimal.

Saat itu sebenarnya ada rencana untuk diganti dengan cat agar lebih ramah bagi pesepeda yang memanfaatkan. Tapi rencana ini urung karena terkendala oleh anggaran yang lebih mendesak. Akhirnya jalur ini pun diratakan dan ditutup jadi jalan raya penuh.

“Apalagi saat itu jalur ini sempat mangkrak dan tidak berfungsi maksimal. Jalur itu malah dijadikan parkir becak. Idealnya jalur sepeda itu ditandai dengan cat,” ungkapnya.

Wahid menjelaskan, idealnya jika ada jalur sepeda maka lebar rutenya sekitar satu hingga dua meter. Sehingga jalur itu bisa digunakan oleh dua sepeda secara beriringan. Anggarannya bisa disesuaikan dengan panjang rute itu. Rute bisa memanfaatkan jalan perkotaan.

MOST READ

BERITA TERBARU

/