alexametrics
26.8 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Setahun Catat 11 Kasus Angka Kekerasan Terhadap Anak

PASURUAN, Radar Bromo – Belasan kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Pasuruan sepanjang tahun 2020. Sebagian besar ialah bentuk kekerasan seksual. Pelakunya kebanyakan orang terdekat dari korban.

Kabid Perlindungan Anak di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Pasuruan, Agus Wibowo menerangkan, kekerasan seksual mendominasi sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak di Kota Pasuruan. Rata-rata pelakunya ialah orang-orang yang tidak jauh dari lingkungan korban sendiri.

“Pelaku kekerasan terhadap anak bukan orang luar, tapi orang-orang terdekat si anak sendiri. Bisa teman, bahkan keluarga,” kata Agus.

Menurut Agus, korban kekerasan seksual lebih banyak terjadi pada anak perempuan. Bahkan, salah satu kasus menyebabkan korban yang masih berstatus pelajar, hamil di luar ikatan pernikahan. Kasus itu akhirnya diproses ke ranah hukum. “Pelakunya sudah diproses oleh kepolisian,” tambahnya.

Pihaknya juga memberikan pendampingan penuh pada setiap kasus yang terjadi. Hal itu meliputi pendampingan saat visum, pendampingan hukum maupun perawatan dan penanganan psikologi korban. Sebab, kekerasan terhadap anak memang diperlukan pendekatan khusus.

Pihaknya juga merencanakan program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Terpadu (PATBM) di setiap kelurahan. Program itu bertujuan agar kasus kekerasan terhadap anak bisa terdeteksi lebih cepat. Namun program itu tertunda karena pergeseran anggaran untuk penanganan Covid-19.

“Sehingga baru akan dilaksanakan mulai tahun depan. Tahun depan juga ada program Pusat Pembelajaran Keluarga. Karena keluarga berperan penting untuk membentengi anak-anak,” tandasnya. (tom/fun)

PASURUAN, Radar Bromo – Belasan kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Pasuruan sepanjang tahun 2020. Sebagian besar ialah bentuk kekerasan seksual. Pelakunya kebanyakan orang terdekat dari korban.

Kabid Perlindungan Anak di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Pasuruan, Agus Wibowo menerangkan, kekerasan seksual mendominasi sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak di Kota Pasuruan. Rata-rata pelakunya ialah orang-orang yang tidak jauh dari lingkungan korban sendiri.

“Pelaku kekerasan terhadap anak bukan orang luar, tapi orang-orang terdekat si anak sendiri. Bisa teman, bahkan keluarga,” kata Agus.

Menurut Agus, korban kekerasan seksual lebih banyak terjadi pada anak perempuan. Bahkan, salah satu kasus menyebabkan korban yang masih berstatus pelajar, hamil di luar ikatan pernikahan. Kasus itu akhirnya diproses ke ranah hukum. “Pelakunya sudah diproses oleh kepolisian,” tambahnya.

Pihaknya juga memberikan pendampingan penuh pada setiap kasus yang terjadi. Hal itu meliputi pendampingan saat visum, pendampingan hukum maupun perawatan dan penanganan psikologi korban. Sebab, kekerasan terhadap anak memang diperlukan pendekatan khusus.

Pihaknya juga merencanakan program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Terpadu (PATBM) di setiap kelurahan. Program itu bertujuan agar kasus kekerasan terhadap anak bisa terdeteksi lebih cepat. Namun program itu tertunda karena pergeseran anggaran untuk penanganan Covid-19.

“Sehingga baru akan dilaksanakan mulai tahun depan. Tahun depan juga ada program Pusat Pembelajaran Keluarga. Karena keluarga berperan penting untuk membentengi anak-anak,” tandasnya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/