alexametrics
30.6 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Diguyur Hujan 9 Jam, Belasan Desa di Kab Pasuruan Banjir

BANGIL, Radar Bromo – Hujan deras yang berlangsung selama sembilan jam, membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan kebanjiran. Hujan deras juga menyebabkan dua pohon tumbang serta rumah roboh.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Tectona Jati menyampaikan, banjir melanda 15 desa dan 4 kelurahan di 7 kecamatan. Meliputi Bangil, Rembang, Kraton, Winongan, Grati, Rejoso dan Beji. “Rata-rata ketinggian air 20 cm hingga 80 cm,” jelas Tecto-sapaannya.

Di Bangil, banjir terjadi dua desa dan empat kelurahan. Selain Desa Masangan, juga Tambakan. Sementara empat kelurahan yang kebanjiran yaitu, Kauman, Kalirejo, Kalianyar dan Latek.

Lalu banjir di Kecamatan Rembang, terjadi di Desa Rembang. Sementara di Kraton, ada empat desa yang kebanjiran. Selain Desa Tambakrejo, ada Bendungan, Selotambak dan Sidogiri.

Sementara banjir di Kecamatan Winongan, terjadi di Desa Prodo dan Jetis. Dan untuk Kecamatan Beji, banjir terjadi di Kedungringin dan Kedungboto.

TINGGI: Warga Sadengrejo di Rejoso di poskamling yang sekitarnya tergenang air. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan, banjir membuat aktivitas masyarakat sempat lumpuh selama 16 jam. Sebelum banjir, hujan mengguyur sejak pukul 16.00. Dan semakin lama, intensitasnya semakin tinggi.

Lalu sekitar pukul 19.00, air sungai meluap dan mulai menggenangi permukiman. Puncaknya, pukul 21.00 banjir mencapai ketinggian 60 sentimeter hingga 1,5 meter.

Sejumlah wilayah pun terendam. Di antaranya adalah Desa Kedawung Wetan dan Desa Kedawung Kulon di Kecamatan Grati.

Lalu di Kecamatan Rejoso, banjir terjadi di Desa Rejoso Lor, Arjosari, Patuguran, Kedungbako, Toyaning, Kawisrejo dan Desa Sadengrejo. Namun yang paling parah melanda Desa Sadengrejo. Ketinggian air di sini mencapai 1 meter – 1,5 meter.

Tecto menambahkan, banjir terjadi imbas hujan deras dengan frekuensi cukup lama. Tercatat, hujan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 21.00. Derasnya hujan tersebut, diperparah dengan sumbatan-sumbatan saluran air. Akibatnya, air tak bisa mengalir lancar dan meluap ke permukiman serta jalan.

“Hujan berlangsung dengan durasi panjang dan terjadi merata di wilayah Kabupaten Pasuruan,” sambungnya.

Hujan tidak hanya menyebabkan banjir. Namun, juga membuat pohon tumbang dan satu rumah roboh.

“Pohon tumbang terjadi di Kecamatan Rembang dan Kraton. Sementara rumah roboh, laporan yang kami dapat terjadi di Kecamatan Winongan,” sampainya.

Meski begitu, evakuasi tidak dilakukan terhadap warga. Sebab, banjir tidak berlangsung lama. “Pantauan terkahir tadi (kemarin, red) air mulai surut,” tutup dia.

Tokoh masyarakat Desa Sadengrejo, Hudan Daldiri mengungkapkan, banjir awal di musim penghujan ini merupakan yang terparah. Tahun lalu, banjir tidak pernah mencapai Dusun Bantengan yang berada di timur kantor desa setempat.

Namun, tahun ini seluruh dusun di Desa Sadengrejo terendam. Dan yang terparah Dusun Selunglung dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.

“Warga memilih berdiam diri di rumah. Karena ketinggian air mencapai perut orang dewasa. Mau keluar tidak bisa. Kendaraan juga tidak bisa lewat. Cuma tidak ada yang sampai dievakuasi karena sakit,”ungkapnya.

Hudan menduga, parahnya banjir disebabkan terjadi pendangkalan di Sungai Sadeng. Sehingga, air tidak bisa mengalir sempurna. Karena itu, pihaknya berharap dinas segera mengeruk sungai agar banjir bisa diminimalisir. Apalagi, musim penghujan baru dimulai.

“Banjir belum pernah separah ini. Biasanya dzhur sudah surut. Ini baru jam 15.00 surut. Kurang lebih 16 jam desa kami terendam. Dan banjir ini merata. Kalau hujan deras dengan intesitas lama terjadi lagi, tidak menutup kemungkinan banjir kembali menerjang,”sebut Hudan.

Tecto menjelaskan. banjir yang melanda wilayah Pasuruan disebabkan karena intensitas hujan yang merata dan tinggi dari hulu ke hilir. Akibatnya, sungai tidak bisa menampung aliran air dan meluap ke permukiman.

BPBD sendiri bakal berkoordinasi dengan desa terdampak untuk memberikan pemahaman soal tanggap bencana. Sehingga saat ada warga yang perlu dievakuasi bisa ditangani tanpa menunggu petugas.

“Sungai Rejoso tidak mampu menampung aliran air karena debit air yang tinggi. Sehingga wilayah Rejoso yang lebih rendah dari permukaan sungai terendam. Kami sendiri terus mengusulkan ke Pemprov agar dilakukan pengerukan,” sebut Tecto. (one/riz/fun)

BANGIL, Radar Bromo – Hujan deras yang berlangsung selama sembilan jam, membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan kebanjiran. Hujan deras juga menyebabkan dua pohon tumbang serta rumah roboh.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Tectona Jati menyampaikan, banjir melanda 15 desa dan 4 kelurahan di 7 kecamatan. Meliputi Bangil, Rembang, Kraton, Winongan, Grati, Rejoso dan Beji. “Rata-rata ketinggian air 20 cm hingga 80 cm,” jelas Tecto-sapaannya.

Di Bangil, banjir terjadi dua desa dan empat kelurahan. Selain Desa Masangan, juga Tambakan. Sementara empat kelurahan yang kebanjiran yaitu, Kauman, Kalirejo, Kalianyar dan Latek.

Lalu banjir di Kecamatan Rembang, terjadi di Desa Rembang. Sementara di Kraton, ada empat desa yang kebanjiran. Selain Desa Tambakrejo, ada Bendungan, Selotambak dan Sidogiri.

Sementara banjir di Kecamatan Winongan, terjadi di Desa Prodo dan Jetis. Dan untuk Kecamatan Beji, banjir terjadi di Kedungringin dan Kedungboto.

TINGGI: Warga Sadengrejo di Rejoso di poskamling yang sekitarnya tergenang air. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan, banjir membuat aktivitas masyarakat sempat lumpuh selama 16 jam. Sebelum banjir, hujan mengguyur sejak pukul 16.00. Dan semakin lama, intensitasnya semakin tinggi.

Lalu sekitar pukul 19.00, air sungai meluap dan mulai menggenangi permukiman. Puncaknya, pukul 21.00 banjir mencapai ketinggian 60 sentimeter hingga 1,5 meter.

Sejumlah wilayah pun terendam. Di antaranya adalah Desa Kedawung Wetan dan Desa Kedawung Kulon di Kecamatan Grati.

Lalu di Kecamatan Rejoso, banjir terjadi di Desa Rejoso Lor, Arjosari, Patuguran, Kedungbako, Toyaning, Kawisrejo dan Desa Sadengrejo. Namun yang paling parah melanda Desa Sadengrejo. Ketinggian air di sini mencapai 1 meter – 1,5 meter.

Tecto menambahkan, banjir terjadi imbas hujan deras dengan frekuensi cukup lama. Tercatat, hujan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 21.00. Derasnya hujan tersebut, diperparah dengan sumbatan-sumbatan saluran air. Akibatnya, air tak bisa mengalir lancar dan meluap ke permukiman serta jalan.

“Hujan berlangsung dengan durasi panjang dan terjadi merata di wilayah Kabupaten Pasuruan,” sambungnya.

Hujan tidak hanya menyebabkan banjir. Namun, juga membuat pohon tumbang dan satu rumah roboh.

“Pohon tumbang terjadi di Kecamatan Rembang dan Kraton. Sementara rumah roboh, laporan yang kami dapat terjadi di Kecamatan Winongan,” sampainya.

Meski begitu, evakuasi tidak dilakukan terhadap warga. Sebab, banjir tidak berlangsung lama. “Pantauan terkahir tadi (kemarin, red) air mulai surut,” tutup dia.

Tokoh masyarakat Desa Sadengrejo, Hudan Daldiri mengungkapkan, banjir awal di musim penghujan ini merupakan yang terparah. Tahun lalu, banjir tidak pernah mencapai Dusun Bantengan yang berada di timur kantor desa setempat.

Namun, tahun ini seluruh dusun di Desa Sadengrejo terendam. Dan yang terparah Dusun Selunglung dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.

“Warga memilih berdiam diri di rumah. Karena ketinggian air mencapai perut orang dewasa. Mau keluar tidak bisa. Kendaraan juga tidak bisa lewat. Cuma tidak ada yang sampai dievakuasi karena sakit,”ungkapnya.

Hudan menduga, parahnya banjir disebabkan terjadi pendangkalan di Sungai Sadeng. Sehingga, air tidak bisa mengalir sempurna. Karena itu, pihaknya berharap dinas segera mengeruk sungai agar banjir bisa diminimalisir. Apalagi, musim penghujan baru dimulai.

“Banjir belum pernah separah ini. Biasanya dzhur sudah surut. Ini baru jam 15.00 surut. Kurang lebih 16 jam desa kami terendam. Dan banjir ini merata. Kalau hujan deras dengan intesitas lama terjadi lagi, tidak menutup kemungkinan banjir kembali menerjang,”sebut Hudan.

Tecto menjelaskan. banjir yang melanda wilayah Pasuruan disebabkan karena intensitas hujan yang merata dan tinggi dari hulu ke hilir. Akibatnya, sungai tidak bisa menampung aliran air dan meluap ke permukiman.

BPBD sendiri bakal berkoordinasi dengan desa terdampak untuk memberikan pemahaman soal tanggap bencana. Sehingga saat ada warga yang perlu dievakuasi bisa ditangani tanpa menunggu petugas.

“Sungai Rejoso tidak mampu menampung aliran air karena debit air yang tinggi. Sehingga wilayah Rejoso yang lebih rendah dari permukaan sungai terendam. Kami sendiri terus mengusulkan ke Pemprov agar dilakukan pengerukan,” sebut Tecto. (one/riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/