Insentif Guru TPQ dan RA di Kab Pasuruan Gagal Naik karena Anggaran Dialihkan

BANGIL, Radar Bromo – Bukan hanya guru TPQ dan RA yang gagal mendapat kenaikan insentif. Ribuan ustad dan ustadah yang mengajar di Madrasah Diniyah (Madin) di Kabupaten Pasuruan, harus merasakan hal yang sama.

Harapan mereka untuk mendapatkan kenaikan insentif, akhirnya sirna. Pemkab Pasuruan membatalkan kenaikan insentif untuk ribuan guru madin lantaran tidak ada anggaran.

Kepala Bidang Pergurag di Dispendik Kabupaten Pasuruan M. Yusuf menjelaskan, pandemi korona membuat Pemkab Pasuruan harus memangkas sejumlah anggaran yang disiapkan sebelumnya. Tak terkecuali anggaran untuk kenaikan insentif guru Madin.

Selama ini, sebanyak 5 ribu guru madin mendapatkan insentif sebesar Rp 100 ribu per bulan. Untuk itu, pemkab harus menggelontorkan dana hingga Rp 6 miliar setahun.

Tahun ini, pemkab menganggarkan kenaikan insentif untuk guru madin. Besaran kenaikannya, lipat dua dari sebelumnya. Atau menjadi Rp 200 ribu per bulan untuk setiap orang. “Sehingga, kebutuhan anggarannya mencapai Rp 12 miliar,” sampainya.

Namun, rencana kenaikan tersebut akhirnya dibatalkan. Insentif untuk guru madin batal dinaikkan. Sebab, sebagian anggarannya harus dialihkan untuk pencegahan dan penanganan korona.

“Kami tidak bisa menaikkan insentif guru Madin karena kebijakan refocusing anggaran. Kami berharap mereka bisa bersabar dan memahaminya,” imbuhnya. (one/hn/fun)