alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Saturday, 25 September 2021

Aksi Teatrikal Ditagih Utang, Dampak Langgar Prokes dan PPKM Darurat

GEMPOL, Radar Bromo – Lelaki berambut pelontos itu dicegat empat orang tidak dikenal, Rabu (28/7). Mereka mengaku sebagai petugas penagihan listrik, bank, leasing, sampai pajak. Untung ada ”polisi”, sehingga dia tidak sampai dipukuli.

Suasana itu menjadi refleksi betapa sulitnya menjadi pengusaha dalam masa pandemi ini. Pria pelontos itu bernama Henry Sulfianto. Dia mengaku sengaja melakukan aksi teaterikal sebagai ungkapan keprihatinan atas kondisi sekarang.

Pengusaha semakin terpuruk. Gara-gara kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan rendah, pandemi tidak kunjung berakhir. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pun terus diperpanjang.

”Aksi treatikal ini mengimbau masyarakat agar patuh dan taat prokes. Agar kasus Covid-19 turun dan berakhir. Tidak ada lagi namanya perpanjangan PPKM,” ujar pria yang kerap dipanggil Ki Demang ini.

Henry mengawali aksi teatrikalnya dari bundaran Gempol. Celananya sobek-sobek. Pakai jas dan sepatu. Disinfektan tergenggam di tangan. Sepanjang jalan dia mengingatkan orang agar memakai masker.

Dia berjalan kaki ke arah Dusun Tempel, Desa Legok, Kecamatan Gempol. Di sanalah selama ini dia membuka kafe. Usahanya itu tutup sejak 3 Juli, saat PPKM Darurat dimulai. Sepi. Tidak ada penghasilan. Pegawai pun diliburkan.

Lalu, empat orang tiba-tiba muncul. Mereka berperan sebagai tukang tagih tunggakan listrik, kredit kendaraan, pajak, sampai utang bank. Henry tidak bisa membayar. Sekaligus tak mampu menghindar. Dalam kondisinya yang terjepit, datanglah dua orang polisi. Insiden itu pun dilerai. Dan, teatrikal berakhir.

Setelah aksi, Henry menyatakan, jika PPKM terus diperpanjang, kasihan para pelaku usaha. Termasuk dirinya yang membuka usaha kafe. Sejak PPKM, tidak ada pemasukan. Tak mampu membayar karyawan.

”Saya dukung PPKM. Tujuannya baik. Tentu masyarakat harus patuh dan taat prokes. Jika tidak, PPKM terus diperpanjang lagi. Kasihan para pelaku usaha. Masyarakat juga merasakan dampaknya,” ucapnya. Karena itu, dia mengajak masyarakat agar patuh aturan PPKM.

Kapolsek Gempol Kompol Kamran terlihat berada di lokasi aksi teatrikal. Dia tampak bersama sejumlah anggotanya. ”Patut diapresiasi aksi teatrikal ini sebagai edukasi. Fakta di lapangan memang seperti itu. Meskipun ada PPKM, masyarakat masih banyak yang tak patuh dan bahkan melanggar,” tuturnya. (zal/far)

GEMPOL, Radar Bromo – Lelaki berambut pelontos itu dicegat empat orang tidak dikenal, Rabu (28/7). Mereka mengaku sebagai petugas penagihan listrik, bank, leasing, sampai pajak. Untung ada ”polisi”, sehingga dia tidak sampai dipukuli.

Suasana itu menjadi refleksi betapa sulitnya menjadi pengusaha dalam masa pandemi ini. Pria pelontos itu bernama Henry Sulfianto. Dia mengaku sengaja melakukan aksi teaterikal sebagai ungkapan keprihatinan atas kondisi sekarang.

Pengusaha semakin terpuruk. Gara-gara kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan rendah, pandemi tidak kunjung berakhir. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pun terus diperpanjang.

”Aksi treatikal ini mengimbau masyarakat agar patuh dan taat prokes. Agar kasus Covid-19 turun dan berakhir. Tidak ada lagi namanya perpanjangan PPKM,” ujar pria yang kerap dipanggil Ki Demang ini.

Henry mengawali aksi teatrikalnya dari bundaran Gempol. Celananya sobek-sobek. Pakai jas dan sepatu. Disinfektan tergenggam di tangan. Sepanjang jalan dia mengingatkan orang agar memakai masker.

Dia berjalan kaki ke arah Dusun Tempel, Desa Legok, Kecamatan Gempol. Di sanalah selama ini dia membuka kafe. Usahanya itu tutup sejak 3 Juli, saat PPKM Darurat dimulai. Sepi. Tidak ada penghasilan. Pegawai pun diliburkan.

Lalu, empat orang tiba-tiba muncul. Mereka berperan sebagai tukang tagih tunggakan listrik, kredit kendaraan, pajak, sampai utang bank. Henry tidak bisa membayar. Sekaligus tak mampu menghindar. Dalam kondisinya yang terjepit, datanglah dua orang polisi. Insiden itu pun dilerai. Dan, teatrikal berakhir.

Setelah aksi, Henry menyatakan, jika PPKM terus diperpanjang, kasihan para pelaku usaha. Termasuk dirinya yang membuka usaha kafe. Sejak PPKM, tidak ada pemasukan. Tak mampu membayar karyawan.

”Saya dukung PPKM. Tujuannya baik. Tentu masyarakat harus patuh dan taat prokes. Jika tidak, PPKM terus diperpanjang lagi. Kasihan para pelaku usaha. Masyarakat juga merasakan dampaknya,” ucapnya. Karena itu, dia mengajak masyarakat agar patuh aturan PPKM.

Kapolsek Gempol Kompol Kamran terlihat berada di lokasi aksi teatrikal. Dia tampak bersama sejumlah anggotanya. ”Patut diapresiasi aksi teatrikal ini sebagai edukasi. Fakta di lapangan memang seperti itu. Meskipun ada PPKM, masyarakat masih banyak yang tak patuh dan bahkan melanggar,” tuturnya. (zal/far)

MOST READ

BERITA TERBARU