alexametrics
27 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Hasil Survei, Banyak Perokok di Pasuruan Berpenghasilan Rendah

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PASURUAN, Radar Bromo – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasuruan menemukan keterkaitan erat antara jumlah penghasilan seseorang dengan kebiasaan merokok. Konsumen rokok kebanyakan adalah kalangan berpenghasilan rendah.

Menurut BPS, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 menyebutkan, kebanyakan perokok di Kabupaten Pasuruan adalah orang yang berpendapatan rendah. Bukan kalangan berpenghasilan tinggi.

Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik (Nerwilis) BPS Kabupaten Pasuruan Endro Cahyono menjelaskan, responden survei diambil berdasar usia rata-rata di atas 15 tahun.

Hasil survei itu membagi tiga kategori penghasilan. Masing-masing orang berusia lebih dari 15 tahun yang berpendapatan rendah, berpendapatan tengah, dan pendapatan atas. Menurut survei tersebut, bukan malah orang yang banyak uang yang suka, bahkan banyak membeli rokok. Justru orang berpenghasilan rendah yang lebih banyak mengonsumsi rokok.

”Hasil ini di luar dugaan,” katanya.

Mengapa orang dengan penghasilan rendah lebih sering membeli rokok? Endro mengaku survei tidak sampai sedalam itu. Tidak ditanyakan kepada mereka secara khusus alasan membeli rokok. Bahkan, ketika ditanya penghasilan pun responden menolak.

Perbedaannya memang tidak mencolok. Menurut data itu, dari sampel sekitar 100 persen, sekitar 27,41 persen orang berpendapatan rendah gemar membeli merokok. Kemudian, sekitar 27,63 persen orang berpendapatan menengah. Dan, 26,58 orang berpenghasilan tinggi yang gemar membeli rokok. Sekitar 18,38 sisanya mengaku tidak merokok ketika ditanya.

”Untuk yang penghasilan tinggi, mungkin mereka sudah tahu dampak merokok seperti apa,” tambah Endro. (sid/far)

Mobile_AP_Rectangle 1

PASURUAN, Radar Bromo – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasuruan menemukan keterkaitan erat antara jumlah penghasilan seseorang dengan kebiasaan merokok. Konsumen rokok kebanyakan adalah kalangan berpenghasilan rendah.

Menurut BPS, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 menyebutkan, kebanyakan perokok di Kabupaten Pasuruan adalah orang yang berpendapatan rendah. Bukan kalangan berpenghasilan tinggi.

Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik (Nerwilis) BPS Kabupaten Pasuruan Endro Cahyono menjelaskan, responden survei diambil berdasar usia rata-rata di atas 15 tahun.

Mobile_AP_Half Page

Hasil survei itu membagi tiga kategori penghasilan. Masing-masing orang berusia lebih dari 15 tahun yang berpendapatan rendah, berpendapatan tengah, dan pendapatan atas. Menurut survei tersebut, bukan malah orang yang banyak uang yang suka, bahkan banyak membeli rokok. Justru orang berpenghasilan rendah yang lebih banyak mengonsumsi rokok.

”Hasil ini di luar dugaan,” katanya.

Mengapa orang dengan penghasilan rendah lebih sering membeli rokok? Endro mengaku survei tidak sampai sedalam itu. Tidak ditanyakan kepada mereka secara khusus alasan membeli rokok. Bahkan, ketika ditanya penghasilan pun responden menolak.

Perbedaannya memang tidak mencolok. Menurut data itu, dari sampel sekitar 100 persen, sekitar 27,41 persen orang berpendapatan rendah gemar membeli merokok. Kemudian, sekitar 27,63 persen orang berpendapatan menengah. Dan, 26,58 orang berpenghasilan tinggi yang gemar membeli rokok. Sekitar 18,38 sisanya mengaku tidak merokok ketika ditanya.

”Untuk yang penghasilan tinggi, mungkin mereka sudah tahu dampak merokok seperti apa,” tambah Endro. (sid/far)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2