alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

E-Tilang di Kota Pasuruan Butuh Dana Besar, Satu Titik Rp 800 Juta

GADINGREJO, Radar Bromo – Rencana Polri memberlakukan e-Tilang bagi pelanggaran lalu lintas (lintas) ikut direspons Satlantas Polres Pasuruan Kota. Pemberlakuan e-Tilang ini dipastikan menyedot anggaran yang tidak sedikit. Terutama untuk mendukung infrastrukturnya.

Satlantas Polres Pasuruan Kota sudah mulai melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) setempat, Senin (1/2). Tujuannya untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana (sarpeas) agar bisa terkoneksi dengan sistem.

Kanit dikyasa Satlantas Polres Pasuruan Kota, Aipda Breni Raharjo mengungkapkan, pihaknya berencana memberlakukan e-Tilang sesuai keinginan Polri. Namun, diperlukan Closed Circuit Television (CCTV) jenis Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) untuk menunjang keinginan tersebut.

Jenis CCTV ini memiliki resolusi tinggi. Bahkan jenis inilah yang digunakan kota besar seperti Surabaya. Jenis CCTV ini bisa meng-capture hingga tembus ke kaca mobil, sehingga akan diketahui pengendaranya. Termasuk wajah para pelanggar yang bisa terlihat jelas.

BAHAS CCTV: Koordinasi Satlantas Polres Pasuruan Kota dengan Dishub untuk meninjau kesiapan sarana dan prasarana CCTV di jalan perkotaan, Senin (1/2) pagi. (Foto: Satlantas Polres Pasuruan Kota for Jawa Pos Radar Bromo)

Sementara di Kota Pasuruan, sistem CCTV yang dimiliki pemkot berbeda. Saat ini sistem CCTV yang dimiliki oleh Pemkot itu adalah area traffic control system (ATCS). Sehingga tidak bisa menunjang program CCTV ETLE. CCTV untul ATCS hanya bisa ditujukan untuk mengamati arus lalu lintas.

Dalam koordinasi tersebut, Dishub berjanji akan menyampaikan pada pemkot terlebih dahulu terkait hal ini. Apalagi kesiapan sarpras membutuhkan biaya tidak sedikit.

“Ini untuk memantau pelanggaran melalui CCTV. Sehingga personel Satlantas tidak perlu menilang secara manual. Guna menghindari kontak langsung antara polantas dengan para pelanggar, dan menghindari penyelewengan kewenangan,” ungkap Breni.

Kabid Lalu Lintas (Lalin) pada Dishub Kota Pasuruan, Andriyanto menjelaskan, pihaknya sudah mendengar penjelasan dari Satlantas Polres Pasuruan Kota. Dishub siap mendukung rencana ini, namun tetap akan menyampaikan terlebih dahulu pada wali kota karena sistem CCTV yang ada saat ini harus diubah dahulu.

“Butuh anggaran yang tidak sedikit untuk merubah CCTV ATCS menjadi CCTV ETLE. Apalagi kami punya 15 CCTV. Perkiraan satu titiknya bisa membutuhkan sekitar Rp 800 juta,” sebut Andri.

Belasan titik ini mayoritas di persimpangan jalan yang padat dilalui kendaraan. Jelas butuh anggaran miliaran rupiah untuk merealisasikannya. (riz/fun)

GADINGREJO, Radar Bromo – Rencana Polri memberlakukan e-Tilang bagi pelanggaran lalu lintas (lintas) ikut direspons Satlantas Polres Pasuruan Kota. Pemberlakuan e-Tilang ini dipastikan menyedot anggaran yang tidak sedikit. Terutama untuk mendukung infrastrukturnya.

Satlantas Polres Pasuruan Kota sudah mulai melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) setempat, Senin (1/2). Tujuannya untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana (sarpeas) agar bisa terkoneksi dengan sistem.

Kanit dikyasa Satlantas Polres Pasuruan Kota, Aipda Breni Raharjo mengungkapkan, pihaknya berencana memberlakukan e-Tilang sesuai keinginan Polri. Namun, diperlukan Closed Circuit Television (CCTV) jenis Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) untuk menunjang keinginan tersebut.

Jenis CCTV ini memiliki resolusi tinggi. Bahkan jenis inilah yang digunakan kota besar seperti Surabaya. Jenis CCTV ini bisa meng-capture hingga tembus ke kaca mobil, sehingga akan diketahui pengendaranya. Termasuk wajah para pelanggar yang bisa terlihat jelas.

BAHAS CCTV: Koordinasi Satlantas Polres Pasuruan Kota dengan Dishub untuk meninjau kesiapan sarana dan prasarana CCTV di jalan perkotaan, Senin (1/2) pagi. (Foto: Satlantas Polres Pasuruan Kota for Jawa Pos Radar Bromo)

Sementara di Kota Pasuruan, sistem CCTV yang dimiliki pemkot berbeda. Saat ini sistem CCTV yang dimiliki oleh Pemkot itu adalah area traffic control system (ATCS). Sehingga tidak bisa menunjang program CCTV ETLE. CCTV untul ATCS hanya bisa ditujukan untuk mengamati arus lalu lintas.

Dalam koordinasi tersebut, Dishub berjanji akan menyampaikan pada pemkot terlebih dahulu terkait hal ini. Apalagi kesiapan sarpras membutuhkan biaya tidak sedikit.

“Ini untuk memantau pelanggaran melalui CCTV. Sehingga personel Satlantas tidak perlu menilang secara manual. Guna menghindari kontak langsung antara polantas dengan para pelanggar, dan menghindari penyelewengan kewenangan,” ungkap Breni.

Kabid Lalu Lintas (Lalin) pada Dishub Kota Pasuruan, Andriyanto menjelaskan, pihaknya sudah mendengar penjelasan dari Satlantas Polres Pasuruan Kota. Dishub siap mendukung rencana ini, namun tetap akan menyampaikan terlebih dahulu pada wali kota karena sistem CCTV yang ada saat ini harus diubah dahulu.

“Butuh anggaran yang tidak sedikit untuk merubah CCTV ATCS menjadi CCTV ETLE. Apalagi kami punya 15 CCTV. Perkiraan satu titiknya bisa membutuhkan sekitar Rp 800 juta,” sebut Andri.

Belasan titik ini mayoritas di persimpangan jalan yang padat dilalui kendaraan. Jelas butuh anggaran miliaran rupiah untuk merealisasikannya. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/