Populasi Sapi di Kab Pasuruan Bertambah 32 Ribu dari Inseminasi Buatan

GEMUK: Peternak sapi di Kabupaten Pasuruan merawat hewannya. Sampa akhir tahun 2019, Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan berhasil memproses 27 ribu kelahiran dari inseminasi buatan. (Dok. Radar Bromo)

Related Post

BANGIL, Radar Bromo – Sampai tutup tahun 2019 lalu, Dinas Peternakan mencatat ada tambahan 32 ribu hewan ternak dari proses kebuntingan Inseminasi Buatan (IB). Jumlah ini jauh lebih tinggi dari hasil kelahiran IB tahun 2018 yang hanya mencapai 27 ribu sapi.

Irianto, kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan melalui Ari Widodo, kabid Produksi mengatakan, pemerintah memang menggalakkan untuk memperbanyak populasi sapi. Lewat program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) diharapkan populasi sapi bisa bertambah sehingga ada swasembada daging.

“Selain ada puluhan ribu sapi betina yang kami suntik IB, Dinas Peternakan juga mencatat jumlah sapi yang berhasil bunting dan berhasil melahirkan,” terangnya.

Tercatat di tahun 2019 lalu tingkat keberhasilan sapi betina yang bunting setelah disuntik IB mencapai 70 persen. Dari jumlah tersebut, yang berhasil lahir mencapai 80 persen. Tapi, tak semua yang bunting berhasil melahirkan. Ini, lantaran ada yang keguguran sehingga tidak sampai melahirkan.

Untuk sapi yang lahir tahun 2019 ini adalah sebagian hasil suntik IB di tahun 2018 lalu dan pada awal tahun 2019. “Ini lantaran proses bunting untuk sapi membutuhkan waktu 9 bulan, sehingga yang lahir pada semester pertama tahun 2019 ini adalah hasil suntik dari pertengahan tahun 2018 lalu,” terangnya.

Sedangkan yang lahir di akhir tahun 2019 adalah yang disuntik pada awal tahun 2019 lalu. “Sementara yang disuntik di akhir 2019 ini, nantinya akan dipantau lagi dan kelahiran masuk data pada tahun 2020 ini,” terangnya.

Tercatat sepanjang tahun 2019, jumlah sapi betina yang berhasil melahirkan dari program IB mencapai 32 ribu sapi. Jumlah ini memang lebih tinggi dari data tahun 2018 yang hanya sebesar 27 ribu. “Untuk tahun 2018 lalu jumlahnya memang cenderung kecil karena tahun tersebut tak semua peternak melaporkan jika ada sapi yang berhasil lahir dari program IB. Sedangkan tahun 2019 lebih kita intensifkan untuk pendataan,” terangnya.

Dengan banyaknya sapi yang lahir dari program IB ini akan menambah populasi sapi ternak, baik yang dari kebuntingan normal ataupun kebuntingan dengan program inseminasi. (eka/fun)