alexametrics
32C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Di Kota Pasokan Cabai Rawit Minim, Harganya Juga Selangit

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PURWOREJO, Radar Bromo – Setelah sempat mengalami lonjakan harga, komoditas cabai rawit di pasar tradisional Kota Pasuruan sedikit. Bahkan beberapa pedagang di pasar tradisional, menyebut terjadi kekosongan. Kondisi itu terjadi lantaran minimnya pasokan dari penyuplai. Di musim hujan, petani cabai kerap mengalami gagal panen.

Seorang pedagang, Khoirun Nikmah mengakui, jika pasokan cabai belakangan ini terus menipis. Di sisi lain, harga jual cabai juga tak mengalami penurunan. Jika dalam kondisi normal cabai rawit dihargai Rp 20 hingga Rp 35 ribu per kilogram, kini tembus Rp 100 ribu.

“Kalau musim hujan begini memang cepat busuk. Makanya saya mau kulak juga mikir-mikir,” kata Nikmah.

Sekitar empat hari terakhir, tidak ada lagi pasokan cabai rawit merah. Nikmah hanya menjual cabai hijau untuk memenuhi kebutuhan konsumen. “Untuk cabai rawit merah sudah nggak kulak lagi karena mahal,” ujarnya.

Di samping itu, daya beli konsumen juga menjadi pertimbangan bagi Nikmah sehingga ia memilih tak mengkulak cabai rawit merah untuk sementara waktu. “Lha sekarang Rp 2 ribu cuma dapat enam biji. Jadi penjualannya lama, terburu busuk,” jelasnya.

Sementara itu, Yusuf yang biasanya menyuplai komoditas holtikultura juga mengaku pasokan cabai dari petani jauh berkurang. Sebelumnya, ia bisa memasok cabai rawit merah hingga 1 kuintal atau lebih. “Sekarang dari petani Probolinggo hanya 30 kilogram,” kata Yusuf.

Di Pasar Kebonagung, dia memasok cabai rawit merah untuk sembilan pedagang. Masing-masing pedagang kini hanya dipasok sekitar 2,5 kilogram. “Jadi asal ada yang dijual saja sekarang. Karena pedagang juga nggak nututi untuk dijual,” beber Yusuf.

Kabid Perdagangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan Edy Trisulo Yudo mengaku, sudah mengetahui kondisi itu. Setiap hari pihaknya juga memantau persediaan dan harga komoditas bahan pokok di pasar. “Jadi ini hampir terjadi di semua pasar. Kami juga sudah melaporkan ke Pemprov,” kata Edy.

Di samping itu, Edy juga mengatakan telah berkomunikasi dengan petani cabai yang memasok komoditas di Pasuruan. Sebab dikhawatirkan kekosongan persediaan komoditas diakibatkan permainan harga dari tengkulak.

“Sudah kami cek juga ke petani. Memang karena cuaca, sehingga hasil panen kurang bagus. Bahkan ada petani yang gagal panen,” kata Edy.

Edy belum bisa memperkirakan sampai kapan kondisi itu berlangsung. Pihaknya hanya melaporkannya ke Pemprov Jawa Timur. “Jadi menunggu perintah dari provinsi. Kalau ada kenaikan signifikan memang biasanya ada operasi pasar. Tapi ini kan kondisinya berbeda, karena faktor cuaca,” pungkasnya. (tom/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

PURWOREJO, Radar Bromo – Setelah sempat mengalami lonjakan harga, komoditas cabai rawit di pasar tradisional Kota Pasuruan sedikit. Bahkan beberapa pedagang di pasar tradisional, menyebut terjadi kekosongan. Kondisi itu terjadi lantaran minimnya pasokan dari penyuplai. Di musim hujan, petani cabai kerap mengalami gagal panen.

Seorang pedagang, Khoirun Nikmah mengakui, jika pasokan cabai belakangan ini terus menipis. Di sisi lain, harga jual cabai juga tak mengalami penurunan. Jika dalam kondisi normal cabai rawit dihargai Rp 20 hingga Rp 35 ribu per kilogram, kini tembus Rp 100 ribu.

“Kalau musim hujan begini memang cepat busuk. Makanya saya mau kulak juga mikir-mikir,” kata Nikmah.

Mobile_AP_Half Page

Sekitar empat hari terakhir, tidak ada lagi pasokan cabai rawit merah. Nikmah hanya menjual cabai hijau untuk memenuhi kebutuhan konsumen. “Untuk cabai rawit merah sudah nggak kulak lagi karena mahal,” ujarnya.

Di samping itu, daya beli konsumen juga menjadi pertimbangan bagi Nikmah sehingga ia memilih tak mengkulak cabai rawit merah untuk sementara waktu. “Lha sekarang Rp 2 ribu cuma dapat enam biji. Jadi penjualannya lama, terburu busuk,” jelasnya.

Sementara itu, Yusuf yang biasanya menyuplai komoditas holtikultura juga mengaku pasokan cabai dari petani jauh berkurang. Sebelumnya, ia bisa memasok cabai rawit merah hingga 1 kuintal atau lebih. “Sekarang dari petani Probolinggo hanya 30 kilogram,” kata Yusuf.

Di Pasar Kebonagung, dia memasok cabai rawit merah untuk sembilan pedagang. Masing-masing pedagang kini hanya dipasok sekitar 2,5 kilogram. “Jadi asal ada yang dijual saja sekarang. Karena pedagang juga nggak nututi untuk dijual,” beber Yusuf.

Kabid Perdagangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan Edy Trisulo Yudo mengaku, sudah mengetahui kondisi itu. Setiap hari pihaknya juga memantau persediaan dan harga komoditas bahan pokok di pasar. “Jadi ini hampir terjadi di semua pasar. Kami juga sudah melaporkan ke Pemprov,” kata Edy.

Di samping itu, Edy juga mengatakan telah berkomunikasi dengan petani cabai yang memasok komoditas di Pasuruan. Sebab dikhawatirkan kekosongan persediaan komoditas diakibatkan permainan harga dari tengkulak.

“Sudah kami cek juga ke petani. Memang karena cuaca, sehingga hasil panen kurang bagus. Bahkan ada petani yang gagal panen,” kata Edy.

Edy belum bisa memperkirakan sampai kapan kondisi itu berlangsung. Pihaknya hanya melaporkannya ke Pemprov Jawa Timur. “Jadi menunggu perintah dari provinsi. Kalau ada kenaikan signifikan memang biasanya ada operasi pasar. Tapi ini kan kondisinya berbeda, karena faktor cuaca,” pungkasnya. (tom/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2