alexametrics
24.5 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

3 Pekan Kasus Covid Tambah Ratusan, PWKM Kota Pasuruan Dievaluasi

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Pemberlakuan Waktu Kegiatan Masyarakat (PWKM) di Kota Pasuruan dinilai tak efektif. Sebab, selama tiga pekan PWKM berjalan, kasus konfirmasi Covid-19 tak mengalami penurunan. Bahkan, kasus konfirmasi bertambah sebanyak 119 kasus selama tiga pekan terakhir.

PWKM itu sendiri berlaku sejak diterbitkannya Surat Edaran Wali Kota Pasuruan pada 11 Januari 2021. Pemkot memberlakukan jam operasional bagi seluruh masyarakat hingga penanggung jawab perkantoran, pemilik usaha, pusat perbelanjaan, pertokoan, warung, dan kafe. Mereka harus berhenti beroperasi maksimal pukul 20.00 setiap harinya.

Tiga pekan setelah masa PWKM, kasus konfirmasi mengalami kenaikan. Hampir setiap hari terjadi penambahan kasus konfirmasi. Jumlah penambahan per hari antara 3 hingga 8 kasus.

Sebelum diberlakukan, jumlah kasus konfirmasi jadi 1.044. Dengan rincian, 15 kasus konfirmasi aktif, 1.019 kasus konfirmasi sembuh, dan 129 kasus konfirmasi meninggal.

Pada 2 Februari 2021, kasus konfirmasi mencapai 1.163. Artinya, selama tiga pekan terakhir, pasien yang terkonfirmasi bertambah 119 kasus.

Di sisi lain, tingkat kesembuhan pasien yang terkonfirmasi juga terbilang tinggi. Dalam kurun waktu yang sama, ada 119 pasien yang sembuh.

Sedangkan, 14 pasien meninggal dunia dengan status konfirmasi. Hingga 2 Februari 2021, kasus konfirmasi tercatat sebanyak 15. Lalu, jumlah pasien terkonfirmasi yang sudah sembuh totalnya 1.019, sedangkan pasien meninggal 129 orang.

Anggota Komisi 1 DPRD Kota Pasuruan R Imam Joko Sih Nugroho mengatakan, PWKM memang kurang efektif dalam pengendalian Covid-19. Justru, hal itu mengganggu sektor ekonomi. Terutama para pelaku usaha kecil dan menengah.

“Jadi yang namanya pembatasan, PPKM, PWKM, atau apa istilahnya itu kurang efektif. Tapi bukan berarti kemudian dilakukan pembiaran, tidak. Harus dievaluasi dan dicarikan solusi yang tepat antara Pemkot dengan Forkopimda seperti kepolisian dan TNI,” ungkap Imam.

Menurut dia, pemberlakuan jam operasional akan sia-sia apabila kemudian penerapan protokol kesehatan tidak mendapat perhatian penuh. Memang pemberlakuan jam operasional sudah berjalan. Tetapi, pada saat jam operasional tidak menutup kemungkinan ada pelanggaran protokol kesehatan.

Hal itulah yang perlu mendapat perhatian khusus. Masyarakat juga harus terus diedukasi terkait pentingnya protokol kesehatan. “Memang perlu effort yang luar biasa karena pasti akan melibatkan banyak personel. Tapi menurut saya ini perlu, sehingga ujungnya tercipta kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengakui bahwa kasus konfirmasi Covid-19 saat ini belum mengalami penurunan yang signifikan. Selama ini, pihaknya juga berupaya agar penyebaran virus korona di kota terkendali.

Sehingga laju kasus konfirmasi tidak semakin tinggi. Di sisi lain, pihaknya juga tetap menginginkan agar aktivitas perekonomian tidak terganggu.“Kami tetap berusaha agar perekonomian tidak tertekan, tapi laju kasus juga tidak semakin tinggi,” kata dia.

Pihaknya tentu akan melakukan evaluasi terkait dengan PWKM yang tiga pekan ini berjalan. “Nanti akan dibicarakan dengan Forkopimda. Perlu pembahasan yang matang, terutama untuk mengatur pedagangnya,” bebernya. (tom/mie)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Pemberlakuan Waktu Kegiatan Masyarakat (PWKM) di Kota Pasuruan dinilai tak efektif. Sebab, selama tiga pekan PWKM berjalan, kasus konfirmasi Covid-19 tak mengalami penurunan. Bahkan, kasus konfirmasi bertambah sebanyak 119 kasus selama tiga pekan terakhir.

PWKM itu sendiri berlaku sejak diterbitkannya Surat Edaran Wali Kota Pasuruan pada 11 Januari 2021. Pemkot memberlakukan jam operasional bagi seluruh masyarakat hingga penanggung jawab perkantoran, pemilik usaha, pusat perbelanjaan, pertokoan, warung, dan kafe. Mereka harus berhenti beroperasi maksimal pukul 20.00 setiap harinya.

Tiga pekan setelah masa PWKM, kasus konfirmasi mengalami kenaikan. Hampir setiap hari terjadi penambahan kasus konfirmasi. Jumlah penambahan per hari antara 3 hingga 8 kasus.

Sebelum diberlakukan, jumlah kasus konfirmasi jadi 1.044. Dengan rincian, 15 kasus konfirmasi aktif, 1.019 kasus konfirmasi sembuh, dan 129 kasus konfirmasi meninggal.

Pada 2 Februari 2021, kasus konfirmasi mencapai 1.163. Artinya, selama tiga pekan terakhir, pasien yang terkonfirmasi bertambah 119 kasus.

Di sisi lain, tingkat kesembuhan pasien yang terkonfirmasi juga terbilang tinggi. Dalam kurun waktu yang sama, ada 119 pasien yang sembuh.

Sedangkan, 14 pasien meninggal dunia dengan status konfirmasi. Hingga 2 Februari 2021, kasus konfirmasi tercatat sebanyak 15. Lalu, jumlah pasien terkonfirmasi yang sudah sembuh totalnya 1.019, sedangkan pasien meninggal 129 orang.

Anggota Komisi 1 DPRD Kota Pasuruan R Imam Joko Sih Nugroho mengatakan, PWKM memang kurang efektif dalam pengendalian Covid-19. Justru, hal itu mengganggu sektor ekonomi. Terutama para pelaku usaha kecil dan menengah.

“Jadi yang namanya pembatasan, PPKM, PWKM, atau apa istilahnya itu kurang efektif. Tapi bukan berarti kemudian dilakukan pembiaran, tidak. Harus dievaluasi dan dicarikan solusi yang tepat antara Pemkot dengan Forkopimda seperti kepolisian dan TNI,” ungkap Imam.

Menurut dia, pemberlakuan jam operasional akan sia-sia apabila kemudian penerapan protokol kesehatan tidak mendapat perhatian penuh. Memang pemberlakuan jam operasional sudah berjalan. Tetapi, pada saat jam operasional tidak menutup kemungkinan ada pelanggaran protokol kesehatan.

Hal itulah yang perlu mendapat perhatian khusus. Masyarakat juga harus terus diedukasi terkait pentingnya protokol kesehatan. “Memang perlu effort yang luar biasa karena pasti akan melibatkan banyak personel. Tapi menurut saya ini perlu, sehingga ujungnya tercipta kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengakui bahwa kasus konfirmasi Covid-19 saat ini belum mengalami penurunan yang signifikan. Selama ini, pihaknya juga berupaya agar penyebaran virus korona di kota terkendali.

Sehingga laju kasus konfirmasi tidak semakin tinggi. Di sisi lain, pihaknya juga tetap menginginkan agar aktivitas perekonomian tidak terganggu.“Kami tetap berusaha agar perekonomian tidak tertekan, tapi laju kasus juga tidak semakin tinggi,” kata dia.

Pihaknya tentu akan melakukan evaluasi terkait dengan PWKM yang tiga pekan ini berjalan. “Nanti akan dibicarakan dengan Forkopimda. Perlu pembahasan yang matang, terutama untuk mengatur pedagangnya,” bebernya. (tom/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/